Skip to main content

MY – THAI Trip Day 2, Welcome to Hat Yai!



Hai!

Udah penasaran banget sama cerita MY – THAI Trip hari keduanya? Udah penasaran banget gimana tingkah gue naik sleeper train? Udah penasaran banget gimana kesemutannya gue duduk di bangku kereta selama 12 jam? Udah penasaran banget sama orang-orang macam apa yang gue temuin di sleeper train? Udah penasaran banget sama larangan di sleeper train? Udah penasaran banget sama..... /plak Ini ditampar karena kelamaan.

Okeh okeh fix. Sekarang gue bakal mulai menulis ceritanya. Terlebih dahulu gue sarankan untuk menyiapkan daun kelor, bambu kuning sama bangle. Siapa tau pas lo lagi baca tulisan gue, tiba-tiba kolor ijo ngetok-ngetok pintu rumah lo mau mampir buat numpang buka puasa. Okeh gue tau gue nggak akan pernah berhasil bikin lo ketawa sama tulisan-tulisan jayus gue ini. *lari ke shower*

Okeh okeh. Tulisan gue semakin nggak jelas. Mari langsung aja gue cerita.

Jam sembilan malam waktu Malaysia, setelah hampir satu jam menunggu di ruang tunggu dan duduk di lantai yang dingin, akhirnya kita mulai masuk ke ruang boarding untuk pengecekan tiket pertama. Pemandangan antrian dari ruang tunggu sama percis seperti pemandangan arus mudik di Jakarta karena sebagian besar penumpang membawa tas-tas besar.

Setelah pengecekan tiket, kita turun ke lantai dasar yang merupakan peron utama dari kereta antar bandar. Dan setelah menginjakan kaki di lantai dasar, di sana sudah bertengger kereta Senandung Langkawi yang akan membawa kita ke Hat Yai.

Gue terpukau. Dan memang akan selalu terpukau dengan pemandangan berobjek kereta yang gue temui di mana pun. Kali ini yang buat gue terpukau dengan Senandung Langkawi adalah karena doi punya gerbong yang banyak ngetz à biar ngehits. Jauh berbeda dengan kereta Malaysia pada umumnya kayak komuter, monorail dan LRT. Mereka biasanya cuma menggandeng 3 gerbong aja dalam satu rangkaian kereta. Sugoi.

Karena baru pertama kali naik kereta jarak jauh, gue yang dalam kondisi terlalu terpukau malah jadi kesulitan nemuin di gerbong mana tempat duduk gue berada. Ini gue serius lho. Sebanyak-banyaknya intensitas gue menghabiskan waktu di commuter line, gue belum pernah naik kereta jarak jauh. Cupu ya?

Geng cewek dan geng cowok berbeda gerbong. Sesuai kesepakatan dengan ISI 2012, untuk berangkat para wanita mendapat jatah di gerbong dengan tempat duduk. Sedang untuk para pria mendapat jatah di gerbong sleeper train. Dan untuk kembali ke KL, giliran geng cewek yang dapat jatah di gerbong sleeper train, dan geng cowok di gerbong bukan sleeper train.

Setelah membenahi barang bawaan di tempat duduk, gue yang penasaran akhirnya beranjak menuju gerbong sleeper train tempat geng cowok mendapatkan jatah surga sementaranya. Setelah menggeser pintu di sambungan gerbong, gue terpukau lagi. Sleeper train.... Sleeper train.... Gue melayangkan pandangan dengan mata yang berkaca-kaca ke seluruh penjuru sudut gerbong. Tempat duduk yang disulap menjadi tempat tidur matras dua tingkat, tirai cokelat bermotif vertikal yang menjadi pembatas dan tangga-tangga yang tertempel di tepi ‘kamar surga sementara’ menghiasi koridor.

Dan di setelah itu... negara api menyerang. Mata gue yang semula berkaca-kaca karena terharu dan senang, berubah mengering dan nggak bisa kedip. Di deretan Koc atas, geng cowok sedang asik memamerkan pose-pose lapet mereka. Selonjoran, pose yoga, sampe tengkurep sambil memainkan tirai kemudian nyanyi Lagu India. Laffffettt sekali.


“Wah... enaknya kalian.”

