Skip to main content

Trainveler Goes To Bandung (Day 2)



Setelah dianggurin di draft, akhirnya malam ini bisa diposting juga. Karena ceritanya banyak dan panjang, jadi gue nyicil. /tapi nggak satu bulan juga kali delaynya ya*. Hiks hiks.

Sebelum scroll down ke bawah, coba baca catatan hari pertama gue di Bandung dulu yah. Cek di sini.

*perjalanan hari kedua pun dimulai*

"Mau ke mana neng?"
"Rencana mau ke Ciwidey kang."
"Wah jauh banget kalo dari sini."
"Dari sini naik apa ya?"
"Mau naik angkot? 3 jam lho perjalanannya, itupun kalo naik kendaraan pribadi. Kalo naik angkot bisa lebih."

Pasukan guide di By Moritz Hotel seketika mengerubungi setelah kata "Ciwidey" keluar dari mulut gue. Apalagi setelah tersirat rencana "ngangkot" dari Pusat Kota Bandung menuju ke sana di dalam pertanyaan gue.

Gue sempet terheran-heran. Apa segitu jauhnya? Apa segitu macetnya? Berarti tempat itu spesial dong karena banyak yang ngunjungin. Berarti tempat itu worth it dong. Well, pernyataan dan penerka-nerkaan di atas ternyata tidak lebih kuat daripada statement pasukan guide By Moritz tentang "betapa jauh dan macet"nya kawasan Ciwidey. Mereka malah menyarankan gue untuk mengurungkan niat "ngankot" ke sana, apalagi dengan jadwal kereta balik Jakarta jam 4 sore.

"3 jam itu hari biasa. Kalo hari libur bisa lebih dari itu karena macet banget."

Oke fix. Rencana gue Hari Minggu dan semua orang tau itu hari libur.

"Mending ke Lembang aja. Bogonia bagus."
"Begonia? Kebun Bunga Begonia? Iyaiya saya tahu mas! Gimana caranya ke sana?"
"Naik angkot dari depan sini. Kalo ke Lembang bisa dapet 3-4 tempat lah dalam sehari."

Begonia!! Gue sempat liat penampakan Kebun Bunga satu ini lewat hastag bandungvellers di instagram. Sebenarnya pengen banget ke tempat ini, tapi berhubung nggak tahu lokasinya jadi terlupakan deh waktu di Bandung. Untungnya ada Kang Doni yang ngingetin gue. Dan fix! Gue mengurungkan niat untuk ke Ciwidey dan memutuskan untuk ke Lembang.

Jam 6, gue bangun dan mulai berkemas untuk check out hotel. Tujuan gue pagi itu adalah Lembang. Gue memutuskan untuk check out dari hotel jam 7. Setelah bertanya sama orang yang menurut tebakan gue adalah supir angkot di terminal, akhirnya gue pun naik angkot ke jurusan Lembang. Ongkos yang dikenakan ternyata juga berbanding terbalik sama review yang gue baca masih di website yang sama tadi. Abang supirnya sempet jelasin ke gue kalo dari Stasiun Hall ke Ledeng Rp 5.000,-, dari Ledeng ke Lembang Rp 5000,-. Jadi total ongkos dari Stasiun Hall ke Pasar Lembang Rp 10.000,-. Yang jelas menurut gue ongkos angkot segitu terlalu mahal. Hiks. CMIIW.

Kondisi jalan di Bandung pagi itu lancar, tapi perjalanan dari Stasiun Hall menuju Lembang menghabiskan waktu 1 jam. Kenyataan ini berbanding terbalik sama review yang gue baca di website orang. Di sana tertulis waktu yang ditempuh dari Stasiun Hall ke Pasar Lembang hanya 30 menit. Percaya nggak percaya, setelah gue telaah dengan baik, intensitas ngetem sang supir benar-benar mempengaruhi waktu perjalanan. Jadi, buat kalian yang ingin sampai di Lembang dengan cepat, kalian bisa melemparkan pertanyaan kepada supir angkot terlebih dahulu sebelum naik angkotnya. Misalnya pertanyaan seperti ini, "Pak, ngetemnya berapa kali ya?".

