29 Apr 2016

Totally Solo Travelling: Hal-Hal yang Bisa Dilakukan di Solo Dalam 15 Jam (Bagian 1)


Solo, kota yang punya nama administratif Surakarta ini awalnya nggak pernah terpikir jadi salah satu kota yang mencuri perhatian gue. Dibanding Solo, nama Yogyakarta justru lebih santer terdengar di telinga dan bertandang di ingatan. Mungkin karena waktu masih sekolah, Yogyakarta selalu jadi destinasi untuk acara-acara sekolah, entah itu perpisahan atau fieldtrip. Tapi itu dulu, sebelum keisengan jemari yang lihai di atas layar sentuh ponsel menghantarkan gue pada satu daya tarik kota yang punya julukan The Spirit of Java ini, tepat sebelum negara api menyerang.

Berbekal nekat dan rasa penasaran yang tinggi, dengan uang di rekening yang pas-pasan, akhirnya gue membungkus segala perlengkapan seadanya dan berangkat ke Solo, sendiri, ditambah sedikit bumbu-bumbu kebohongan ketika pamit ke orang tua.

Tiket kereta dari Stasiun Gambir dengan tujuan Stasiun Solo Balapan ternyata jadi salah satu tiket yang paling diburu sejak H-90 dibuka. Argo Lawu dan Dwipangga adalah beberapa pilihan kereta eksekutif yang bisa mengantarkan gue (ataupun kamu) ke Stasiun Solo Balapan dengan jadwal yang ramah. Berhubung waktu yang gue punya terbatas, gue memilih kereta dengan jam keberangkatan malam dari Jakarta agar tiba di Solo pagi harinya, tentunya agar bisa explore Solo seharian. Eh bukan, cuma 15 jam.

Jadi apa yang bisa gue lakukan dalam 15 jam tersebut? Ini dia ulasannya.

(05:00 – 06:00) Menikmati Sensasi Car Free Day di atas Becak

Sebenarnya ini adalah sebuah insiden yang jadi sensasi tersendiri dari sebuah quoteshit always happens even in perfect itinerary”. Berbekal hal konyol ketinggalan kereta dengan kondisi “sadar”, akhirnya gue memilih alternatif ini untuk sampai ke Stasiun Purwosari.

Pagi itu gue berencana menuju Stasiun Purwosari dengan menggunakan kereta lokal Prambanan Express. Setelah membeli tiket gue menunggu di peron 5 sesuai dengan petunjuk petugas pemeriksa tiket di depan. Nggak lama, datanglah serangkaian kereta berwarna kuning yang setelah pintunya terbuka, penumpang yang sudah menunggu di peron 5 berbondong-bondong masuk ke dalam.

Tiket Prambanan Express (Pramex)
Karena baru pertama kali datang ke Solo, gue masih belum familiar kalau ini adalah kereta yang seharusnya gue naiki sebab waktu belum menunjukkan waktu keberangkatan yang tertea di tiket yang gue pegang. Juga tidak adanya nama Prambanan Express di badan luar kereta semakin menambah kepercayaan diri gue kalau kereta kuning ini bukan Prambanan Express.

Kedua faktor itu kemudian menghantarkan gue ke rangkaian tempat duduk di peron, membuka ponsel kemudian asik memantau timeline media sosial. Karena teralu asyik, kereta kuning itu pun berangkat dan betapa terkejutnya gue setelah sadar melihat jam di ponsel menunjukkan pukul 5.18. Gue memalingkan mata ke selembar tiket kereta Prambanan Express yang gue genggam, gue tatap lekat-lekat dan kali itu gue benar-benar tersentak melihat jam keberangkatan yang tertera di sana, jam 5.15. D*mn! Jangan-jangan kereta gue yang barusan jalan, pikir gue.

Tapi dalam keadaan genting kayak gitu, gue masih berusaha untuk menenangkan diri. Ah, mungkin keretanya telat kayak commuter line, gue masih mencari-cari pembenaran atas kekonyolan yang gue lakukan pagi itu.

