18 Feb 2015

Nggak Jodoh

Hari ini judulnya serba nggak jodoh. Takdir menggariskan gue untuk nggak ke kampus. Pertama, gue harus nunggu bis ke arah Stasiun Cawang setengah jam di tengah kemacetan dan polusi yang membabi buta. Sampai gue sadar kalau gue butuh pelatihan untuk jadi penumpang bis yang baik. Pelatihan supaya bisa menjaga keseimbangan di dalam bis yang padat penumpang tanpa harus menggapai besi kecil di langit-langit bis yang cukup tinggi, jadi gue nggak perlu lagi mencelakai kaki penumpang lain yang berdiri di sekitar gue. (re: menginjak)

Dan satu lagi. Kayaknya jadi penumpang bis di Jakarta tuh harus sabar banget ya. Secara harus bersikap biasa aja berdesak-desakan di dalam sambil bermain gadget atau sekedar melihat pemandangan lautan kendaraan di luar. Padahal ada sesuatu yang sangat penting yang dipertaruhkan di sana, yaitu waktu.

Sebagai anak kereta, gue lebih memilih untuk berdesak-desakan di dalam kereta daripada harus mengorbankan waktu yang di pertaruhkan di tengah hiruk pikuk kemacetan Jakarta. Toh sama-sama desak-desakkan juga kan?

Waktu menunjukan pukul tujuh malam. Akhirnya gue sampai di Stasiun Cawang. Anyway, gue mengorbankan waktu 1 jam hanya untuk Tendean-Cawang. Gue harap-harap cemas masuk ke dalam. Berharap momen gue sampai ke peron dua bersamaan dengan kedatangan Commuter Line jurusan Tanah Abang.

Namun seperti kalimat pertama dalam postingan ini, semuanya serba nggak jodoh. Takdir nggak menggariskan gue bertemu dengan Commuter Line jurusan Tanah Abang secepat gue menyadari bahwa kemacetan di Jakarta adalah sebuah seni. Dan gue pun akhirnya memutuskan untuk pindah ke peron 1 setelah mendengar Commuter Line jurusan Tanah Abang baru sampai Stasiun Citayam.

Citayam – Depok – Depok Baru — Pondok Cina....
Dan gue mulai menghitung jumlah Stasiun yang akan dilewati untuk sampai Stasiun Cawang.
.... Pasar Minggu – Pasar Minggu Baru – Duren Kalibata...

Aih. Banyak. Gue sampai kampus jam berapa? Belum lagi nunggu Commuter Line jurusan Serpong. Bisa-bisa gue sampe kampus 5 menit setelah Satpam kampus mematikan lampu kelas
.
Nggak lama, Commuter Line Bogor sampai di jalur 1. Tanpa berpikir dua kali gue lun langsung melangkahkan kaki masuk ke dalam kereta. Syukur. Kayaknya malam ini gue lebih jodoh sama Commuter Line jurusan Bogor karena kereta nggak se-crowded jam pulang kerja seperti biasanya.

Sesampainya gue di Stasiun UP, announcer memberitahukan bahwa Commuter Line jurusan Tanah Abang akan segera masuk di jalur 2. Dan itu berarti gue dan Commuter Line jurusan Tanah Abang jodoh! Tapi, di waktu yang salah. Pffft.

Nice decision Ni! Memilih langsung pulang daripada harus mengorbankan waktu lagi.

Gerimis, ekspresi langit malam ini. Sambil mendengarkan lagu di handphone, gue membuka resreting tas ransel yang masih gue sandang ke depan. Sebungkus ketoprak yang sempat gue beli di depan kantor tadi sore nampak di sana. Sebungkus ketoprak yang gue kira nggak akan selamat dari tangguhnya wanita-wanita di jalur 5&6 Stasiun Tanah Abang rupanya masih terbungkus rapih dengan kertas nasi dan plastik bening. Gue jodoh sama sebungkus ketoprak ini.

No comments :

Post a Comment