3 Apr 2016

Mengesankan atau Mengenaskan?


Duh. Capek juga lama-lama, sok-sok an nulis postingan pake bahasa Inggris. Balik lagi deh ke tone bahasa yang dulu. Biar lebih ringan dibaca dan messagenya tetep nyampe. Tetep yah, anak marketing banget bahasanya. Yaudah... kan memang aku anak marketing. Tapi yg lahirin Ibu Tuti sama Bapak Yuli. Eh kok jadi seliweran ke mana-mana.

Yaudah lanjut ke tujuan nulis postingan ini.

Berhubung tadi di commuter line duduk berhadapan sama mbak-mbak yang tertidur pulas, jadi keinget punya pengalaman mengenaskan seputar "tertidur pulas" di commuter line. Pengalaman mengesankan atau mengenaskan ini terjadi hampir 2 tahun lalu. Saat itu gue masih jadi kuli sedikit panggul di sebuah supermarket premium di daerah Jakarta Pusat. Karena lokasinya nggak jauh dari stasiun, jadi setiap hari gue memangkas jarak dari rumah ke tempat kerja dengan naik commuter line.



Malam itu gue sampe Stasiun Sudirman jam sepuluh lewat. Pada awalnya semua berjalan seperti malam-malam biasanya ketika gue kedapatan shift siang. Kereta yang gue naiki adalah kereta yang tiba di Stasiun Sudirman jam sebelas. Walaupun sudah jam sebelas malam, pemandangan stasiun Sudirman masih ramai dengan peron dua sebagai primadonanya. Tapi ramai di jam segini jauh lebih manuasiawi dibanding pada saat rush hour. If you are a gembel peron dan familiar dengan pemandangan penuh sesak di peron 2 stasiun ini, you will know bagaimana versi manusiawi dan versi jahanamnya Stasiun Sudirman. lol. 

Setelah perebutan tempat duduk yang cukup sengit, akhirnya gue berhasil merehatkan sejenak bokong di dua jengkal tempat duduk yang sejajar dengan pintu sebelah kanan kereta. Punggung dan kepala pun gue senderkan ke dinding kereta. Sejak kereta bertolak dari Stasiun Sudirman, gue udah mulai memejamkan mata. Niatnya, biar bisa tidur. Lumayankan kalo bisa tidur sebentar, bangun-bangun udah sampe di stasiun tujuan.

Dua - tiga - empat - lima stasiun dilewati, tapi gue belum juga bisa tidur nyenyak. Walaupun udah miringin kepala ke kanan dan ke kiri, tetep nggak membantu gue nyebrang ke alam bawah sadar. Tapi gue pantang menyerah, gue tetep memejamkan mata gue hingga akhirnya gue tertidur juga.

Tapi ternyata, tidur gue malam itu membawa petaka. Setelah gue terbangun, gue merasa seperti ada yang salah. Gue tengok ke arah pintu kereta di sebelah kiri. Saat itu posisi pintu sedang dalam proses ingin ditutup dan gue masih bisa lihat apa yang ada di luar. Dan betapa terkejutnya gue melihat apa yang ada di seberang pintu sana. Papan nama stasiun yang menggantung di pagar peron itu bertuliskan, "Stasiun Universitas Indonesia".

"What the......... gue kelewatan!"

Gue loncat, tapi jantungnya doang. Dengan kondisi nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul, gue mencoba untuk nggak panik. Jam menunjukkan pukul dua belas kurang dan itu cukup membuat gue pesimis. Sepenuhnya pesimis nggak akan dapet kereta balik ke Jakarta - Kota. Karena ini udah malam. Larut malam. Tengah malam. Dan waktunya kereta juga bobo di Dipo.

Setelah sadar kalau gue kebablasan, gue memutuskan untuk turun di stasiun selanjutnya, Stasiun Pondok Cina. Gue mengakses info KRL untuk menghibur diri ketika keluar dari kereta dan berjalan menuju pintu keluar dengan harapan kereta balik masih ada. Siapa tau kepesimisan gue itu salah. Siapa tau ada kereta terakhir yang terlambat diberangkatkan. Dan bener aja.......... semua dugaan gue tentang kereta balik barusan semuanya nggak bener.

Fix gue kalap. Malah ini pertama kalinya gue turun di Stasiun Pondok Cina. Fix gue nggak tau jalan ke jalan rayanya ke mana. Fix mau guling-guling di rel.

Dengan perasaan yang campur aduk, akhirnya gue memberanikan diri keluar stasiun dan menguntit seorang mas yang berjalan ke arah kiri dari pintu stasiun, dengan harapan mas tersebut berjalan menuju ke jalan yang gue tuju. Setelah melewati gang sempit dengan beberapa proyek pembangunan kecil di sekitar kampus Gunadarma, akhirnya gue pun sampai di jalan raya.

Tapi... masalah belum selesai.

Jam udah menunjukkan pukul 12. Angkot yang masih beroperasi di jalan Margonda saat itu hanya trayek PAL aja. Sedangkan naik ojek atau taksi tengah malam sangat beresiko buat gue. Selain beresiko terhadap keselamatan, naik ojek dan taksi juga berisiko buat dompet gue. :(

Beruntungnya, malam itu handphone gue nggak lowbat dan masih ada pulsa buat sms. Jadi bisa sms bapake buat minta jemput. Setelah hampir 20 menit kayak sapi ompong di pinggir jalan, akhirnya bapake pun datang menjemput anaknya yang udah kayak anak ilang yang baru ditemuin.

Dan akhirnya, gue pun sampai rumah dengan bahagia.

The end.

Begitulah pengalaman ketiduran gue di commuter line. Gue bersyukur sih, cuma kelewat dua stasiun doang. Coba kalo udah sampe Bogor? Mungkin gue akan nginep bareng petugas PKD dan security stasiun.

2 comments :

  1. Wah gokil banget pengalaman nya, sampe senyum2 sendiri bacanya Haha. Untung masih sempet di jemput, kalo engga nginep di pinggir jalan. Tapi tenang ajah, masih banyak alfmart tak bertuan 😅

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untung nggak sampe Bogor yak. Pffft.

      Delete