19 Dec 2013

Mas, apa kabar?



Hehehe.
Jangan pernah bosen baca blog gue ya teman-teman. Kali ini gue mau ngepost pengalaman lucu di Commuter Line. Iya, masih tetep di Commuter Line. Tetep. Setia. Fufufufufufu.

Sebelumnya, gue mau minta maaf banget sama si mas yang bersangkutan.

Jadi gini ceritanya, waktu itu gue pulang kuliah malem (lupa sekitar jam berapa). Nah, berhubung kereta ke Bogor masih lama nyampenya di Stasiun Tanah Abang, akhirnya gue naik kereta yang ke arah Manggarai dulu. Nanti turun di sana dan naik kereta ke Bogor yang dari Jakarta-Kota (yang bisa dibilang jumlah armadanya lebih banyak daripada kereta Bogor dari Jatinegara). Ketika kereta jurusan Manggarai dateng, gue masuk dan kebetulan dapet tempat duduk di gerbong belakang.

Karena kereta ini kereta feeder, rangkaiannya pendek dan untuk gerbong wanita nggak berlaku, jadi bercampurlah gender di semua gerbong. Di samping gue duduklah seorang anak muda (yang kebetulan cowok) dengan earphone besar di telinganya. Nggak tau juga si mas ini naik dari stasiun mana. Awal gue nyadar sih si mas ini masih melek di Stasiun Tanah Abang. Nah pas kereta berhenti karena nunggu antrian masuk ke Stasiun Manggarai, si mas ini ternyata udah tidur pulas dan masih dengan earphone besar di telinganya. Sedangkan rekaman suara ibu-ibu di dalem kereta udah berkumandang, "Stasiun Manggarai.". Waduh. Gue berdoa dalam hati semoga si mas ini bangun dengan sendirinya tepat pas kereta sampe di Stasiun Manggarai.

"Stasiun Manggarai."

Sekali lagi rekaman ibu-ibu berbunyi untuk ngingetin penumpang. Gue tengok si mas di samping gue, ternyata masih pulas. Gue mulai gelisah. Doa gue nggak terkabul. Pas pintu kereta kebuka, orang-orang pada antri buat keluar kereta. Gue masih duduk. Bingung. Antara ikut antri dan turun langsung tanpa bangunin si mas di samping gue atau bangunin si mas ini dulu baru turun. Penumpang yang lain juga ada yang sempet nengok ke si mas ini yang masih pulas. Mungkin mereka juga berpikiran sama kayak gue. Tapi bedanya, mereka cepet ambil keputusan buat ikut antri dan turun kereta tanpa bangunin si mas ini.

Setelah antrian agak sepi, gue beranjak dari tempat duduk gue. Dan itu artinya, gue memilih keputusan untuk ikut antri dan turun tanpa bangunin si mas di samping gue. Asli gue sadar gue jahat banget dan sangat sangat merasa berdosa.

Turun dari kereta dengan perasaan nggak tenang. Gue ganti doa gue, semoga ada petugas patroli yang periksa seluruh gerbong sebelum kereta diberangkatkan ke Dipo Bukit Duri. Yang ada dipikiran gue saat itu adalah hal terburuk yang bakal terjadi selanjutnya. Nggak ada petugas patroli, si mas itu ke bawa sampe Dipo Bukit Duri dan ketika sadar, si mas itu ternyata seorang diri di dalem kereta. Terus si masnya nuntut ke polisi, nanti gue buron secara gue yang duduk di sebelahnya. Waduh........ Ini imajinasi hina banget.

Setelah turun dari kereta, gue nggak tau lagi kelanjutan cerita si mas itu. Semoga dia baik-baik saja sampai dengan detik ini. Amin.

Mas, kalo kebetulan nemuin blog saya dan baca postingan ini, saya minta maaf ya mas kemarin nggak bangunin masnya. Hehehe *kaburrrrrr

Cheers,

No comments :

Post a Comment