6 Aug 2015

Trainveler Goes to Bandung (Day 1)

Selamat datang di Kota Kembang!!!  

Sebelum baca postingan ini, ada baiknya baca dulu postingan gue sebelumnya di (Harus) Berani Solo Traveling.

Yeay! 1 Agustus 2015, pukul 11:58 WIB, gue berhasil menciptakan rekor buat diri gue sendiri yaitu.... Solo Traveling! Tanpa orang tua, tanpa saudara, tanpa teman dan tanpa orang yang dikenal!!!

Setelah melangkahkan kaki ke luar stasiun, gue bergegas download W**AZE. Niatnya biar bisa bantu gue nemuin hotel yang sudah gue reserve dan nggak usah repot-repot nanya orang. Eh tapi gue salah. Salah banget! Gue salah banget ngandalin W**AZE dan ngeremehin 'nanya warga sekitar'. Yang bener aja, gue diajak muter-muter selama setengah jam sama W**AZE. Padahal yang gue baca di internet dan di W**AZE juga, jarak dari Stasiun Hall Bandung ke hotel itu cuma 1km dan cuma ditempuh selama 10-15menit. Akhirnya gue nyerah dan jalan terakhir adalah nanya warga sekitar. Sesumbar sih! Sok hebat! Sok bisa sendiri! Iyaiya maaf...

Setelah bertanya sama orang yang gue temuin di setiap persimpangan jalan dan juga nelpon hotelnya, akhirnya gue sampailah di hotel, By Moritz Hotel. Dan gue pun sadar kalo jaraknya emang deket dari Stasiun Hall. Tapi... orang yang gue tanyain jumlahnya banyak banget, 6 orang. Duh... gue bukan analis jalan yang baik.

Gue diantar ke kamar gue di lantai satu sama Akangnya setelah check in dan membayar sejumlah uang sewa kamar. Kamar yang gue pilih adalah kamar untuk 2 orang dengan shared bathroom yang harganya 130ribu per malam. Murah bukan? Murah, kalo berdua. Tetep aja kalo sendirian tapi bayar buat dua orang agak boros juga. #perhitungan


Ini kamar gue. Yang di sebelah kanan itu bukan celana dalem, tapi masker!

Nah, karena hotel ini khusus untuk backpacker, jadi jangan mengharapkan fasilitas mewah kayak kolam renang, tempat gym dan lift. Eitsss, tenang dulu. Hotel ini menyediakan fasilitas wifi di lobby kok. Jadi kalian bisa tetep akses internet waktu di hotel. Nggak cuma itu aja, staffnya juga ramah-ramah. Mereka awalnya doang keliatan serem dan galak. Mungkin karena penampilan yang gondrong. Tapi kalo udah sharing tentang traveling, kalian bisa dikasih tips-tips dan rekomendasi tempat wisata yang keren dan antimainstream. Jadi, kalo kalian memilih hotel ini sebagai tempat untuk stay, cobalah untuk berkomunikasi dan sharing sama mereka. Karena mereka notabanenya adalah travel guide.

Jam stengah 4. Selesai ditutorin dan dibekalin sebuah peta city tour Bandung sama akang-akang guide di hotel, akhirnya gue beranjak dari hotel dengan membawa tas ransel gue yang isi bajunya udah gue keluarin dan ditaro di kamar. Hanya tinggal botol minum, peta city tour, buku catatan, pulpen, dompet, parfum dan power bank yang nggak berguna sama sekali.

"Dari sini belok kiri, lurus...... di belokan kedua baru belok kanan. Lurus lagi terus belok belok kiri. Dari situ jalan aja nanti ketemu Masjid Agung sama Alun-alun."



Ice cream!!

Yup! Tempat pertama yang gue kunjungin adalah Masjid Agung dan Alun-alun. Berhubung lagi pre solat, jadi nggak bisa masuk ke Masjid Agung. Akhirnya cuma bisa jalan-jalan di Alun-alun dan samping MD Plaza. Rame banget! Ada yang piknik. Ada yang lagi pacaran, ada yang lagi foto-foto, ada yang lagi berantem juga. Yang jelas, nggak ada yang lagi buang sampah sembarangan. Keren kan? Bandung sekarang cakep ya....

Emangnya pernah ke Alun-alun nih?
Belum sih... tapi ya yang gue baca di internet, Bandung sekarang lebih baik daripada yang terdahulu.
 
 Cobain cimol asli Bandung.
 
Nggak kuat. Banyak orang pacaran. 

Masjid Agung nampak saat senja. 

Bosan cuma duduk dan ngeliatin orang-orang pacaran, gue memutuskan melanjutkan citytour. Sambil buka selembar peta fotokopian yang ditebelin sama pulpen, gue memilih Asia Afrika sebagai tempat selanjutnya!

 Di samping Museum Asia Afrika.

