Skip to main content

Alasan Solo Traveling; Patah Hati atau...?



Hai!

Sudah baca postingan solo traveling gue di Bandung? Kalau belum yuk diklik linknya di;

Kebanyakan orang melakukan perjalanan karena ingin menghilangkan kejenuhan, silahturahmi ke rumah kerabat, foya-foya atau sekedar mengisi moment di Path. Seperempat diri gue memang bagian dari 'kebanyakan orang' yang gue sebutkan di atas. Namun sisanya, tidak.

Banyak tulisan di website yang pernah gue baca mengatakan, traveling membuat hati senang dan pikiran menjadi ringan akibat stess karena rutinitas. Sebagian lagi mengatakan, traveling bisa menambah teman baru. Terlebih adalah solo traveling. Dan hampir semua website yang gue jumpai sepakat berpendapat, solo traveling menyembuhkan hati yang patah.

Lalu bagaimana dengan diri gue sendiri? Apa alasan gue melakukan solo traveling?
Hm. Sejujurnya, kalimat terakhir paragraf di atas adalah alasan gue melakukan solo traveling.

Iya.

P-a-t-a-h h-a-t-i

Gue patah hati. Hati gue runtuh dihantam kenyataan yang tak sejalan dengan ekspektasi perasaan. Beberapa minggu ini dada gue sesak. Tenggorokan juga ikut tercekat. Pandangan mata gue nanar. Gue tipe orang yang tidak sama dengan kebanyakan orang. Yang kehilangan nafsu makan jika sedang banyak pikiran. Gue kebalikannya. Yang akan banyak makan disaat banyak pikiran dan kehilangan nafsu makan disaat sedang bahagia. Hidup itu sulit dimengerti ya.

Maka dari itu, gue mau menyusun kembali kepingan-kepingan hati gue yang sudah hampir menyerupai sampah kompos bekas tabunan ibu-ibu Jumat Bersih dengan melakukan traveling. Sendirian.

Gue berharap dengan melakukan perjalanan seorang diri, menemukan hal-hal baru, bertemu orang-orang baru, menjumpai perbedaan, hati gue bisa didaur ulang dan kembali seperti semula.

Kok gue jijik ya bacanya?



*hening*



Hehehehe.
Semua tulisan di atas tentang patah hati itu tidak benar saudara-saudara. Gue sudah terlalu sering patah hati. Bahkan karena terlalu sering patah hati, sekarang malah nggak punya hati. Stoknya sudah habis di distribution center dan tidak diproduksi lagi. Jadi, kalau ada yang punya hati cadangan, bisa langsung pm aja ya sist. #gagalpaham


Ehem. Kembali ke inti cerita.

Jadi gini, alasan utama gue nyolo adalah...................


Jeng jeng!



Naik kereta!


Mungkin cuma gue yang excited. Mungkin cuma gue yang norak naik kereta eksekutif. Tapi berhubung ini adalah debut gue naik kereta jarak jauh sendirian, jadi nggak ada salahnya dong. Apalagi jalur yang akan dilewati menyuguhkan pemandangan yang memanjakan panca indra penglihatan. Jadi ya harus senang dong. Hehehe. Ini pembelaan diri.


Yang belum kenal sama GOPAR, yuk kenalan dulu.

Argo Parahyangan atau populer dengan sebutan Gopar adalah satu-satunya kereta api yang melayani rute JAKARTA (GMR) - BANDUNG (BD) dan sebaliknya. Jenis kelas yang disediakan GOPAR hanya eksekutif dan bisnis dan tidak ada ekonomi.

Nah kalau mau tau sejarah kereta yang hanya berhenti di 6 stasiun ini, silahkan klik di sini.

Interior GOPAR.

Di dalam kelas eksekutif, GOPAR menyediakan fasilitas berupa televisi, lampu baca, colokan listrik di setiap kursi, AC, toilet, kursi yang dapat diputar balik, pijakan kaki dan gorden. Wuah... pokoknya uenak ndok!

Bantal rasa pacar yang siap dipeluk selama perjalanan.


Tetap bersyukur walau tak terlahir dengan kaki panjang.

Hal yang paling menarik yang gue temuin di sini adalah... pijakan kakinya. Fasilitas yang nggak akan ditemui di kelas ekonomi maupun bisnis. Hal yang terlihat sepele, namun ternyata merupakan kontributor yang paling berpengaruh dalam menciptakan kenyamanan di kursi.