Sesampainya di Pasar Lembang, gue menghampiri deretan delman yang sedang bertengger di pertigaan jalan. Kali ini gue kurang beruntung. Lagi-lagi review di website itu nggak  sejalan dengan kenyataan yang gue alami. Ongkos delmannya memang 5rb/orang, tapi itu kalo jumlah penumpangnya 4-5 orang. Apesnya lagi, pagi itu nggak ada orang yang punya tujuan sama kayak gue. Akhirnya abang delman pun menyarankan gue untuk naik ojek dengan tarif 10 ribu setelah liat tampang melas gue. Tanpa berpikir dua kali gue menerima saran beliau. Daripada gue naik delman sendirian bayar 25ribu? Hidup itu emang berat. Dan faktanya bukan cuma di Jakarta aja. Di Bandung pun demikian.

Udara di Lembang ternyata lebih dingin daripada di pusat kota Bandung. Gue masih bisa ngerasain dingingnya menembus celana levis gue yang cukup tebal. Alhasil, bulu kuduk gue nggak turun-turun selama di motor. Lembang juara!


Sepotong Surga di Tanah Lembang.

Nggak butuh waktu lama, gue pun sampai di depan Kebun Bunga Begonia. Excited? Banget! Karena gue suka bangettttt bunga! Ini serius, bukan pencitraan.

Pemandangan pertama yang gue liat, warna merah mendominasi. Cantik! Banget!

Taman bunga yang ada di ketinggian 1200mdpl ini didominasi sama Bunga Balinea. Bunga Balinea adalah Bunga Begonia asal Bali yang bisa berbunga lebat sepanjang musim. Nggak hanya Bunga Balinea, di sini juga ada Bunga Lavender, Krisan dan Bunga Matahari. Bahkan ilalang pun juga ada. Jadi, tempat ini cocok banget buat selfie pra-wedding dan ngedate. Taman bunga yang bikin berbunga-bunga.
Welcome to da paradise!

 

 

 

 

Saking excitednya, gue sampe lupa kalo gue ke sini sendirian. Saking sendiriannya, gue bingung mau minta fotoin sama siapa. Tapi untungnya gue nggak sial lagi kali ini. Seorang staf kebetulan lewat di dekat gue. Tanpa menyambung urat malu yang udah putus pun gue langsung minta tolong si akang untuk fotoin gue. Hehehe. Untungnya lagi, akangnya baik.
 
 
Katanya yang di belakang itu namanya Bukit Begonia. Bukit paling tinggi di Bandung. Lebih tinggi daripada Tebing Keraton.

Tahukah kalian? Nggak hanya hamparan bunga-bunga cantik yang menyapa indra penglihatan gue, suara alunan angklung yang nentramin hati juga menyapa telinga gue dan pengunjung lain dari balik saung yang terletak di pojok kebun. Juga nggak ketinggalan sapaan hangat dari para staf yang memberikan kesan tersendiri ketika gue berkunjung ke sini.

Duh, dekilnya saya.


Panen Si Cherry.

Gue sangat salah berpikiran kalau tempat wisata ini hanya menyediakan hamparan bunga-bunga cantik. Karena pada kenyataannya di sini juga ada kebun sayurnya. Setelah berbincang-bincang dengan Akang Hendi di tengah kebun, beliau mengajak gue untuk memanen sayuran. Kebetulan sayuran yang sedang panen saat itu adalah Tomat Cherry. Dan kebetulan waktu masih mengais rejeki di tempat kerja lama, gue cuma bisa liat hasil akhir dari Tomat Cherry ini. Tanpa basa-basi, gue pun menerima ajakan Akang Hendi.
 

Setelah masuk ke dalam kebun tomat, gue terheran-heran. Ternyata pengunjungnya cuma gue. Wah... apa cuma gue yang excited manen tomat? Pengunjung lain ternyata sibuk selfie di kebun sebelah. Hm. Sudah kuduga.

Kali itu, gue ditemani Kang Hendi dan dua orang staff lainnya. Dan di selah-selah memanen tomat, tiba-tiba Kang Hendi menawarkan gue sesuatu.

"Neng sarapan neng ini ambil nih masih panas. Tau nggak ini apa?"

"Ohhhh. Peyek ya!" dengan super percaya diri gue menjawab.

