Skip to main content

Ketika Solo Traveling Tak Mengantongi Restu.

Apa yang paling membuat gue sedih beberapa hari ini?

Jawabannya ada dua. Ketika pekerjaan tidak bersahabat dan ketika rencana Solo Traveling yang direncanakan dengan penuh pengorbanan tak mengantongi restu dari orang tua.

21 September 2015, sebenarnya adalah jadwal solo traveling kedua gue. Setelah rela begadang demi merebutkan tiket promo 70ribu kursi seharga 70ribu semua tujuan dan semua kelas, akhirnya gue berhasil mengantongi tiket KA KRAKATAU Pasar Senen - Purwosari PP seharga 140ribu. Senang bukan kepalang karena gue bisa dapat 1/3 dari harga normal tiket KA KRAKATAU yang notabanenya berkisar 200ribuan.

Tapi...

Rencana hanya tinggal rencana. Gue nggak bisa berbuat apa-apa ketika restu orang tua tak kunjung gue genggam.

Di tengah kespontanitasan rencana solo traveling kedua, gue memang nggak sempat meminta ijin terlebih dahulu sama orang tua sebelum deal membeli tiket kereta yang tinggal menekan layar sentuh di smartphone gue. Karena gue tau, kalaupun gue minya ijin pun nggak akan diijinkam. Pasalnya, intensitas jalan-jalan gue tahun ini sudah tinggi dan terlebih kali ini gue berencana pergi sendiri lagi.

Terus lo masih mau nekad?

Iya. Rencana awal gue emang nggak mau bilang bakal pergi sendiri. Sama halnya waktu solo traveling pertama gue ke Bandung. Awalnya beli tiket kereta emang cuma satu, buat sendiri. Tapi 2 minggu sebelum tanggal keberangkatan, gue dapat temen yang pengen jalan ke Bandung juga. Jadilah gue bilang sama bokap kalo gue bakal pergi sama temen gue dua orang itu. Tapi, beberapa hari sebelum hari H, temen gue ngebatalin janji dan gue pun akhirnya kembali ke rencana awal, jalan sendirian. Pun, gue nggak konfirmasi ulang ke bokap kalo gue bakal pergi sendiri.

Sampai pada hari H, bokap gue tahu lewat telepon ketika gue sudah di Gambir. Pagi itu gue bangun kesiangan. Tugas kuliah dan pekerjaan yang belum rampung membuat gue harus merelakan waktu tidur gue berkurang sampai 4 jam. Alhasil, gue terburu-buru dan nggak sempat pamit karena orang rumah semuanya masih tidur. Pagi itu memang ggak seperti biasa. Mungkin karena mengonsumsi obat, jadi mereka tidurnya lebih pulas.

Reaksi bokap pagi itu setelah gue bilang gue akan jalan sendiri bisa gue tebak, nada bicara beliau sedikit berat mengikhlaskan kalau anaknya akan melancong ke luar kota dan bermalam di sana sendirian. Tapi mau dikata apa lagi, anaknya sudah ada di gerbang perjalanan. Kata 'Tidak boleh' ataupun 'Pulang sekarang' juga akan sia-sia.

Gue sepenuhnya paham akan alasan mereka yang nggak merestui gue untuk pergi sendirian. Pun gue bisa ngejaga diri dan siap menerima resiko yang akan terjadi nanti, tetep gue nggak bisa mengelak kodrat gue sebagai wanita. Dan streotype yang beranggapan wanita yang pergi sendirian itu tidak aman.

1000% gue yakin, orang tua gue akan semakin nggak rela melepas kepergian gue kali ini jika mereka tahu rencana gue yang akan bermalam di Stasiun Purwosari. Sendirian. Bukan tanpa alasan gue berencana akan bermalam di stasiun kecil ini. Berhubung kereta yang gue naiki tiba hampir tengah malam dan saat itu nggak memungkinkan untuk mencari hotel, jadi gue memutuskan untul bermalam di stasiun.

Lagian kenapa sih harus pergi sendirian?

Gue termasuk tipe orang yang egois dalam hal traveling. Tentunya gue punya tujuan untuk setiap keputusan yang gue ambil. Termasuk solo traveling kedua gue kali ini yang tujuannya bener-bener ke Solo. Menemukan partner dalam perjalanan dengan tujuan yang selaras itu nggak mudah. Mungkin jika tujuan perjalanan ke pantai atau tempat-tempat wisata gahar nan membahana di internet, gue bisa dengan mudah nemuinnya. Tapi, tujuan gue nggak sesimple itu.

Kali ini bukam karena patah hati yang ada di balik rencana solo traveling kedua, tapi lebih ke arah 'jatuh cinta'. Nggak usah berpikir jauh-jauh sama 'siapa' gue jatuh cinta. Lebih tepatnya, sama 'apa' gue jatuh cinta. Ini gue kenalin yang bikin gue nekad mau nyolo traveling ke Solo.


