1 Nov 2012

Sampai kapan?



Sampai kapan? Sampai kapan kita dapat bertahan menyembunyikan perasaan ini di balik tembok perbedaan? Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Siapa yang akhirnya akan berteriak lebih dulu? Apakah kita terlalu pasrah menunggu tembok ini terkikis oleh air hujan?

Pertanyaanku, siapa yang menyebar benih ini di lahanku? Kau. Dan aku pun tanpa tahu membiarkan air hujan membuat benih ini tumbuh. Mungkin kau tak tahu itu. Atau.... tak mau tahu? Karena kau telah menanam bibit yang sama di lahan lain, kan? Aku berani bertaruh kau tak akan tega membunuh bibit itu. Dan tentu saja kau lebih memilih untuk membunuh bibit yang kau sebar di lahanku. Karena tak ada tembok yang memisahkan kau dengannya.

Aku akan terima itu. Aku siap menerima jatuh ataupun cintanya. Aku tak akan menyalahkanmu. Tak ada gunanya. Sudah terlanjur tumbuh. Dan aku hanya tinggal menunggu akankah air hujan membuatnya tumbuh dan hidup atau kemarau yang membuatnya kering dan mati. Hanya Tuhan yang tahu.

No comments :

Post a Comment