1 Oct 2013

Segores Guratan Masa Lalu

Rasa di balik Batas
Oleh: Yunita Dwi Kurnia


Aku tertunduk sambil tersenyum sipu. Entahlah. Beberapa bulan yang lalu kini berlarian di benakku. Kesepuluh jariku berpagutan. Aku menghela nafas panjang dan mencoba menaikkan kepalaku. Dan aku…. mulai melayangkan pandanganku.

 Aku lihat itu. Pandangan lurus ke atas tanpa ekspresi sedikitpun tergambar di wajahnya. Aku telusuri matanya. Tak ada pelangi di sana. Hanya ada biru. Sama seperti keadaan langit sore ini. Bayangan sekawanan burung yang sedang bermigrasi tergambar di sana.

Kami duduk berdampingan. Aku di sebelah kirinya. Ia di sebelah kananku. Kami terlarut dalam diam. Hanya ada suara gesekkan dedaunan pohon yang disapa angin sore yang menemani. Panasnya lantai lapangan kampus bahkan tak mampu memaksa kami untuk memulai pembicaraan.

Ada apa? Padahal aku yakin perasaan itu sudah lama pergi. Tapi kenapa bibirku terasa berat untuk melontarkan sepatah kata pun? Hanya untuk memulai sebuah pembicaraan aku harus memutar otak. Memilih topik yang tepat. Rasanya aku tak perlu seperti ini. Tapi kenapa keadaan memaksaku untuk seperti ini?

Aku mulai merogoh saku celanaku setelah sesaat aku teringat sesuatu. Aku mencoba mengambilnya. Aku pikir mungkin ini dapat dijadikan sebagai topik pembicaraan.



“Milikmu...” ucapku setelah menghela nafas panjang.

Hanya gerakan kecil pada kepalanya yang aku dapat. Namun matanya mulai menerawang apa yang ada di atas telapak tanganku yang terbuka. Tanpa sepatah kata ia meraih dan mendaratkannya di telapak tangan kirinya sekarang.

“Ini….” Matanya yang sempit kali ini dalam keadaan setengah terbelalak. Bahkan aku tau matanya sekarang sama seperti setengah ukuran mataku.

“Kau meninggalkan itu di mejamu saat kelas Mr. Garry berakhir.” Jelasku.

Ia tertunduk dan senyum pun mulai tersimpul di sana, ”Terima kasih.”

Senyum itu, aku kenal. Aku tahu artinya. Sama seperti pertama kali ia menyapaku. Aku menyesal karena tak mampu mencari kata yang dapat mendeskripsikannya.

Aku memutuskan untuk mengalihkan pandanganku dari wajahnya. Aku tak mau seluruh syarafku mendadak berhenti berfungsi karena terlalu dalam menatap senyumnya. Aku mendongak. Menatap langit yang seakan memaksa ingatanku kembali memutar masa itu.

“Boleh ajari aku?” ia menghampiriku yang sedang sibuk melipat kertas.

Aku terdiam sebentar. Aku sedikit terkejut dengan kehadirannya yang menurutku….. tak biasa.

“Kenapa tidak?” ucapku sedikit tersenyum.

“Kertasnya?” ia menyentuh kertas post-it persegiku yang berwarna kuning.

“Ini… kau pegang ini. Warna biru cocok dengan auramu.” aku menyarankan seraya memberikan post-it warna biru padanya.

Aku senang. Kertasku disambut senyum sipunya.

Kami mulai melipat kertas bersama-sama. Aku menuntunnya pelan-pelan. Katanya, ia pernah mempelajari seni melipat kertas ini semasa duduk di bangku sekolah. Hanya sebagai mengisi waktu luang. Tapi karena sudah tak pernah melipat lagi, ingatan itu pun hilang terkikis waktu.

Siang itu memang sedang ada kelas. Bahkan presentasi dari teman kami sedang berjalan. Entah apa yang membuat kami nekad melanjutkan khursus kilat origami itu. Aku yakin bapak dosen tahu apa yang kami lakukan di kursi belakang. Namun beliau mungkin hanya tersenyum. Sebagai formalitas, aku pun juga menyempatkan diri untuk memperhatikan presentasi yang sedang berjalan. Walaupun hanya tiga empat detik dan tidak banyak yang dapat aku tangkap dari isi presentasi itu.

