Skip to main content

The Worst Evening Ever

Sore ini luar biasa sekali! Keterlambatan commuter line jurusan Serpong-Parung Panjang sepertinya jadi akar masalah dari tumpah ruahnya penumpang sampe ke ekor peron 5 dan 6 di Stasiun Tanah Abang. Sampe-sampe mau masuk peron 5 dan 6 aja harus masuk antrian yang mengular.

Setelah hampir setengah jam, akhirnya commuter line jurusan Serpong-Parung Panjang pun mendarat di jalur 5. Penumpang yang mulai gusar langsung menghampiri setial pintu gerbong tanpa mengacuhkan nasib penumpang di dalam yang pengen keluar. Sebenarnya kasihan juga sih. Gue sempet ngebayangin kalo gue adalah salah satu dari penumpang di dalam kereta itu yang pengen keluar. Lihat kondisi peron yang dipenuhi wajah-wajah garang wanita-wanita tangguh mungkin gue langsung pucat di tempat. Jangankan mau lari, mau ngelangkahin kaki aja harus ngelawan tenaga wanita-wanita yang super tangguh ini.

Setelah pintu terbuka dan pemandangan saling dorong mulai menghiasi jalur 5 dan 6, yang ada di kepala gue harus masuk dulu ke dalam kereta. Urusan bisa keluar di Stasiun Palmerah itu nanti. Sore ini gue ada ujian. Mata kuliah yang selama setengah semester ini belum pernah gue hadir di kelasnya. Dan skill gue nihilm Hebat bukan? Hufffttt. Maka dari itu, gue berusaha sekeras mungkin masuk ke dalam kereta meski harus mengeluarkan tenaga lebih untuk mendorong wanita-wanita tangguh di depan gue yang masih enggan untuk mengisi kekosongan tempat di dalam.

Well to the well. Kayaknya sore ini jadi hari paling bersejarah. Sebuah rekor berdesak-desakan gue selama jadi gembel peron. Baru kali ini gue ngerasain yang namanya stuck di tempat dengan posisi awal yang nggak bisa diganggu gugat. Nggak ada space sedikit pun buat bergerak, apalagi cari posisi enak. Enggak ada. Yang ada dada sesak nahan dorongan wanita-wanita tangguh bertenaga kuli. Tas ransel gue udah nggak bisa defense dada gue lagi. Gue cuma bisa pasrah nunggu kereta mendarat di Palmerah.

Sampe di Palmerah pun, gue keluar dari dalam kereta dengan cara yang antimainstream. Yaitu didorong-dorong! Tas ransel gue yang posisinya terjepit tumpukan orang di dalam terpaksa ikut didorong-dorong juga mengingat posisi gue nggak tepat di depan pintu.
That was so amazing!!! Akhirnya gue berhasil keluar dengan wajah frustasi kayak abis dikejar begal.

Antrian di jalur 5 dan 6 Stasiun Tanah Abang

Comments

Popular posts from this blog

Mall-Mall yg Dapat Dijangkau Dengan Commuter Line

“Murah dan nggak macet.”
Ini adalah prinsip gue dalam memilih sarana transportasi umum di Jakarta. Ke mana pun dan sejauh apapun jaraknya, selama bisa dijangkau dengan Commuter Line, gue akan selalu siap walau dalam kondisi apapun termasuk jika keadaan memaksa gue untuk pergi seorang diri. Ke kantor, ke kampus, ke terminal, ke pasar, atau pun ke rumah temen, gue akan selalu mencari stasiun terdekat dari tempat yang ingin gue tuju.

Kenalan sama ISI 2012 Yuk!

Tak kenal maka tak sayang.
Sebelum gue lanjutkan cerita trip gue ke MY – THAI Day 2, alangkah baiknya kalian baca ini dulu.
Di MY – THAI Trip Day I pasti kalian bertanya-tanya, siapa sih ISI 2012 itu? Siapa sih para penyabun itu? Siapa sih tim cewek-cewek? Siapa sih Sir Gufron? Siapa sih yang ngendarain kereta monorailnya?
Nah di sini gue bakal ngenalin apa dan siapa ISI 2012.

MY – THAI Trip Day 2, Welcome to Hat Yai!

Hai!
Udah penasaran banget sama cerita MY – THAI Trip hari keduanya? Udah penasaran banget gimana tingkah gue naik sleeper train? Udah penasaran banget gimana kesemutannya gue duduk di bangku kereta selama 12 jam? Udah penasaran banget sama orang-orang macam apa yang gue temuin di sleeper train? Udah penasaran banget sama larangan di sleeper train? Udah penasaran banget sama..... /plak Ini ditampar karena kelamaan.