"Ini bala-bala. Tau nggak bala-bala?" jawab Kang Hendi.

"Ohhhh. Tadi bentuknya kayak peyek." terus gue malu karena salah jawab. Serius, gue liat kayak peyek. Tipis dan lebar. Menggoda banget.

".... Kalo di Jakarta namanya Bakwan kang." sambung gue.

"Bakwan kalo di sini bakso."

"Bakwan Malang ya?"

Kemudian berlanjut sampai pada pertanyaan mainstream yang gue temuin selama Solo Traveling pertama gue ini, "Kok sendirian sih?". 

Rasanya pengen gue tulis di kertas dan gue tempel di jidat gue, "Jangan tanya kenapa saya pergi sendiri."

Oke. Kembali ke Kebun Tomat. 

Lagi-lagi gue terpanah. Selain rasanya yang manis, ternyata harga tomat cherry di sini cukup murah lho. 1kg hanya 50ribu. Sedangkan kalo beli si supermarket, jauh lebih mahal. Dan gue agak menyesal cuma manen 200gr karena ini cocok banget dijadiin cemilan selama solo traveling gue. Hiks.
 
 200gr = 10ribu lho!


Tak Sesederhana Menyebrang Jalan.

Puas lari-lari, selfie, cium-cium bunga dan manen tomat, dengan sedih gue pun pamit pulang. Berbekal petunjuk dari Akang Hendi, gue melangkahkan kaki ke luar Kebun Bunga Begonia. Sambil menyelam minum air. Dengan ketidaksabaran gue menunggu angkot jurusan Pasar Lembang yang tak kunjung datang, akhirnya gue nyicil jarak dengan jalan kaki.

Selang sepuluh menit, akhirnya angkot berwarna kuning kecokelatan pun menampakkan batang hidungnya di jalan Maribaya yang sedang gue tapaki. Dengan nafas lega gue naik ke dalam angkot setelah angkot tersebut berhenti. Gue bersyukur, gue nggak perlu jalan kaki sampe 2km dengan bawa beban tas ransel yang berat. Fyi, jarak dari Begonia ke Pasar Lembang sekitar 2km. Ini gue cek lewat aplikasi GOJEK. *cmiiw*

Nggak butuh waktu lama, angkot yang gue tumpangi pun sampai di Pasar Lembang. Dengan sedikit gerogi, gue membayar ongkos hanya dua ribu rupiah ke abangnya. Beruntunglah sang supir nggak terlalu sadar kalo uang yang gue lipat-lipat ternyata cuma terdiri dari satu lembar uang dua ribuan. Abis itu gue ngacir.

Perjalanan selanjutnya, gue memutuskan untuk mengunjungi Floating Market. Sesuai dengan informasi yang gue dapat dari warga sekitar pasar, letak Floating Market nggak jauh dari Pasar Lembang. Dan untuk kesekian kalinya gue merasa bersalah sama kedua betis gue.

Nak, kita jalan kaki lagi ya.

Track yang harus dilewati ternyata lebih sulit daripada Track ke curug. Gue harus lewat pasar. Iya, gue harus lewat pasar. Gue tekenin, gue harus masuk ke dalam pasar untuk sampai ke seberang. Coba bayangin, kiri-kanan tukang ayam-sayur-ikan-daging-ciki-dan tetek bengek lainnya. Sedangkan di tengah hanya ada jalan sempit yang terhimpit orang-orang yang sibuk belanja. Bayangkan, gue harus menerobos lautan manusia dengan tas ransel di pundak. Gue harus melawan arus lautan manusia dengan tas ransel di pundak yang cukup makan tempat. Trust me, itu perjuangan banget.

Sambil berharap sambil cemas, gue berdoa semoga jalan yang gue ambil benar. Akan sangat-sangat nggak lucu kan kalau ternyata jalan yang udah gue tempuh malah menjauhkan gue dari lokasi Floating Market. Gue nggak bisa ngebayangin harus masuk ke dalam pasar lagi. Nggak lagi-lagi deh.

 Cuma Sightseeing.

Setelah berhasil menerobos lautan manusia-ayam-ikan-daging-sayuran-ciki, gue masih mengikuti ke mana kaki gue melangkah. Masih cemas karena gue nggak tau lasti lokasi Floating Market. Sampai akhirnya gue bertanya sekali lagi sama Teteh-teteh yang lewat.

