Segores Guratan Masa Lalu

Rasa di balik Batas
Oleh: Yunita Dwi Kurnia


Aku tertunduk sambil tersenyum sipu. Entahlah. Beberapa bulan yang lalu kini berlarian di benakku. Kesepuluh jariku berpagutan. Aku menghela nafas panjang dan mencoba menaikkan kepalaku. Dan aku…. mulai melayangkan pandanganku.

 Aku lihat itu. Pandangan lurus ke atas tanpa ekspresi sedikitpun tergambar di wajahnya. Aku telusuri matanya. Tak ada pelangi di sana. Hanya ada biru. Sama seperti keadaan langit sore ini. Bayangan sekawanan burung yang sedang bermigrasi tergambar di sana.

Kami duduk berdampingan. Aku di sebelah kirinya. Ia di sebelah kananku. Kami terlarut dalam diam. Hanya ada suara gesekkan dedaunan pohon yang disapa angin sore yang menemani. Panasnya lantai lapangan kampus bahkan tak mampu memaksa kami untuk memulai pembicaraan.

Ada apa? Padahal aku yakin perasaan itu sudah lama pergi. Tapi kenapa bibirku terasa berat untuk melontarkan sepatah kata pun? Hanya untuk memulai sebuah pembicaraan aku harus memutar otak. Memilih topik yang tepat. Rasanya aku tak perlu seperti ini. Tapi kenapa keadaan memaksaku untuk seperti ini?

Aku mulai merogoh saku celanaku setelah sesaat aku teringat sesuatu. Aku mencoba mengambilnya. Aku pikir mungkin ini dapat dijadikan sebagai topik pembicaraan.