Skip to main content

(Teaser) RASA di balik BATAS



RASA di balik BATAS
oleh: Nia

      Perbedaan. Mengapa ia selalu dipermasalahkan? Mengapa ia selalu menjadi momok yang terasa asing dan begitu menakutkan? Mengapa ia selalu menjadi jurang yang sulit dijembatani? Bukankah Tuhan menciptakan perbedaan agar kita dapat saling memahami? Bukankah kita diciptakan berbeda untuk dapat saling melengkapi? Dan bukan untuk saling menghakimi?

            “Ya Allah… Salahkah aku mencintai orang yang menyebut namaMu dengan lafal yang berbeda?”

Alila bersimpuh di atas sajadah. Terlarut dalam doanya yang khusyuk di akhir shalat. Kedua tangannya diangkat sejajar pundak. Air mata sudah tak terbendung lagi. Kini dinding hatinya runtuh piuh. Ia menyesali ketidakberdayaannya  menahan bah cinta ini yang seharusnya  tak meluap.

            “Tuhan Yesus anak Allah yang bertahta di kerajaan surga. Engkau adalah pemilik kasih. Engkau yang menghendaki cinta ini tumbuh.“

            Brian tertunduk menghadap tanda kasih Tuhan yang menggantung di dinding kamarnya. Matanya terpejam. Kesepuluh jarinya bertautan.

            “Ya Allah… Jika dia baik untukku, maka dekatkanlah. Jika dia tak baik untukku maka jauhkanlah ia dariku. Sesungguhnya Engkau adalah Tuhan yang Maha Tahu dari apa yang tak aku ketahui.”

            Alila menaikkan kepalanya. Matanya menatap ke atas. Penuh harapan. Dengan sepenuh hati ia menyerahkan diri kepada Sang Ilahi. Di akhir ritual permohonannya kepada Sang Pemilik Hati, ia melafalkan doa keselamatan dunia akhirat dan mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Amin.

            “Ya Roh Kudus, Cahaya dan Kasih, kepada-Mu kupersembahkan hati, pikiran dan kehendakku, sekarang dan selamanya. Allah, Sang sumber cinta sejati. Tuntunlah aku untuk mencurahkan cinta ini  supaya aku mampu bangun dari kebimbangan.”

          Pagutan pada tangan Brian semakin erat. Nuraninya menggetarkan rindu yang beriak. Ia merasakan kehadiran Tuhan di dekatnya. Begitu dekat. Mendekapnya erat.

(to be continue)

Comments

Popular posts from this blog

Mall-Mall yg Dapat Dijangkau Dengan Commuter Line

“Murah dan nggak macet.”
Ini adalah prinsip gue dalam memilih sarana transportasi umum di Jakarta. Ke mana pun dan sejauh apapun jaraknya, selama bisa dijangkau dengan Commuter Line, gue akan selalu siap walau dalam kondisi apapun termasuk jika keadaan memaksa gue untuk pergi seorang diri. Ke kantor, ke kampus, ke terminal, ke pasar, atau pun ke rumah temen, gue akan selalu mencari stasiun terdekat dari tempat yang ingin gue tuju.

Kenalan sama ISI 2012 Yuk!

Tak kenal maka tak sayang.
Sebelum gue lanjutkan cerita trip gue ke MY – THAI Day 2, alangkah baiknya kalian baca ini dulu.
Di MY – THAI Trip Day I pasti kalian bertanya-tanya, siapa sih ISI 2012 itu? Siapa sih para penyabun itu? Siapa sih tim cewek-cewek? Siapa sih Sir Gufron? Siapa sih yang ngendarain kereta monorailnya?
Nah di sini gue bakal ngenalin apa dan siapa ISI 2012.

MY – THAI Trip Day 2, Welcome to Hat Yai!

Hai!
Udah penasaran banget sama cerita MY – THAI Trip hari keduanya? Udah penasaran banget gimana tingkah gue naik sleeper train? Udah penasaran banget gimana kesemutannya gue duduk di bangku kereta selama 12 jam? Udah penasaran banget sama orang-orang macam apa yang gue temuin di sleeper train? Udah penasaran banget sama larangan di sleeper train? Udah penasaran banget sama..... /plak Ini ditampar karena kelamaan.