Totally Solo Travelling: Hal-Hal yang Bisa Dilakukan di Solo Dalam 15 Jam (Bagian 1)


Solo, kota yang punya nama administratif Surakarta ini awalnya nggak pernah terpikir jadi salah satu kota yang mencuri perhatian gue. Dibanding Solo, nama Yogyakarta justru lebih santer terdengar di telinga dan bertandang di ingatan. Mungkin karena waktu masih sekolah, Yogyakarta selalu jadi destinasi untuk acara-acara sekolah, entah itu perpisahan atau fieldtrip. Tapi itu dulu, sebelum keisengan jemari yang lihai di atas layar sentuh ponsel menghantarkan gue pada satu daya tarik kota yang punya julukan The Spirit of Java ini, tepat sebelum negara api menyerang.

Berbekal nekat dan rasa penasaran yang tinggi, dengan uang di rekening yang pas-pasan, akhirnya gue membungkus segala perlengkapan seadanya dan berangkat ke Solo, sendiri, ditambah sedikit bumbu-bumbu kebohongan ketika pamit ke orang tua.

Tiket kereta dari Stasiun Gambir dengan tujuan Stasiun Solo Balapan ternyata jadi salah satu tiket yang paling diburu sejak H-90 dibuka. Argo Lawu dan Dwipangga adalah beberapa pilihan kereta eksekutif yang bisa mengantarkan gue (ataupun kamu) ke Stasiun Solo Balapan dengan jadwal yang ramah. Berhubung waktu yang gue punya terbatas, gue memilih kereta dengan jam keberangkatan malam dari Jakarta agar tiba di Solo pagi harinya, tentunya agar bisa explore Solo seharian. Eh bukan, cuma 15 jam.

Jadi apa yang bisa gue lakukan dalam 15 jam tersebut? Ini dia ulasannya.

Totally Solo Travelling: Prolog



“Kak lu mau ke mana?” sebut saja Aulia, anak bungsu dari Bapak dan Ibu gue yang tiba-tiba nyelonong masuk ke kamar kakaknya karena bingung lihat gue yang lagi sibuk membereskan isi tas ransel. Usianya masih 10 tahun, tapi karena wajah dan postur tubuhnya yang bongsor, orang sering dibikin salah kaprah dan beranggapan kalau dia adalah si sulung.

“Ke Solo.” Jawab kakaknya singkat, jutek, seperti biasa.

“Solo? Ngapain?”

“Menang kuis.” sebenarnya jawaban ini nggak sepenuhnya bohong karena kalau dipikir-pikir, masih ada kolerasinya sih.

Mengesankan atau Mengenaskan?


Duh. Capek juga lama-lama, sok-sok an nulis postingan pake bahasa Inggris. Balik lagi deh ke tone bahasa yang dulu. Biar lebih ringan dibaca dan messagenya tetep nyampe. Tetep yah, anak marketing banget bahasanya. Yaudah... kan memang aku anak marketing. Tapi yg lahirin Ibu Tuti sama Bapak Yuli. Eh kok jadi seliweran ke mana-mana.

Yaudah lanjut ke tujuan nulis postingan ini.

Berhubung tadi di commuter line duduk berhadapan sama mbak-mbak yang tertidur pulas, jadi keinget punya pengalaman mengenaskan seputar "tertidur pulas" di commuter line. Pengalaman mengesankan atau mengenaskan ini terjadi hampir 2 tahun lalu. Saat itu gue masih jadi kuli sedikit panggul di sebuah supermarket premium di daerah Jakarta Pusat. Karena lokasinya nggak jauh dari stasiun, jadi setiap hari gue memangkas jarak dari rumah ke tempat kerja dengan naik commuter line.