Totally Solo Travelling: Prolog



“Kak lu mau ke mana?” sebut saja Aulia, anak bungsu dari Bapak dan Ibu gue yang tiba-tiba nyelonong masuk ke kamar kakaknya karena bingung lihat gue yang lagi sibuk membereskan isi tas ransel. Usianya masih 10 tahun, tapi karena wajah dan postur tubuhnya yang bongsor, orang sering dibikin salah kaprah dan beranggapan kalau dia adalah si sulung.

“Ke Solo.” Jawab kakaknya singkat, jutek, seperti biasa.

“Solo? Ngapain?”

“Menang kuis.” sebenarnya jawaban ini nggak sepenuhnya bohong karena kalau dipikir-pikir, masih ada kolerasinya sih.

Mengesankan atau Mengenaskan?


Duh. Capek juga lama-lama, sok-sok an nulis postingan pake bahasa Inggris. Balik lagi deh ke tone bahasa yang dulu. Biar lebih ringan dibaca dan messagenya tetep nyampe. Tetep yah, anak marketing banget bahasanya. Yaudah... kan memang aku anak marketing. Tapi yg lahirin Ibu Tuti sama Bapak Yuli. Eh kok jadi seliweran ke mana-mana.

Yaudah lanjut ke tujuan nulis postingan ini.

Berhubung tadi di commuter line duduk berhadapan sama mbak-mbak yang tertidur pulas, jadi keinget punya pengalaman mengenaskan seputar "tertidur pulas" di commuter line. Pengalaman mengesankan atau mengenaskan ini terjadi hampir 2 tahun lalu. Saat itu gue masih jadi kuli sedikit panggul di sebuah supermarket premium di daerah Jakarta Pusat. Karena lokasinya nggak jauh dari stasiun, jadi setiap hari gue memangkas jarak dari rumah ke tempat kerja dengan naik commuter line.