Nggak ada lima menit jalan dari Alun-alun, gue udah sampe di Jalan Asia Afrika. Yaiyalah... orang deket banget. Di sana berdiri kokoh bangunan Museum Asia Afrika. Tapi gue nggak masuk. Pemandangan di samping gedung Museum Asia Afrika malah lebih menarik perhatian gue. Seketika langsung berasa lagi di Car Free Day HI. Banyak pocong, kuntilanak, badut sama Naruto! Hiw... seru banget. Lebih seru lagi ngeliat anak kecil nangis sesenggukkan digodain pocong. Ini jahat sih...

Nggak cuma rame karena ada cosplay, stand-stand makanan dan Live Music juga ada. Seru banget. Berhubung masih terlalu sore, jadi gue melanjutkan perjalanan lagi. Seperti biasa, buka peta dulu. Baca, terus dipahami. Baru deh nentuin destinasi yang paling dekat. BRAGA!!

Kayak apa sih BRAGA ini? Kayaknya gue baca di internet tampilannya biasa aja deh. Cuma jalan yang dihiasi lukisan-lukisan yang dijual. Karena penasaran, akhirnya gue jabanin. Jalan kaki lagi dari Asia Afrika. Pas di persimpangan lampu merah, gue coba tengok kiri-kanan. Dan bingo!!! Tepat di seberang gue ada tulisan BRAGA yang besar berwarna merah. It means... gue udah sampe di BRAGA nih!


Akibat nggak ada yang fotoin.

Ohya... ternyata ke-sok-tau-an gue salah lagi. BRAGA nggak se-biasa yang keliatan di internet. BRAGA lebih cantik daripada yang terpapar di internet. Gue salah... lagi. Yunita selalu salah. BRAGA emang salah satu destinasi yang harus dikunjungi di Bandung. Apalagi buat kalian pecinta kuliner, tempat ini cocok banget! Tapi sayangnya, gue bukan pecinta kuliner. 

Lalu apa yang gue lakukan di sana? Sightseeing doang! Hahaha. Inget budget!

Setelah menyusuri jalan BRAGA, gue tetap pasrah mengikuti kemana kaki gue melangkah. Sampai akhirnya gue berhenti di sebuah taman yang sore itu sedang ramai dikunjungi, Taman Walikota Bandung. Pemandangan yang gue temui nggak jauh beda sama pemandangan di Alun-alun. Yang membedakan, di sini paling banyak orang pacarannya. Di Taman Walikota Bandung ini juga gue lihat ada satu bis warna merah yang gue sendiri nggak tau buat apa. Karena bentuknya yang unik, gue selfie aja. Nasib nyolo traveling, nggak ada yang diminta tolong buat fotoin. Hiks.

 
 Bandros, citytour busnya Bandung.

Gue yang masih penasaran sama Gedung Sate masih tetap menyusuri jalan di sekitar taman. Tapi apadaya, hari sudah mulai sore dan kaki udah minta dibalut pake koyo. Akhirnya gue memutuskan untuk balik ke hotel.

Gue kembali ke hotel dengan rute yang sama. Lewat BRAGA, Asia Afrika, Alun-alun. Perjalan mulus.... Gue masih tenang karena masih ingat jalan. Tapi, setelah itu kesialan mulai menghinggapi diri gue yang mungil dan banyak dosa ini. *muntah* Gue lupa masuk gang mana untuk bisa sampe di hotel!!!

Mati gue! Udah gelap, jalanan udah sepi padahal baru jam 7 dan semua gang nampak sama. Dengan kaki yang gemetar, gue coba masuk ke gang satu per satu. Tapi semua nihil. Nggak ada satu dari gang itu yang bawa gue kembali ke hotel. Ketar ketir bangettt!! Nggak ada orang buat ditanya. Kiri-kanan gelap. Hape gue lowbat. Ah... mati gue mati!

Tiba-tiba...


"Mbak, mbak lagi nyari alamat?" tanya seseorang yang memberhentikan motornya di samping gue. Seorang laki-laki berusia sekitar 27 tahun dengan helm yang masih menutupi kepalanya menghentikan langkah gue.

"Iya mas." jawab gue seadanya. Gue inget kata bokap pagi tadi di telepon waktu di Stasiun Gambir, nggak boleh sok akrab sama orang yang baru di kenal.

"Alamatnya di mana?" tanyanya kembali.

"By Moritz Hotel." jawab gue. Masih seadanya.

Gue bisa tau kalo doi ngerutin keningnya walaupun keningnya ketutupan helm. Sok tau lagi? Enggak. Ini beneran. Ini beneran kalo dia nggak tau.

"Kompleks Luxor mas, tau?" jelas gue.

"Mau bareng saya?" tanpa menjawab pertanyaan gue, mas satu ini udah nawarin gue buat nebeng sama dia.

"Gapapa mas?" gue tertegun mendengar tawarannya, tapi disaat yang bersamaan gue juga takut dan pasang status siaga satu.

