Skip to main content

ISTB Goes To Tzu Chi


Tanggal 27 Februari kemarin kami berkesempatan mengunjungi Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia yang terletak di Pantai Indah Kapuk. Dengan menempuh perjalanan sekitar satu jam setengah dan sempat salah jalan, akhirnya kami sampai di Gedung besar nan megah tersebut pukul satu siang.

Sesampainya kami di sana, kami disambut oleh CEO dari kampus kami sendiri di mana beliau adalah salah satu bagian dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Beliau membawa kami berkeliling gedung tersebut sebentar kemudian mentraktir kami makan di kantin. Dengan membayar lima belas ribu rupiah, kami bisa makan sebanyak yang kami mau. Tapi, kami juga wajib menghabiskan makanan yang kami ambil. Kami tertegun sesaat setelah Mr. Sudino --CEO ISTB-- memaparkan semua peraturan yang berlaku di kantin, seperti mencuci piring dan gelas sendiri sehabis makan. Semua peraturan itu melatih setiap orang untuk hidup mandiri. Benar-benar menginspirasi sekali.

Selesai makan siang, kami yang terdiri dari Mr. Gufron, Yodi, Walter, Juan, Steven, Nur, Arfi, Pak Ramdani dan saya sendiri kembali diajak mengitari gedung yang bernuansa alam tersebut dengan dipandu oleh Kokoh Andi yang menjadi guide kami.

Selama kami berada di dalam gedung kami diwajibkan untuk membuka alas kaki kami dan menggantinya dengan sendal/sepatu ruangan yang sudah tersedia di setiap pintu di dalam gedung tersebut. Sambil berkeliling, Kokoh Andi pun dengan ramahnya menceritakan semua sejarah tentang Tzu Chi dan gedung tersebut.

Gedung yang kami tapaki memiliki tiga aula dengan masing-masing fungsi yang berbeda-beda. Tak lupa kami menyambangi studio DA.AI TV yang terletak di salah satu dari tiga aula. Kami pun menerima sambutan hangat dari semua kru yang ada di sana.

Tak sampai di situ saja, kami juga diajak ke aula yang terletak di tengah-tengah kedua aula lainnya. Aula ini berisi catatan-catatan sejarah dan bukti-bukti dari misi humanis yang pernah dilakukan oleh Yayasan Tzu Chi Indonesia.

Sungguh mengagumkan. Tak hanya arsitektur gedungnya saja yang membuat setiap orang berdecak kagum melihatnya. Tapi semua yang ada di dalam pun juga membuat kami berdecak kagum. Gedung yang besar tersebut dibangun dari hasil amal relawan. Dan mereka menyebut gedung tersebut sebagai gedung kita semua.

Dari kunjungan kami ke Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia kemarin, kami pun mendapatkan pelajaran berharga. Pelajaran untuk dapat saling menolong tanpa melihat siapa dia, berasal darimana kah dia dan agama apakah dia. Karena yang paling penting adalah perdamaian dunia.



Written by,
Yunita.

Comments

Popular posts from this blog

Mall-Mall yg Dapat Dijangkau Dengan Commuter Line

“Murah dan nggak macet.”
Ini adalah prinsip gue dalam memilih sarana transportasi umum di Jakarta. Ke mana pun dan sejauh apapun jaraknya, selama bisa dijangkau dengan Commuter Line, gue akan selalu siap walau dalam kondisi apapun termasuk jika keadaan memaksa gue untuk pergi seorang diri. Ke kantor, ke kampus, ke terminal, ke pasar, atau pun ke rumah temen, gue akan selalu mencari stasiun terdekat dari tempat yang ingin gue tuju.

Kenalan sama ISI 2012 Yuk!

Tak kenal maka tak sayang.
Sebelum gue lanjutkan cerita trip gue ke MY – THAI Day 2, alangkah baiknya kalian baca ini dulu.
Di MY – THAI Trip Day I pasti kalian bertanya-tanya, siapa sih ISI 2012 itu? Siapa sih para penyabun itu? Siapa sih tim cewek-cewek? Siapa sih Sir Gufron? Siapa sih yang ngendarain kereta monorailnya?
Nah di sini gue bakal ngenalin apa dan siapa ISI 2012.

MY – THAI Trip Day 2, Welcome to Hat Yai!

Hai!
Udah penasaran banget sama cerita MY – THAI Trip hari keduanya? Udah penasaran banget gimana tingkah gue naik sleeper train? Udah penasaran banget gimana kesemutannya gue duduk di bangku kereta selama 12 jam? Udah penasaran banget sama orang-orang macam apa yang gue temuin di sleeper train? Udah penasaran banget sama larangan di sleeper train? Udah penasaran banget sama..... /plak Ini ditampar karena kelamaan.