Skip to main content

Senjata Tersakral.

Prajurit perang pasti butuh senjata untuk berperang. Begitu pun prajurit peron. Gue juga butuh senjata untuk memperebutkan sejengkal tempat berdiri di Commuter Line. Berperang untuk tetap bertahan di dalam Commuter Line dengan tekanan, gesekan dan dorongan dari segala arah. Dan ini adalah senjata terpenting gue.




1. Sneakers

Ini adalah senjata perang gue yang paling sakral. Kalo nggak ada ini, jurus seribu langkah menaiki tangga penyebrangan peron di Stasiun Tanah Abang nggak akan berhasil. Biasanya ada mantra khusus ketika pintu commuter line di jalur dua terbuka dan gue mulai mengeluarkan jurus andalan gue itu, “Serpong!!!!!!!!!”. Kemudian menerobos apapun yang ada di depan mata.


Misi... misi... misi...

Begitu pun ketika pintu Commuter Line Serpong terbuka di jalur 5/6, gue juga akan mengucapkan mantra, "Bogor!!!!!!" jika pada saat itu gue lihat Commuter Line Bogor sudah bertengger di jalur 3 Stasiun Tanah Abang.

Coba kalo gue pake flat shoes, hak tinggi atau wedges? Baru tiga langkah lari di tangga, sepatunya lepas, balik lagi buat mungut dulu terus lari lagi, ujungnya ketinggalan kereta.

Jadi kalau Yunita + Flast Shoes / hak tinggi / wedges = bunuh diri.


2. Ransel

Ini senjata pertahanan gue. Terima saja, di dalam Commuter Line yang penuh sesak itu kejam banget. Kalian akan didorong, disenggol dan digencet. Sampai-sampai saat itu juga kalian bisa merasakan kalau kalian bukan lagi manusia. Melainkan perkedel.



Nah, di sini benda yang kelihatannya sepele ini sangat-sangat dibutuhkan. Dengan pemakaian yang tepat, benda ini bisa alat pertahanan diri dari ketangguhan makhluk-makhluk di gerbong wanita yang konon katanya lebih tangguh daripada penumpang laki-laki di gerbong umum. Caranya, sandang tas ransel ke depan dan kalian akan rasakan manfaatnya. Pastikan ransel kalian cukup lebar untuk menutup tubuh bagian depan kalian, terutama dada ya.

Kedua barang itu adalah senjata tersakral gue untuk bertahan hidup di dunia percommuter line yang keras. Nah, jadi apa senjata tersakral kalian?

Comments

  1. Sneakers OK. Tapi klo ranselnya besar bukannya malah menghambat gerakan untuk mencari posisi strategis ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mas Wihikan! Saya tidak bilang jika ranselnya terlalu besar. Saya hanya menyarankan memilih ransel yang cukup lebar supaya dapat menutupi tubuh bagian depan (khususnya wanita), karena terkadang gerbong wanita lebih kejam daripada gerbong umum dikala dalam kondisi super duper penuh. Hehehe.

      Tapi kalau memang ranselnya besar atau terlalu besar untuk disandang ke depan, sebaiknya memang ditaru di tempat yang sudah disediakan. ^^

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Mall-Mall yg Dapat Dijangkau Dengan Commuter Line

“Murah dan nggak macet.”
Ini adalah prinsip gue dalam memilih sarana transportasi umum di Jakarta. Ke mana pun dan sejauh apapun jaraknya, selama bisa dijangkau dengan Commuter Line, gue akan selalu siap walau dalam kondisi apapun termasuk jika keadaan memaksa gue untuk pergi seorang diri. Ke kantor, ke kampus, ke terminal, ke pasar, atau pun ke rumah temen, gue akan selalu mencari stasiun terdekat dari tempat yang ingin gue tuju.

Kenalan sama ISI 2012 Yuk!

Tak kenal maka tak sayang.
Sebelum gue lanjutkan cerita trip gue ke MY – THAI Day 2, alangkah baiknya kalian baca ini dulu.
Di MY – THAI Trip Day I pasti kalian bertanya-tanya, siapa sih ISI 2012 itu? Siapa sih para penyabun itu? Siapa sih tim cewek-cewek? Siapa sih Sir Gufron? Siapa sih yang ngendarain kereta monorailnya?
Nah di sini gue bakal ngenalin apa dan siapa ISI 2012.

MY – THAI Trip Day 2, Welcome to Hat Yai!

Hai!
Udah penasaran banget sama cerita MY – THAI Trip hari keduanya? Udah penasaran banget gimana tingkah gue naik sleeper train? Udah penasaran banget gimana kesemutannya gue duduk di bangku kereta selama 12 jam? Udah penasaran banget sama orang-orang macam apa yang gue temuin di sleeper train? Udah penasaran banget sama larangan di sleeper train? Udah penasaran banget sama..... /plak Ini ditampar karena kelamaan.