"Gapapa mba. Abis mbanya kasihan jalan sendiri kayak orang kebingungan. Kalo mau nebeng aja sama saya." tuturnya.

Siaga dua! Doi mulai agak memaksa gue buat nebeng. Perasaan langsung gue campur aduk. Antara khawatir, taku dan pengen nebeng juga. Terus mulai menerka-nerka mas-mas ini orang baik atau enggak. Akhirnya dengan satu ucapan Bismillah, gue menerima tawaran doi. Jalan terakhir karena nggak ada orang lain di sekitar yang bisa gue tanyain.

"Oke deh mas." kemudian gue naik ke motor.

"Itu di jalan apa mba?"

"Jalan Kebon Jati Kompleks Luxor."

"Oh itu mah di sebelah sana. Mbanya darimana? Jakarta?"

"Iya mas. Masnya asli sini?"

"Iya mba. Saya dari Gojek. Mba tau Gojek?"

Sekali lagi gue tertegun. Baru tadi pagi gue berniat mau nyoba Gojek di Bandung, eh udah disamperin Abang Gojeknya duluan. Rejeki anak yang nggak soleha-soleha banget.

"Ha serius mas? Iya saya tau."

"Pernah pake mba?"

"Wah sering mas kalo di Jakarta. Masnya biasa mangkal di sini?" tanya gue yang malah makin penasaran.

"Enggak. Ini saya lagi mau nganterin makanan. Saya belum dapet seragam tapi."
Setelah sampai di persimpangan, kita berpisah. Masnya mau nganter makanan, guenya balik ke hotel. Masnya lurus, guenya belok. Ending yang tidak bahagia ya.

Eh tapi tetep bahagia sih. Naik gojek gratis dan bisa balik ke hotel dengan selamat itu lebih bahagia. Sampe di hotel gue curhat sama Kang Doni, staff hotel yang lebih banyak andil dalam tutorin gue tentang tempat wisata di Bandung. Dan satu kenyataan yang sulit gue terima, hari itu gue nggak bisa naik Bandros, citytour busnya Bandung. Jadi kalo naik itu, nanti kita diajak muter-muter Bandung. Di setiap tempat wisata dia berhenti dan ada tour guide yang akan menjelaskan tempat-tempat itu. Hiksss. Sedih banget baru tahu pas balik ke hotel, udah malem. Sedangkan besok gue harus check out pagi-pagi buat ke Lembang. Nggak jadi ke Ciwidey, karena macet cet cet.

Nah buat yang nanya, "Abis berapa di Bandung?" nih gue kasih daftar pengeluaran gue;

Hari pertama di Bandung:
Sewa kamar: Rp 130.000,-
Air mineral 2Liter (beli di hotel): Rp 7.000,-
Ice Cream (beli di samping MD Plaza): Rp 5.000,-
Cimol (beli di samping MD Plaza): Rp 5.000,-
Pisang (beli di Circle K): Rp 4.500,-

Total: Rp 151.500,-

TIPS!
1. Usahakan booking kamar terlebih dahulu minimal 1 hari sebelum menginap via telepon karena By Moritz selalu full booked setiap hari. Info lengkap mengenai By Moritz Hotel dan kontak untuk booking kamar silahkan mengunjungi website By Moritz di sini.

2. Rute dari Stasiun Hall menuju By Moritz Hotel;
- Keluar dari Pintu Selatan Stasiun Hall.
- Jalan lurus sampai bertemu Jalan Stasiun Timur kemudian belok kanan.
- Lurus kemudian belok kanan.
- Lurus sampai menemukan Plang By Moritz Hotel di sebelah kiri jalan.
- Jika merasa kesulitan, lebih baik bertanya pada warga sekitar dengan keyword, "Kompleks Luxor atau Jalan Kebon Jati."

3. Jika tidak mau berjalan kaki mengelilingi pusat kota, kalian bisa naik BANDROS, Bandung tour bus dari Alun-alun.
Jadwal pemberangkatan: Hari Sabtu s/d Kamis jam 08.00-15.00.
Harga tiket: Rp 10.000,-. Tapi katanya sekarang udah naik jadi Rp 17.500,-
Tujuan: Braga, Gedung Sate, Lembong, Sunda, Banceuy, Dago dan akan ada tour guide yang menjelaskan setiap tempat wisata tersebut.

4. Kunjungilah BRAGA dan Jalan Asia Afrika pada malam hari karena suasana di sana lebih hidup pada malam hari.

BONUS!
 
Nemu anjing waktu di perjalanan pulang ke hotel.

Punya tips lain jalan-jalan di Bandung? Share di komen ya!

2 comments :

  1. Halooo, Kak! Mau jadi bagian tim jelajah Kalimantan GRATIS dan dapetin MacBook Pro? Ikuti lomba blog "Terios 7 Wonders, Borneo Wild Adventure" di sini http://bit.ly/terios7wonders2015 #Terios7Wonders

    Jangan sampai ketinggalan, ya!

    ReplyDelete