Hanya sepatah kata yang keluar dari mulut gue saat itu. Dengan hati yang hancur berkeping-keping gue melangkahkan kaki menuju tempat duduk gue. Iya tempat duduk, bukan tempat tidur. *guling-guling di peron*

Jam sepuluh malam waktu Malaysia, kereta bertolak dari Stasiun KL Sentral. Perjalanan dari Kuala Lumpur menuju Hat Yai memakan waktu 12 jam. Awalnya, gue excited melihat stasiun-stasiun kereta di sana yang sangat terawat dan bagus, beda banget sama di Indonesia. Tapi lama-kelamaan cukup membosankan juga. Karena kereta ini berhenti di setiap stasiun untuk ambil penumpang dan di setiap stasiun pula ada penumpang yang turun. Jadi tempat duduk selalu terisi.

Oiya, karena ini adalah pengalaman pertama gue naik kereta jarak jauh dan di luar Indonesia pula, jadi gue belum bisa banyak membandingankan Senandung Langkawi dengan kereta jarah jauh di Indonesia. Yang gue notice di sini adalah, mereka nggak menyediakan colokan untuk charge alat elektronik. Hiks. Di situ kadang saya merasa rindu dengan kereta ekonomi Indonesia. Di Indonesia, walaupun kereta Rangkas Jaya yang jarak tempuhnya nggak jauh-jauh banget, mereka menyediakan colokan untuk charge daya alat elektronik seperti hape, tab dan powerbank.

Pemandangan gerbong aqyuuu.

Senandung Langkawi ini kursinya empuk, jendelanya lebar dan Acnya dingin, bisa dibilang kayak kelas eksekutif gitu, tapi sayang banget nggak ada colokan. Jadi gue saranin buat bawa powerbank yang mahnya gede ya, dua biji kalo bisa. Perjalanan 12 jam di dalam kereta akan sangat-sangat membosankan kalau nggak ada handphone. Trust me. Jangan kayak gue yang cuma bawa powerbank dengan kapasitas MAH yang kecil pun akhirnya cuma bisa gigit jari selama perjalanan karena hape gue dimatiin demi menghemat daya. Syedih kan. Nggak bisa dengerin lagu, kedinginan dan nggak ada yang bisa dipeluk.

Di kereta ini juga ada pramusaji yang menawarkan makanan dari gerbong ke gerbong. Tips buat lo yang nggak mau menguras kantong untuk beli makanan di dalam kereta, bawa mie cup secukupnya. Nanti tinggal beli air panas ke pramusaji dengan harga yang relatif murah yatu RM1 atau kurang lebih Rp 3.500,-. Relatif sama di Indonesia untuk harga air panasnya. Atau lebih mahal ya? Yah maklum udah nggak pernah ke Ragunan lagi beli pop mie yang diseduh jadi nggak tau deh. Minumnya, lo bisa beli milo hangat untuk menghangatkan badan di dalam kereta yang dingin, harganya RM 2.5 atau kurang lebih Rp 9.000,-.

Meja lipat yang tak lagi terlipat.

Ada lagi yang beda dari kereta ini, kalau biasanya di Indonesia kita bisa gelayutan di pintu kereta waktu keretanya lagi jalan, di sini itu benar-benar dilarang. Sangsinya pun juga nggak main-main, denda RM 1000 atau kurang lebih 3,5 juta rupiah. Gue sama Oten yang waktu itu berniat mau selfie sambil gelantungan di pintu kereta pun akhirnya mengurungkan niat. Masalahnya, kalo nanti kita ketahuan petugas, kita nggak bisa pulang karena uangnya habis buat bayar denda. Lebih syedih lagi. Bisa berangkat nggak bisa pulang. Eh tapi akhirnya kita nyolong-nyolong dikit pas ngeliat pintu di sambungan gerbong kebuka, ya walupun nggak gelantungan juga sih. -_-

Mau coba?

Jam sepuluh waktu Malaysia, kereta tiba di Stasiun Padang Besar. Uniknya, stasiun ini bukan sekedar stasiun. Tapi stasiun ini adalah perbatasan antara Malaysia dan Thailand. Semua penumpang diwajibkan untuk membawa semua barang bawaan keluar dari kereta. Jadi untuk turis dari atau ingin ke Hat Yai, mereka harus turun di sini untuk mengurus imigrasi. Prosesnya sama seperti pemeriksaan passport di imigrasi bandara, hanya saja tempat ini lebih sederhana.

Setelah resmi diperbolehkan masuk ke negara Thailand, kita yang duduk di lounge terpaku melihat peron di depan mata kita, keretanya hilang. Kemudian Epen panik karena hanphone dan powerbanknya ia tinggal di Koc-nya. Sir Gufron yang menjabat sebagi ketua grup juga ikutan panik. Sedangkan yang lain Cuma bisa bilang, “Sabar ya Pen. Berarti Experia 3 lo bukan rejeki lagi.” Jahat kan?