Berawal dari melihat kesibukan partner di kursi sebelah mengatur rotasi pijakan kaki supaya kakinya tidak tertekuk, gue menyadari sesuatu yang sering gue sesali. Pijakan kakinya membuat gue sangat-sangat bersyukur jadi orang berkaki pendek. Kenapa? Karena posisi kaki gue benar-benar lurus bertumpu pada pijakan kaki. Jadi, selama perjalanan gue nggak perlu khawatir lagi deh kaki gue kesemutan. Hidup itu memang tidak adil. Tapi percayalah kalau Tuhan selalu adil. =))


Surga dunia~

Duduk di kursi yang empuk dengan pijakan kaki dan bantal yang siap dipeluk, gue jadi sedikit menyesal menghadapi kenyataan kalau Jakarta-Bandung hanya ditempuh dalam 3 jam lebih sedikit. Padahal kan masih mau bobok.

Perfecto untuk kelas eksekutifnya! Aku cinta GOPAR dengan pijakan kakinya! Who's with mehh?

Comments

  1. Wah udah serius baca, ternyata patah hatinya boongan hahaha...

    Saya belum pernah naik kereta, jadi kepengen banget naik kereta. Rencananya awal tahun depan bakal travelling ke tempat yg bakal banyak naik kereta bareng teman. Teman saya nyeritain naik kereta itu capek dan nggak enak, saya malah makin semangat. Baca ini saya jadi makin nggak sabar nunggu awal tahun depan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mas Iman! Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya.

      Hehe btw, KAI akan ada promo harga 70rb untuk 70rb kursi kelas eksekutif, bisnis dan ekonomi semua tujuan lho tanggal 7-28 September besok. Jadi, bisa dimanfaatkan untuk jalan-jalan atau sekedar mencoba kereta kelas eksekutif. :D

      Delete
  2. Hai Mas Iman! Terima kasih sudah berkunjung ke blog saya.

    Hehe btw, KAI akan ada promo harga 70rb untuk 70rb kursi kelas eksekutif, bisnis dan ekonomi semua tujuan lho tanggal 7-28 September besok. Jadi, bisa dimanfaatkan untuk jalan-jalan atau sekedar mencoba kereta kelas eksekutif. :D

    ReplyDelete
  3. Hasekk bahasanya loh. Ini gue ada hati cadangan xD. Btw salam kenal, sini traveling tempat gue hehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga! Tempat situ di mana nih? Bisa dijangkau sama kereta nggak? Hahahaha.

      Delete
    2. Yoih *salaman*
      Bisa dong, turun aja di stasiun malang kota. Nyampe dah.. :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Mall-Mall yg Dapat Dijangkau Dengan Commuter Line

“Murah dan nggak macet.”
Ini adalah prinsip gue dalam memilih sarana transportasi umum di Jakarta. Ke mana pun dan sejauh apapun jaraknya, selama bisa dijangkau dengan Commuter Line, gue akan selalu siap walau dalam kondisi apapun termasuk jika keadaan memaksa gue untuk pergi seorang diri. Ke kantor, ke kampus, ke terminal, ke pasar, atau pun ke rumah temen, gue akan selalu mencari stasiun terdekat dari tempat yang ingin gue tuju.

Kenalan sama ISI 2012 Yuk!

Tak kenal maka tak sayang.
Sebelum gue lanjutkan cerita trip gue ke MY – THAI Day 2, alangkah baiknya kalian baca ini dulu.
Di MY – THAI Trip Day I pasti kalian bertanya-tanya, siapa sih ISI 2012 itu? Siapa sih para penyabun itu? Siapa sih tim cewek-cewek? Siapa sih Sir Gufron? Siapa sih yang ngendarain kereta monorailnya?
Nah di sini gue bakal ngenalin apa dan siapa ISI 2012.

MY – THAI Trip Day 2, Welcome to Hat Yai!

Hai!
Udah penasaran banget sama cerita MY – THAI Trip hari keduanya? Udah penasaran banget gimana tingkah gue naik sleeper train? Udah penasaran banget gimana kesemutannya gue duduk di bangku kereta selama 12 jam? Udah penasaran banget sama orang-orang macam apa yang gue temuin di sleeper train? Udah penasaran banget sama larangan di sleeper train? Udah penasaran banget sama..... /plak Ini ditampar karena kelamaan.