7 Jul 2015

Menanti Jam Tujuh.

Pagi ini gue berangkat bareng bapak dan seperti biasa, gue sampai dua jam lebih cepat daripada jam masuk kerja di kantor. Berhubung kantor jam enam belum buka, lebih tepatnya gue nggak mau ganggu Pak Tarib beberes kantor sih. Jadi, gue memutuskan untuk duduk di halte depan gang kantor sampai waktu menunjukkan jam tujuh.

Bosan? Pasti. Tapi selain main hape, kadang gue juga suka melamun atau memperhatikan orang-orang sekitar untuk membunuh rasa bosan gue. Mungkin beberapa dari kalian berpikir duduk sambil melamun dan memperhatikan sekitar itu buang-buang waktu. Tapi menurut gue enggak. Justru gue selalu bisa menemukan diri gue kembali di saat gue sendiri. Gue selalu bisa menemukan semangat gue kembali yang selalu timbul tenggelam ketika gue menghabiskan waktu seorang diri. Contohnya ya dengan memperhatikan orang-orang di sekitar.

Usia gue sekarang sudah menginjak dua puluh satu tahun. Ya memang udah nggak sepantasnya bersikap labil lagi. Tapi pernah nggak sih kalian ngerasain yang namanya kehilangan semangat hidup? Atau lebih tepatnya merasa jenuh dengan semua yang kalian jalani sekarang? Lalu bagaimana cara kalian menghadapinya? Dan bagaimana cara kalian mengantisipasinya agar tidak terjadi lagi?
Memperhatikan keadaan sekitar dan melihat orang berlalu lalang malah buat gue jadi berpikir. Bukan. Bukan orang-orang berdasi dengan mobil mewah yang terlihat setiap pagi di depan halte. Bukan mereka yang membawa semangat gue kembali. Tapi beberapa pedagang dan orang-orang yang bertahan hidup dengan pilihan mereka di jalanan.

"Mereka nggak seberuntung gue. Tapi mereka masih semangat jalanin hidup mereka."

Gue bergeming. Mencoba mencerna kata-kata yang selalu terbesit di kepala gue setiap kali melihat mereka. Rasanya kayak ditampar sama kenyataan yang luput dari kesadaran. Namun dari situlah semangat gue perlahan kembali.

That's why I love my 'lonely time'. It's not because I'm anti-social, but by being alone I can find myself. That's it.

2 comments :

  1. Sengaja atau tidak, kadang lamunan seperti itu bisa jadi ide untuk menulis :-)

    ReplyDelete