Setelah duduk hampir setengah jam di lounge, akhirnya kereta pun datang. Dan bertanya-tanyalah gue, “Ini kereta yang sama kayak yang tadi kita naikin?”. Dan jawabannya iya. Hanya saja jumlah gerbongnya dikurangi jadi dua, gerbong penumpang biasa dan gerbong sleeper train. Gue mengagguk-angguk sendiri. Itulah kenapa semua penumpang wajib membawa barang bawaan mereka pada saat pengecekan dokumen imigrasi di Stasiun Padang Besar. Karena kereta akan diberangkat untuk mengurangi gerbong dan kembali ke Stasiun Padang Besar dengan jumlah gerbong yang sedikit.

Kepanikan dan kegelisahan Epen ternyata belum berakhir. Sir Gufron yang ketularan panik akhirnya mencoba menanyakan keberadaan handphone dan powerbanknya Epen kepada petugas kereta. Sedangkan Epen membututi Sir Gufron dengan wajah harap-harap cemasnya. Setelah bercakap sikit, petugas kebersihan yang pada saat itu sedang tugas menyerahkan handphone dan powerbank Epen dalam keadaan dibungkus kantong plastik. Beruntunglah, ternyata handphone dan powerbanknya masih rejeki. Dan bonusnya, Epen mendapat hadiah omelan dari petugas kebersihan kereta. Beruntunglah cuma omelan. Bukan disuruh gantiin posisi beliau. Beruntunglah. *digampar*

Sudah jam sebelas, tapi kereta belum juga diberangkatkan. Usut punya usut, ternyata masinisnya belum sampai. Nah dari sini gue dapat satu fakta, ternyata nggak cuma di Indonesia aja, di luar negeri pun nggak menutup kemungkinan kereta terlambat. Jadi yang bilang, “Hello~ di luar negeri tuh nggak sama kayak di Indonesia yang jadwalnya suka terlambat!”. See? Nobody’s perfect bung! Eh. Nothing is perfect deng.

Sambil nunggu masinisnya dateng, kenalan dulu sama orang Manchester.

Bertemanlah saat melakukan perjalanan. Ini adalah quote petuah yang harus lo lakukan ketika melakukan perjalanan. Nah di Stasiun Padang Besar ini gue, Nalini dan Sir Gufron kenalan sama cewek-cewek Manchester yang mau study trip ke Hat Yai ini.

Demi membunuh rasa bosan di tempat duduk, gue dan Nalini mencoba mengeskplore Stasiun Padang Besar. Nah di peron kita ketemu Sir Gufron dan dua cewek Manchester ini. Berawal dari perbincangan tentang keberangkatan kereta yang terlambat, akhirnya Sir Gufron memulai terlebih dahulu untuk membuka topik perbincangan lain. Mulai darimana mereka berasal, ingin kemana, umur berapa, sekolah di mana.

Ternyata mereka berdua baru mau masuk kuliah lho. Orang-orang bule itu kenapa penampilannya terlihat lebih dewasa ya dibanding dengan umurnya? Gue mengira mereka seumuran. Tapi ternyata mereka masih 18 tahun. Dan mereka menyangka kalo gue masih 15 tahun. Wah thanks banget, 5 tahun lebih muda dong. Apanya? Tinggi badannya. -_-

Setelah masinis sampai tanpa gue tau yang mana wujudnya, akhirnya kereta pun diberangkatkan. Karena jarak antara Stasiun Padang Besar dan Hat Yai Junction nggak terlalu jauh, jadi kita tiba di Hat Yai Junction dalm waktu kurang dari setengah jam.

Satu kata yang mengepul di kepala gue ketika keluar dari gerbong kereta dan menginjakan kaki di tanah selatan Thailand itu, “Panas”. Walaupun cukup bersih, melihat suasana Hat Yai Junction membuat gue merasakan suasana ketika berada di stasiun Manggarai sebelum tahun 2013, pedagang kaki lima di peron, abang-abang yang menawarkan tuk-tuk dengan paksa dan semua orang bebas keluar masuk stasiun. Stasiun Indonesia banget kan? Jaman dulu.

Manggarai tempo doeloe.