"Oh Floating Market? Masuk Gang ini aja. Nanti belok kanan terus belok kiri. Nah di situ Floating Market."

"Makasih ya Teh."

Gue menolehkan kepala dan... di depan gue ternyata ada plang segede gaban yang bertuliskan, "Floating Market". Oke. I'm so dumb. Gue memutuskan untuk tidak meratapi kebodohan gue lagi. Gue jalan terus. Pantang mundur. Pantang minta dibawain tas sama orang lewat.

Perjalanan dari depan gang menuju ke dalam memang nggak terlalu jauh. Tapi cukup melelahkan kalo jalannya sambil gemblok tas ransel seberat hampir 2kg.

Sampai di depan, gue langsung dipalak beli tiket sama petugas yang berdiri di gerbang masuk. Akangnya cekatan sekali. Setelah gue liat sekitar, ternyata yang jalan kaki cuma gue doang. Haah, pantes gece.

Yeay! Pasar Apung! Berhubung di Thai kemarin gagal ke Floating Market, sebagai gantinya Floating Market di sini juga nggak masalah.

Kembali ke rencana awal, niat ke sini nggak untuk wisata kuliner. Karena katanya mahal ya? Iya katanya. Jadi gue memutuskan untuk sightseeing aja.
  



 Hello Si Pecinta Wortel!

Fakta yang gue dapatkan, Floating Market nggak hanya menyediakan wisata kuliner terapung dengan koin khusus sebagai alat pembayarannya. Di dalamnya ternyata juga banyak tempat-tempat menarik. Contohnya adalah Taman Kelinci. Karena gue suka binatang berbulu halus, tanpa berpikir dua kali pun gue memutuskan untuk masuk.

Yellow fellas!

Dengan biaya 20ribu, pengunjung bisa bermain dan memberi makan kelinci dengan satu buah wortel yang diberikan petugas di pintu masuk taman. Tapi sangat disayangkan sekali kelinci-kelinci di sini terlihat pendiam. Ini terbukti dari tatapan mata dan tingkahnya yang selalu sembunyi di dalam lorong-lorong. Mereka nampak menjauh ketika pengunjung menyodorkan wortel.

 


Pujaan Hati Dalam Diorama.

Gue bener-bener nggak tau kalau ada tempat ini di Bandung. Waktu baca papan yang bertuliskan, "Miniatur Kereta Api Terbesar di Indonesia", gue pikir itu cuma wahana kereta mini yang kayak di rumah gue. Yang tarifnya 5ribu untuk dewasa dan 3ribu untuk anak kecil. Eh ternyata bukan. Ini...... surga!

Surga dunia gue
   
Miniatur di sini lengkap banget. Ada kereta barang, kereta penumpang, stasiun, keadaan alam di sekitar rel kereta, menara, jalan tol dengan mobilnya, sampe jembatannya pun ada. Cuma dengan 15ribu dan tanpa batas waktu, pengunjung bisa lihat tempat keren ini. Dan buat kalian yang ngaku pecinta kereta, tempat ini wajib dikunjungi!

 

 



*memasuki kawasan tanpa foto karena hape lowbat*

Ketika Welcome Drink Menjelma Menjadi Goodbye Drink.

Waktu menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Sinar matahari di langit Lembang terasa semakin terik setelah gue sadar persediaan air minum gue tinggal beberapa tetes di botol minum Elemen kepunyaan bokap. Dan gue pun sadar, gue butuh minum. 

Gue memutuskan untuk menghentikan penjelajahan di Floating Market. Kaki gue melangkah menuju pintu masuk yang juga merupakan akses untuk keluar. Antrian pengunjung yang mengular adalah pemandangan sama yang nggak berubah semenjak gue menginjakkan kaki di sini. Awalnya, gue nggak peduli. Tapi setelah gue baca papan di ujung antrian, "Tukarkan Tiket Masuk dengan Welcome Drink".

What The Ffffffffffff......

Gue lemes. Jadi orang-orang ini antre bukan untuk nukar uang mereka jadi koin? Gue buru-buru cari tiket masuk yang keselip di kantong tas paling depan. Demi segelas minuman dingin pelepas dahaga, gue rela semangat lagi buat antre. Oh minuman dingin.