“Kalian ini… bukannya memperhatikan malah sibuk membuat burung kertas.” tegur Salsa. Ia menyelipkan tawa khasnya di akhir kalimat.

Kami tersenyum. Kemudian melanjutkan lipatan kami. Ia nampak serius dengan kertas dan tanganku yang menjadi titik fokusnya. Aku kembali tak bisa menahan senyumku yang mengembang melihat setiap apa yang ia lakukan. Walaupun aku selalu berusaha keras untuk mengendalikan emosiku saat di depannya, aku selalu gagal karena selalu terlihat seperti orang bodoh.

“Aura kuning itu memang tidak pandai menyembunyikan perasaannya.” Kata-kata Salsa tiba-tiba terngiang di telingaku. Ia mengatakan itu setelah aku bercerita kepadanya dan Rosa tentang perasaanku yang baru saja aku sadari saat itu. Dan aku terkejut karena mereka lebih dulu menyadarinya daripada aku.

Tak butuh waktu lama, kertas kami pun sudah berbentuk burung. Ia nampak puas. Terang saja, jelas sekali terlukis di wajahnya.

Ia berlalu setelah menyampaikan rasa terima kasihnya kepadaku. Aku masih sempat memperhatikannya. Ia memindahkan semua barangnya yang berserakan di meja tempat ia duduk semula ke kursi belakang. Kursinya dan kursiku kini berjarak satu saf dan dua banjar. Ia menjaga burung kertas itu di sisinya. Memandanginya dengan pandangan yang aku sendiri tak dapat menerjemahkannya.

Aku harap ia tak mampu menerawang beribu pertanyaan yang sedang melayang di otakku. Dan suara gaduh yang semarakan suasana hatiku setelah apa yang ia lakukan barusan. Meninggalkan tempat duduknya untuk menghampirku, memintaku mengajarinya, kemudian berlalu begitu saja. Semuanya mengacaukan rencana perasaanku yang seharusnya sudah mulai merelakan rasa ini pergi.

Kelas berakhir. Aku paling terakhir meninggalkan kelas karena aku harus merapihkan mejaku yang penuh dengan burung kertas. Ya. Saat moodku sedang buruk, aku selalu melipat kertas dan membentuknya menjadi burung.

“Alila…. Yuk pulang.” Salsa muncul dari ambang pintu.

“Oh iya sebentar aku bereskan ini dulu. Kamu bisa ke depan duluan sa, nanti aku menyusul.” balasku.

Setelah Salsa menghilang dari ambang pintu, burung-burung kertasku sudah berpindah tempat ke dalam tasku. Aku menyempatkan diri membetulkan tali sepatuku yang terlepas sebelum melangkahkan kaki keluar. Saat aku membungkuk, uang koin  yang aku letakan di saku t-shirtku terjatuh dan bergelinding bebas. Mereka berhenti di banyak tempat di bawah meja. Aku berjalan jongkok untuk mendapatkan mereka kembali. Satu, dua, tiga, aku mendapatkan mereka. Satu koin lagi. Aku tak mau kehilangannya karena jika aku tak mendapatkannya kembali, aku tidak bisa pulang.

Dapat! Dan sekarang aku bisa tenang karena aku bisa pulang. Aku beranjak dari posisi jongkokku dan…. mataku terhenti pada sesuatu. Ini…. Aku segera mengambil dan mangamankannya di saku celanaku dan berlalu meninggalkan kelas.

“Jadi kau menyimpan ini selama dua bulan?” pertanyaannya membawaku kembali.

Perlahan aku membuka mata. Menetralkan posisi kepalaku yang semula mendongak ke atas. Lagi-lagi sebuah senyum mengembang di wajahku.

“Itu tidak seberapa. Aku lebih lama menyimpan ini….” aku sengaja tak melanjutkan kalimatku.

“…tapi pada akhirnya aku menyerah. Aku….”