Dari Hat Yai Junction, kita naik tuk-tuk bersembilan mencari hotel yang nggak mahal. Di Hat yai tidak ada angkutan umum dalam kota lain selain Tuk Tuk dan Taksi. Tuk-tuk adalah transportasi umum khas Thailand. Bentuknya kayak mobil kalong. Jika kallian pergi rombongan, sebaiknya pilih tuk-tuk daripada taksi. Karena kapasitas tuk-tuk dapat mengangkut sampai 9 penumpang, 8 di belakang, satu di samping supir. Nah ada PR nih jika kalian ingin mengunjungi Hat Yai, nggak semua supir tuk-tuk bisa bahasa melayu ataupun Inggris. Kayak super tuk-tuk yang kita dapat, doi nggak bisa bahasa lain selain bahasa Thai dan bahasa tubuh. Jadi kita selalu menyampaikan instruksi dengan bahasa tubuh. Jadi usahakan belajar Bahasa Thai sedikit-sedikit yah.

Wujudnya Tuk-Tuk

Setelah muter-muter dan mengunjungi dua hotel yang bisa dibilang hotel ‘besar’, akhirnya kita memutuskan untuk menginap di satu hotel yang terletak nggak jauh dari Hat Yai Junction, Kosit Hotel. Lumayan murah jika dilihat dari fasilitas yang ditawarkan, lift, kamar mandi di dalam, warnet kecil di lobi, layanan payphone di lobi dan wifi gratis dengan speed lumayan dewa yang menjangkau ke setiap kamar.

Akhirnya... kita mandi juga.

Check in, mandi dan beberes barang bawaan. Agenda selanjutnya adalah mengunjungi Municiple Park. Tapi sebelum berangkat ke sana, kita makan siang dulu di sebuah restoran muslim yang letaknya nggak jauh dari hotel.

Sore itu Hat Yai diguyur hujan. Kami yang tetap memaksakan diri mengunjungi Municiple Park pun akhirnya beranjak dari restoran menuju tuk-tuk. Tuk-tuk ini sangat fleksibel. Dan gue baru tau kalau dia punya plastik penutup yang berguna disaat hujan kayak gini. Gunanya biar penumpang nggak basah, ya walaupun kecipratan dikit-dikit sih.

Kebayang nggak, di dalam tuk-tuk yang pengap karena diselimutin plastik ini, ternyata ada yang kentut? Coba tebak siapa? Kita yang duduk di belakang gue, Shindy, Arfi, Nalini, Yodi, Epen dan Sir Gufron memutuskan kalau Oten adalah tersangkanya. Bukan tanpa alasan kita menuduh Oten, karena pas makan siang tadi dia makan pete. Sudah.... habislah Oten dicengin sampai kita tiba di Municiple Park.

Nah nggak lama, ternyata hujan berhenti. Di sini kita dapat pemandangan yang nggak asing. Hat Yai ini kembaran Jakarta banget. Panasnya sama, pemandangan jalan raya dengan komposisi mobil-mobil mewahnya sama, polusinya pun sama. Yang membedakan di sini adalah cewek asli dan cewek jadi-jadian. Bisa nggak ngebedainnya?

 1.  Municiple Park

Pose peredam kekecewaan.

Agenda pertama kita di hari pertama di Hat Yai adalah mengunjungi Municiple Park. Ada apa di sini? Ada taman. Tapi kita nggak eksplor taman ini karena kita langsung menuju Hat Yai Ice Dorm yang ada di dalam Municple Park. Tapi sayangnya, agenda untuk masuk ke dalam Ice Dorm pun harus dicoret karena Harga Tiket Masuknya lumayan mahal. Jadi pada akhirnya kita Cuma bisa foto di depannya aja. Syedih.

2. Chang Puak Champ
Sudah cantik-cantik dan ganteng, ternyata disuruh bayar poto.

Agenda kedua adalah Chang Puak Camp. Berbeda dengan Hat Yai Ice Dorm, Chang Puak Champ tidak mengenakan harga tiket masuk untuk pengunjung. Pengunjung dengan bebas melihat gajah. Namun, untuk menikmati wahana yang disediakan, pengunjung diharuskan untuk membayar biaya sewa.

FYI, di sini sama seperti di Ragunan. Jadi hati-hati ya kalau mau foto. Mereka punya tim dokumentasi yang siap buat foto kalian, mencetak dan menaruh di bingkai yang cantik. Nah jadi siap-siap untuk dikejar sama mba dan mas untuk diminta membayar foto kalian yah.

3. Samila Beach

Ciluk.... Baaaa!

Butuh satu jam lebih dari Chang Puak Champ menuju Songkhla. Pasar, debu dan anak sekolahan menghiasi pemandangan jalan raya yang kita lewati. Tapi semua terbayar dengan pemandangan savana pasir putih yang cantik, irama ombak yang menenangkan dan kicauan burung yang menyambut kita di Pantai Samila. Kapan ya terakhir kali gue ke pantai? Kalo diinget-inget, udah lama bangetttt. Pas gue TK. Nggak deng. Yang bener itu gue lupa kapan hahaha.