Dari beberapa pilihan minuman, akhirnya gue memilih lemon tea dingin sebagai penyapu tenggorokan gue yang kering. Kemudian minuman dengan wadah paper cup itu pun habis dalam satu tegukan.


Maaf, Saya Terlalu Lemah.

Waktu tepat menunjukkan pukul dua belas siang. Niat hati kepengen ngelanjutin perjalanan ke tempat wisata lain di Lembang kayak Dusun Bambu dan Boscha. Tapi apa daya, kaki-kaki pendek gue mulai kehilangan kekuatan untuk menopang beban tubuh. Pundak yang sejak kemarin sekuat baja menyandang tas ransel akhirnya menyerah juga. Belum lagi, kondisi lalu lintas dari Lembang ke Pusat Kota Bandung yang gue nggak tau sama sekali apakah lancar atau macet. Dan yang paling fatal, handphone gue lowbat dan powerbank pun nggak berguna. Dengan sangat menyesal, gue memutuskan untuk kembali ke Stasiun Hall sambil menunggu pemberangkatan kereta ke Jakarta.

Lalu lintas Lembang siang itu memang macet. Tapi ternyata kemacetan hanya sampai Terminal Ledeng. Setelah itu lancar sampai pusat kota. Di tengah perjalanan, gue menyempatkan diri untuk mampir ke Cihampelas sebentar untuk beli oleh-oleh. *habis dipalak orang rumah* Sehabis itu, baru lanjut ke Stasiun Hall naik angkot.

Di luar dugaan, ternyata gue sampai di Stasiun Hall lebih cepat dari perkiraan. Jam setengah dua gue udah mendarat di Stasiun Hall. Sedangkan kereta gue berangkat jam empat sore. Mau jalan ke Museum Geografi, tapi kaki dan pundak udah melambaikan tangan. Akhirnya gue cuma planga-plongo.

Suasana Stasiun Hall saat itu cukup ramai. Bahkan tempat duduk di ruang tunggu nggak ada yang tersisa untuk diduduki. Tenggorokan yang satu jam setengah lalu disapu welcome drink di Floating Market kembali mengering. Lagu keroncong pun juga mulai mengalun di dalam perut. Kemudian gue sadar, gue belum makan nasi dari kemarin siang.

Seporsi nasi kuning dengan lauk ikan teri, sambal dan kerupuk seadanya serta segelas milktea gue pesan di sebuah warung makan kecil yang terletak di sudut Stasiun. Sebenarnya, ini sih cuma kedok supaya gue bisa duduk. Hehehe. Abis cuma di depan warung ini aja kursi yang tersedia. Berhubung perut lapar juga, akhirnya sekalian makan.

Pembunuhan waktu gue lakukan masih dangan planga-plongo. Tapi kali ini sambil ngemilin tomat cherry yang tadi dipetik di Kebun Bunga Begonia. Setelah jam tiga, gue boarding ke dalam dan akhirnya gue menemukan charger corner di ruang tunggu! Haaaaaa senangnya!

Eh tau nggak? Ada yang menarik perhatian gue di stasiun ini. Tepat di tengah ruang tunggu yang terletak di depan pintu boarding, ada sebuah panggung perkusi dan organ tunggal. Dan kalian tahu? Semua yang memainkan alat musik dan vokalisnya adalah tuna netra lho. Suara tetehnya merdu sekali. Jadi terharu banget liatnya. Duh, maaf ya nggak sempet ambil fotonya karena hape lagi mati total dan saat itu lagi diinfus di charger corner. Akhirnya gue cuma bisa ngeliatin. Niat mau ngisi kotak rejeki eh itu baru ingat pas udah ada di dalam kereta. Huhuhuhu.

Jam 4 sore, Argo Parahyangan mulai meninggalkan Stasiun Hall Bandung. Sore itu kereta yang gue naiki adalah kelas bisnis dengan gerbong paling depan setelah lokomotif. Teman duduk gue adalah seorang kakak cantik yang rumahnya di sekitar Tanah Abang. Di Bandung, dia mengunjungi orang tuanya. Dan kita mulai berbincang ditemani suara pintu sambungan gerbong yang macet dan sulit dibuka.