“Aku juga.” Ia memotong kalimatku dan kembali menatap langit sambil tersenyum.

“….aku tau itu. Aku tau apa yang kau rasakan selama ini.” lanjutnya.

Aku tersentak. Aku menatapnya. Mataku penuh dengan pertanyaan.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

Ia tersenyum getir, “Kau selalu menunjukkannya padaku.” tanpa aku duga ia mengusap kepalaku. Lebih tepatnya, mengacak-acak rambutku. Dan itu artinya.... dia tahu kelemahanku.

Jadi selama ini ia hanya diam dan pura-pura tak tahu tentang perasaanku? Jadi itu kelebihan dari orang yang memiliki aura biru? Tetap bersikap tenang walaupun menyimpan sesuatu. Ironi sekali dengan orang yang memiliki aura kuning sepertiku. Bahkan menahan diri untuk tidak menunjukkan apa yang aku rasakan saja sangat sulit. Miris melihat keadaan diriku yang seperti ini. Sepertinya aku tak berubah sedikit pun. Sampai detik ini aku selalu sukses menjadi korban pembohongan publik.

Hening.

Aku memeluk erat kedua kakiku. Dan menopangkan dagu pada kedua lututku. Ia masih tetap memandang burung kertasnya. Masih. Masih dalam pandangan mata yang sulit aku artikan. Langit memerah. Tirai senja penyambut malam telah tiba. Seakan mengucapkan sampai jumpa pada bintang raksasa.

“Kenapa saat itu kau menjauh dariku?” tanyanya dengan nada datar.

“Karena aku tahu kau sudah punya kekasih.”

Ya. Itu cukup membuatku terkejut. Setelah apa yang ia lakukan padaku saat kesan pertama bertemu. Ia adalah satu-satunya orang yang menyapaku di saat orang lain tidak menganggap aku ada. Ia selalu memandangku dari kursi belakang saat hari-hari pertama perkuliahan awal. Ia menawarkan apa yang aku butuhkan sejak dari bangku SMA, merooting androidku.

Bukan hanya itu saja. Ketika aku lupa meletakan handphoneku di kelas Mr. Charlie, ia salah satu orang yang membantuku. Bahkan ia lebih sibuk mencari daripada aku, sang pemilik handphone. Yang mampu membuat aku meleleh adalah dia tahu apa yang harus dia lakukan. Aku terlambat memintanya untuk memiscall handphoneku karena dia telah melakukannya sebelum aku pinta. Di saat aku malu bertanya pada mahasiswa lain di kantin, ia menghampiri mereka tanpa rasa takut dan bertanya apakah mereka melihat handphoneku atau tidak. Dan yang paling membuat aku terkejut, dia mengantarkan handphoneku sampai ke hadapanku.

Sebagai rasa terima kasihku atas tangan ringannya itu, aku membelikan ia satu bar coklat. Hanya sebagai tanda terima kasih. Dan aku harus memilih waktu yang tepat untuk memberikan coklat itu padanya. Aku tak ingin yang lain tahu.

Setelah kejadian itu, aku mulai menyadari rasa yang tak pernah aku harapkan. Aku mulai memperhatikannya. Aku ingin tau siapa dia. Sejujurnya aku belum pernah bertemu dengan laki-laki seperti dia. Dia tidak tampan. Dia tidak kaya. Dia hanya seorang laki-laki yang baik dengan pembawaan yang tenang. Dia adalah laki-laki yang lebih menunjukkan aksi nyata daripada sibuk berwacana. Dan sampai akhirnya, dada ini pun sesak sesaat setelah aku mengunjungi akun jejaring sosialnya.

In realitionship with….

Dunia seolah hitam. Kelam.
Aku merasa aku seorang gadis yang bodoh. Terlalu bodoh untuk menyimpulkan semua yang ia lakukan padaku adalah wujud rasa sukanya kepadaku. Mulai saat itu aku  memutuskan untuk menjauh. Aku selalu menghindar jika ia mendekat. Dan aku yakin ia merasakan perubahan pada diriku. Aku lihat dari pancaran matanya. Ia menjadi lebih pendiam. Auranya sedikit kelam. Biru pun berubah menjadi kelabu.