Di sekitar pantai, banyak pedagang kaki lima dan kios-kios yang menjajakan makanan, aksesoris sampai oleh-oleh khas Songkhla. Di sini gue coba jajan kuliner kecil khas Thailand. Yang gue beli adalah es buah lontar dan ice cream kelapa.

Halal yah.


Tangannya Nalini nih.

Ice cream kelapa ini terdiri dari ketan, potato kering, kacang, susu kental manis, potongan buah lontar dan ice cream kelapa. Satu cup ice cream kelapa ini diharga 30 bath. Cukup murah dan rasanya enak. Sedangkan untuk es buah lontar itu semacam es kelapa. Kalo es kelapa es dicampur air kelapa, air gula dan kelapa, kalau es buah lontar ini campuran es, air gula dan buah lontar yang teksturnya mirip kolang-kaling.

Sambil muter-muter sambil cari oleh-oleh yang Thailand banget. Eh nemu gelang karet dengan tulisan Thai. Harganya lumayan mahal, satunya 15 Bath. Berhubung masih hari pertama di Hat Yai, gue memutuskan cuma beli 3. Karena gue pikir gelang ini akan ada di tempat belanja oleh-oleh lainnya. Tapi ternyata nggak ada. Hiks. Nyesel deh cuma beli 3.

Bahkan gue pun nggak tau tulisan ini artinya apa.

Setelah menikmati sunset di Samila Beach, kita bertolak kembali ke pusat Kota Hat Yai untuk makan malam di rumah makan muslim tempat kita makan siang. Menu dinner malam pertama kita di Hat Yai adalah roti canai dan milo ice. Kenapa kita makan roti canai aja? Karena budget makannya menipis akibat pesan Tom Yam tadi siang. Hahahaha.

Tapi tapi dengan memesan roti canai, gue jadi tau perbedaan roti canai di Malaysia dan di Thailand. Walaupun makanan ini berasal dari India, Malaysia dan Thailand punya cara penyajiaannya sendiri. Kalau roti canai versi Malaysia, disajikan dalam bentuk bulat dan pipih yang dibentangkan di atas piring bersama bumbu kari yang taru di mangkok kecil. Sedangkan roti canai versi Thailand disajikan dalam bentuk lipatan yang dipotong rapih dengan tekstur yang lebih tebal daripada versi Malaysia dan disajikan bersama dengan susu kental manis. Kalau disuruh milih, gue lebih suka roti canai versi Thailand. Karena lidah gue kurang cocok sama kari India. Hehehe.

Perut sudah diisi. Waktunya kembali ke hotel untuk istirahat. Gue memilih untuk recharge energi malam ini di hotel, full sampe besok pagi. Sedangkan Yodi, Oten dan Shindy mengeksplor daerah sekitar hotel untuk cari banci di tempat karaoke yang pada akhirnya Shindy ditinggal. Sabar ya Ibu Shindy.....

Agenda hari selanjutnya adalah pergi ke Wat Hat Yai Nai, beli oleh-oleh dan dapat jatah naik di koc sleeper train untuk kembali ke Kuala Lumpur. Penasaran?? Stay tuned!!

Eh sebelum beranjak, ada bonus nih: jajanannya Shindy di Sevel.


Comments

Popular posts from this blog

Mall-Mall yg Dapat Dijangkau Dengan Commuter Line

“Murah dan nggak macet.”
Ini adalah prinsip gue dalam memilih sarana transportasi umum di Jakarta. Ke mana pun dan sejauh apapun jaraknya, selama bisa dijangkau dengan Commuter Line, gue akan selalu siap walau dalam kondisi apapun termasuk jika keadaan memaksa gue untuk pergi seorang diri. Ke kantor, ke kampus, ke terminal, ke pasar, atau pun ke rumah temen, gue akan selalu mencari stasiun terdekat dari tempat yang ingin gue tuju.

Kenalan sama ISI 2012 Yuk!

Tak kenal maka tak sayang.
Sebelum gue lanjutkan cerita trip gue ke MY – THAI Day 2, alangkah baiknya kalian baca ini dulu.
Di MY – THAI Trip Day I pasti kalian bertanya-tanya, siapa sih ISI 2012 itu? Siapa sih para penyabun itu? Siapa sih tim cewek-cewek? Siapa sih Sir Gufron? Siapa sih yang ngendarain kereta monorailnya?
Nah di sini gue bakal ngenalin apa dan siapa ISI 2012.