Sampai Jumpa Bandung! Terima kasih untuk setangkup pengalaman mengesankanmu!  2 hari 1 malam itu ternyata nggak cukup buat explore kamu. Apalagi 'ngangkot'.

*selesai*


Seperti biasa, berikut daftar pengeluaran gue di hari kedua;

Ongkos Angkot Stasiun Hall - Lembang: Rp 10.000,-
Ongkos Ojek dari Pasar Lembang ke Kebun Bunga Begonia: Rp 10.000,-
Tiket Masuk Kebun Bunga Begonia: Rp 10.000,-
Tomat Cherry 200gr: Rp 10.000,-
Ongkos Angkot Kebun Begonia - Pasar Lembang: Rp 2.000,-
Tiket Masuk Floating Market: Rp 15.000,-
Tiket Masuk Taman Kelinci: Rp 20.000,-
Tiket Masuk Miatur Kereta Api: Rp 15.000,-
Ongkos Angkot dari Lembang - Cihampelas: Rp 5.000,-
Ongkos Angkot dariCihampelas - Stasiun Hall: Rp 4.000,-
Nasi Kuning: Rp 15.000,-
Milk Tea: Rp 15.000,-

Total: Rp 101.000,-


Transportasi dari Stasiun Hall ke Kebun Bunga Begonia:
1. Naik angkot putih jurusan Lembang, turun di Pasar Lembang.
2. Dari Pasar Lembang bisa naik angkot ke jalan Maribaya, naik ojek atau juga bisa naik delman. Untuk delman usahakan minimal 3-4 orang supaya harga perorangnya murah karena satu delman ongkosnya 25ribu.

Transportasi dari Kebun Bunga Begonia ke Floating Market:
1. Tinggal naik angkot kuning ke Pasar Lembang, abis itu jalan kaki.

TIPS! 
1. Jika ingin ke Kebun Begonia dan Floating Market, lebih baik ke Kebun Begonia dulu, baru ke Floating Market biar nggak bolak balik naik angkot karena mereka satu rute.
2. Jangan lupa menukarkan tiket masuk Floating Market dengan welcome drink di pintu masuk ya!

Seperti postingan sebelumnya, di postingan ini gue akan kasih bonus juga;
Bonusnya adalah fun fact kalo di hari kedua ini, gue nggak mandi karena air di Bandung super dingin!

Dah ya! Terima kasih sudah membaca! Sampai jumpa!

Comments

Popular posts from this blog

Mall-Mall yg Dapat Dijangkau Dengan Commuter Line

“Murah dan nggak macet.”
Ini adalah prinsip gue dalam memilih sarana transportasi umum di Jakarta. Ke mana pun dan sejauh apapun jaraknya, selama bisa dijangkau dengan Commuter Line, gue akan selalu siap walau dalam kondisi apapun termasuk jika keadaan memaksa gue untuk pergi seorang diri. Ke kantor, ke kampus, ke terminal, ke pasar, atau pun ke rumah temen, gue akan selalu mencari stasiun terdekat dari tempat yang ingin gue tuju.

Kenalan sama ISI 2012 Yuk!

Tak kenal maka tak sayang.
Sebelum gue lanjutkan cerita trip gue ke MY – THAI Day 2, alangkah baiknya kalian baca ini dulu.
Di MY – THAI Trip Day I pasti kalian bertanya-tanya, siapa sih ISI 2012 itu? Siapa sih para penyabun itu? Siapa sih tim cewek-cewek? Siapa sih Sir Gufron? Siapa sih yang ngendarain kereta monorailnya?
Nah di sini gue bakal ngenalin apa dan siapa ISI 2012.

MY – THAI Trip Day 2, Welcome to Hat Yai!

Hai!
Udah penasaran banget sama cerita MY – THAI Trip hari keduanya? Udah penasaran banget gimana tingkah gue naik sleeper train? Udah penasaran banget gimana kesemutannya gue duduk di bangku kereta selama 12 jam? Udah penasaran banget sama orang-orang macam apa yang gue temuin di sleeper train? Udah penasaran banget sama larangan di sleeper train? Udah penasaran banget sama..... /plak Ini ditampar karena kelamaan.