[img source: ig @yogadwiutomo]
Mas Yoga, pinjem ya gambarnya soalnya saya belum sempat ke sana. :'(

Ini dia si ganteng yang bikin kesemsem beberapa bulan ini. Lewat perkenalan digital yang nggak sengaja di google, dia ini yang berhasil memupuk niat gue untuk melancong ke kota yang punya julukan kota budaya ini. Namanya Bathara Kresna. Namanya diambil dari tokoh Mahabarata Krishna atau Kresna yang bertugas menyelamatkan dunia dan menegakkan kebenaran. Karakteristik tokoh tersebut tokoh tersebut kemudian dilekatkan pada railbus ini sehingga menumbuhkan kebanggaan bagi setiap penumpangnya. Dan si ganteng ini adalah railbusnya Kota Solo yang sekarang melayani rute Purwosari-Wonogiri PP dengan rute trayek dua kali sekali. Tiketnya pun sangat ramah di kantong, hanya 4000 rupiah. Murah bukan?

Kan... siapa coba yang rela ke Solo sendirian cuma buat naik kereta railbus? Susah kan cari partner yang punya tujuan selaras kayak gini?



Makanya... makanya... hiks.


Hiks.


Hiks.


Hiks.


*srooooot*


Ini siapa yang naro bawang di samping gue??? /plak

Makanya, gue sangat sedih ketika gue harus merelakan tiket promo ini. Harus menahan rindu untuk merasakan naik Bathara Kresna, sampai tahun depan. Itupun kalo kereta ini masih dioperasikan, kalo diberhentikan? Tambah sedih. Pasalnya kereta ini udah pernah dihiatuskan tahun 2013 karena rangkain railbus yang sering rusak.

Semoga gue dan Bathara Kresna masih jodoh sampai tahun depan.

Btw, terima kasih sudah berkunjung dan meluangkan waktu untuk membaca cerita patah hati ini.

Comments

  1. kalo mbaknya ikut komunitas Railfans mungkin bakal ketemu orang orang yang sejalan dengan pemikiran mbak :D
    temenku malah lebih ekstrem, waktu itu dia ada acara di Semarang. dia berangkat naik KA Brantas jurusan Pasar Senen - Kediri via Semarang. harusnya dia bisa turun di Semarang waktu itu, tapi memilih turun di Solo. biar apa? biar dia bisa naik kereta Kalijaga jurusan Solo - Semarang di pagi harinya wkwkwkw

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Mas Gallant! Terima kasih atas sarannya.

      Btw, di mana saya bisa menemukan komunitas railfans ya? Hehehe.

      Delete
    2. waah banyak mbak, setau saya ada :
      1. Semboyan35
      2. Edan Sepur
      3. Kaskusepur

      kalo yang semboyan35 sama edan sepur nanti mbaknya bisa belajar banyak sampe segala macam teknis kereta lho. termasuk mesin lokomotif atau bahkan sekedar nomor kereta.
      atau kaskusepur yang orang orangnya suka traveling dan naik sepur kalo tujuannya bisa ditempuh naik kereta :D

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Mall-Mall yg Dapat Dijangkau Dengan Commuter Line

“Murah dan nggak macet.”
Ini adalah prinsip gue dalam memilih sarana transportasi umum di Jakarta. Ke mana pun dan sejauh apapun jaraknya, selama bisa dijangkau dengan Commuter Line, gue akan selalu siap walau dalam kondisi apapun termasuk jika keadaan memaksa gue untuk pergi seorang diri. Ke kantor, ke kampus, ke terminal, ke pasar, atau pun ke rumah temen, gue akan selalu mencari stasiun terdekat dari tempat yang ingin gue tuju.

Kenalan sama ISI 2012 Yuk!

Tak kenal maka tak sayang.
Sebelum gue lanjutkan cerita trip gue ke MY – THAI Day 2, alangkah baiknya kalian baca ini dulu.
Di MY – THAI Trip Day I pasti kalian bertanya-tanya, siapa sih ISI 2012 itu? Siapa sih para penyabun itu? Siapa sih tim cewek-cewek? Siapa sih Sir Gufron? Siapa sih yang ngendarain kereta monorailnya?
Nah di sini gue bakal ngenalin apa dan siapa ISI 2012.

MY – THAI Trip Day 2, Welcome to Hat Yai!

Hai!
Udah penasaran banget sama cerita MY – THAI Trip hari keduanya? Udah penasaran banget gimana tingkah gue naik sleeper train? Udah penasaran banget gimana kesemutannya gue duduk di bangku kereta selama 12 jam? Udah penasaran banget sama orang-orang macam apa yang gue temuin di sleeper train? Udah penasaran banget sama larangan di sleeper train? Udah penasaran banget sama..... /plak Ini ditampar karena kelamaan.