Skip to main content

Jadi Anaknya?

Tempo hari, sempat terlintas di pikiran gue tentang hal yang benar-benar absurd. Saking absurdnya, gue nekat nanya langsung ke pihak yang bersangkutan.

"Bang, kalo gue nikah sama lo, kan gue bulunya banyak, lo juga bulunya banyak, nanti anak kita jadi apa ya?" Gue bertanya ke Bang Luhur dengan wajah polos tanpa dosa.

"Nanti anak kita botak Nia." jawabnya tenang seraya mengepack produk dumpling di counter cheese.

"Kok botak?" dahi gue mengernyit.

"Iya. Kan biar beda."

Merasa nggak puas dengan jawaban Bang Luhur, gue pun berjalan menghampiri Bang Jangkung di counter Delicate dan menanyakan hal yang sama.

"Bang, kalo gue nikah sama Bang Luhur, gue kan bulunya banyak, Bang Luhur juga bulunya banyak, nanti anaknya jadi apa ya?"

"Jadi kingkong de." Jawabnya singkat.

"Masa kingkong sih bang? Horor banget." protes gue yang mengharapkan jawaban lain selain kingkong.

Heran. Dari sekian banyak yang berbulu, kenapa yang pertama keluar dari mulut Bang Jangkung itu kingkong? Kan masih ada kelinci, kucing, hamster, marmut yang jauh lebih menggemaskan daripada kingkong.

Beberapa hari kemudian....
Malam Minggu, shift siang. Selepas menyelesaikan pekerjaan membuat shelftag dan POP groceries, penghuni perut gue pun mulai nggak karuan. Gue menghampiri counter frozen di mana di sana ada Bang Jangkung yang sedang sampling pemanggang elektrik dan saus bbq.

"De jadi nggak? Ini ada Bang Luhur." Tanya Bang Jangkung sambil membolak-balikkan daging panggangannya.

Karena nahan lapar dan konsentrasi gue tertuju penuh pada daging di atas pemanggang, gue cuma jawab, "Jadi." tanpa tau maksud dari pertanyaan Bang Jangkung barusan.

Setelah berhasil mencicip sepotong daging berukuran dadu, gue beranjak dari area sampling. Kemudian Bang Jangkung menanyakan hal yang sama sekali lagi.

"De jadi nggak?"

"Jadi apaan bang?" gue yang sudah beberapa langkah meninggalkan area sampling pun berhenti dan membalikkan badan.

"Bikin monyet." Teriaknya.

Gue tersedak. Baru mengerti maksud dari pertanyaan Bang Jangkung sebelumnya.

Bang Luhur yang sedang bersandar di freezer frozen terkekeh mendengar celetukan Bang Jangkung.

"Bele lu bang!" teriak gue sambil tertawa kemudian meninggalkan mereka.

Yaaaah. Begitulah... cerita absurd malam minggu ini.

Comments

Popular posts from this blog

Mall-Mall yg Dapat Dijangkau Dengan Commuter Line

“Murah dan nggak macet.”
Ini adalah prinsip gue dalam memilih sarana transportasi umum di Jakarta. Ke mana pun dan sejauh apapun jaraknya, selama bisa dijangkau dengan Commuter Line, gue akan selalu siap walau dalam kondisi apapun termasuk jika keadaan memaksa gue untuk pergi seorang diri. Ke kantor, ke kampus, ke terminal, ke pasar, atau pun ke rumah temen, gue akan selalu mencari stasiun terdekat dari tempat yang ingin gue tuju.

Kenalan sama ISI 2012 Yuk!

Tak kenal maka tak sayang.
Sebelum gue lanjutkan cerita trip gue ke MY – THAI Day 2, alangkah baiknya kalian baca ini dulu.
Di MY – THAI Trip Day I pasti kalian bertanya-tanya, siapa sih ISI 2012 itu? Siapa sih para penyabun itu? Siapa sih tim cewek-cewek? Siapa sih Sir Gufron? Siapa sih yang ngendarain kereta monorailnya?
Nah di sini gue bakal ngenalin apa dan siapa ISI 2012.

MY – THAI Trip Day 2, Welcome to Hat Yai!

Hai!
Udah penasaran banget sama cerita MY – THAI Trip hari keduanya? Udah penasaran banget gimana tingkah gue naik sleeper train? Udah penasaran banget gimana kesemutannya gue duduk di bangku kereta selama 12 jam? Udah penasaran banget sama orang-orang macam apa yang gue temuin di sleeper train? Udah penasaran banget sama larangan di sleeper train? Udah penasaran banget sama..... /plak Ini ditampar karena kelamaan.