Aku tahu saat itu aku memang egois. Dan aku tahu cara yang aku ambil saat itu adalah salah. Rasa yang aku harapkan hilang ternyata malah tumbuh subur. Disaat aku kembali menyadari rasa itu, yang kudapat adalah jarak antara ia dan aku.

Setiap aku bangun untuk memperjuangkannya, kau selalu sukses membuatku menyerah. Kau menghindar, menjauh. Ketika aku sudah tak berniat memperjuangkannya, kau malah menawarkan harapan. Aku merasa seperti layangan. Dan kau sebagai penerbangnya yang dengan sesuka hati menarik-ulur perasaanku.

“Aku sadar perasaan itu salah. Aku takut. Aku takut jatuh terlalu dalam. Aku takut jika aku melanjutkan perasaan itu akan membuatku berpaling dari apa yang menjadi pedoman hidupku selama ini….” ujarku.

“Kau tidak salah. Begitu juga perasaaan itu. Aku yang salah. Aku yang terlalu bodoh menyimpan keraguan. Aku tak tahu kemana aku harus melangkah…..”

“Aku rasa kau tahu perasaanku yang sebenarnya. Aku menuangkannya di lembar jawaban kokologi waktu itu.” lanjutnya.

Aku terkejut. Terbelalak. Tak percaya.

Ternyata dia tulus menuliskan namaku dengan huruf kapital di nomor tiga. Nomor yang mempunyai makna kokologi, “Orang yang kau cintai.”. Ya. Saat Mr. Garry meminta kami memutar kertas jawaban kami, aku sempat melirik kertasnya. Dan aku mendapatkan namaku yang ditulis dalam huruf kapital di nomor 3. Aku kira itu hanya kebetulan. Ternyata….. lebih dari apa yang aku duga.

Aku terdiam. Mencerna apa yang barusan ia katakan. Dan sekarang aku tahu alasan di balik semua yang ia lakukan selama ini. Ia ragu. Ragu untuk memilih memperjuangkan perasaannya padaku dengan segala perbedaan yang ada, atau mempertahankan hubungannya yang sudah menginjak dua tahun dengan kekasihnya. Walaupun intensitas bertemu denganku lebih banyak dibanding dengan kekasihnya. Aku yakin rasa sayangnya kepada kekasihnya lebih besar.

Ia menurunkan telapak tangannya. Meletakkan burung kertas itu di sisi kirinya. Di tengah-tengah kami. Dan kembali menatap langit yang menyiram kami dengan gemerlap bintang.

“Maaf, aku menyembunyikan ini semua. Ini aku lakukan karena….”

“Kita beda. Dan perbedaan itu kuat.” sambarku. Aku tersenyum simpul.

“Aku juga minta maaf. Aku menyesal tidak menuliskan namamu di nomor tiga. Jadi aku menggantinya dengan nama yang lain.” Aku merasa bersalah karena saat itu aku terlalu mengutamakan gengsi daripada kejujuran.

“Kau tahu? Ada dua paradoks yang sedang kita alami. Pertama, kita sama tapi beda. Kedua, kita dekat tapi terpisah.”

Kami tersenyum bersama.
Aku meluruskan kakiku. Ikut memandang langit.

“Hmm… Aku dan mantan kekasihku sudah kembali bersama.” ujarnya dengan nada tidak enak.

“Aku tidak apa-apa. Kau tidak usah khawatir dengan perasaanku sekarang. Aku sudah membiarkan rasa itu pergi sejak lama. Sejak aku mulai putus asa menunggunya mati.” balasku.

Aku meraih kerikil kecil di dekat kami dan mulai menulis sesuatu di lantai lapangan.

“Alila&Gio were here.” Gio mendikte tulisanku.

Aku tersenyum. Semburat terlukis di wajahku dan Gio.

“Biarkan tulisan ini menjadi bukti bisu kita pernah di sini. Saling memendam perasaan karena adanya benteng di antara kita.”


Selesai.

No comments :

Post a Comment