Lima menit, sepuluh menit, nggak ada kereta yang bertengger di jalur 5. Gue pun makin gelisah. Hingga gue memutuskan beranjak ke luar stasiun untuk cari alternatif lain karena sudah kepalang gengsi tanya ke petugas mengenai kereta yang beberapa menit lalu bertolak dari jalur lima. Dan shit happened again, di luar nggak ada ojek! Sedangkan gue mesti cepet-cepet sampai Stasiun Purwosari demi ngejar itinerary lainnya jam 6 dan waktu sudah menunjukkan jam setengah enam pagi.

Dengan setengah kepercayaan akan sampai Stasiun Purwosari tepat waktu, akhirnya gue memutuskan untuk naik becak.

“Pak saya mesti sampe Stasiun Purwosari sebelum jam 6.” tukas gue kepada abang penarik becak yang pada akhirnya mengundang beliau untuk turut panik bersama.

Di tengah suasana panik yang mendera kami berdua, angin kota Solo menyapa dari setiap jengkal susur jalanan. Dari turunan, polisi tidur hingga tanjakan, si bapak dengan semangat mengayuh pedal becaknya. Sedangkan gue masih panik dan sesekali melirik layar ponsel hanya ingin mengetahui berapa jarak lagi yang harus kami tempuh untuk sampai di Stasiun Purwosari.

Sampai akhirnya tiba di Jalan Slamet Riyadi yang kosong akan kendaraan selain becak, sepeda dan odong-odong, setelah si bapak penarik becak menggeser portal yang menutup jalan kami di perbatasan Jalan Slamet Riyadi. Minggu pagi, Car Free Day rupanya juga menghiasi jantung Kota Solo. Pemandangan yang tersuguhkan menciptakan landscape teduh di sepanjang Jalan Slamet Riyadi yang rindang. Dan setelah beberapa menit berlalu melintasi Jalan Slamet Riyadi, akhirnya kami pun tiba di depan Stasiun Purwosari.

“Udah sampe mbak.” tukas bapak penarik becak.

Gue pun turun dan segera memberikan ongkos pada beliau.

“Ayo mbak lari mbak lari.” kemudian bapak penarik becak tiba-tiba bersorak memberikan semangat. Gue pun jadi termotivasi dan segera ambil langkah seribu, setelah melihat jam di ponsel yang menunjukkan pukul 05:50.

Mission Completed, dan drama berakhir. Terima kasih pak, sudah antar saya dengan selamat, tepat waktu dan menempuh jarak 2km lebih. Bapak dabest!

(06:00 – 09:50) Naik Railbus Paling Fenomenal plus Jadi Artis Dadakan

Batara Kresna di Stasiun Purwosari
Kalau ditanya alasan kenapa akhirnya memilih Solo, poin ini adalah jawabannya. Dan kalau ditanya kenapa bersikeras harus sampai Stasiun Purwosari sebelum jam 6, poin ini juga jawabannya.

Setelah patah hati September lalu, kali ini gue nggak mau kehilangan kesempatan ketemu sama railbus paling fenomenal ini, Batara Kresna. Sesampainya di loket Stasiun Purwosari, ternyata tiket Kereta Api Perintis ini masih tersedia. Lucky me! Dengan penuh semangat gue pun masuk ke dalam dan menghampiri sang pujaan untuk melunasi rindu setelah tiket dengan trayek Purwosari – Wonogiri seharaga 4 ribu rupiah ada di tangan.

Kereta api perintis Bathara Kresna melayani trayek Purwosari - Wonogiri dengan masing-masing 2 kali jadwal keberangkatan dari Stasiun Purwosari dan Stasiun Wonogiri. Jadwalnya bisa kalian cek di sini ya. Dalam itinerary ini, gue sengaja ambil jadwal yang pemberangkatan pertama dari Stasiun Purwosari yaitu jam 6 dan berharap masih kedapatan jatah tiket balik Wonogiri - Purwosari pada keberangkatan pertamanya dari Wonogiri jam 9. Alasannya sederhana, supaya bisa ngejar agenda lain di siang hari. :)

Bathara Kresna di Stasiun Purwosari

Interiornya nggak kayak kaleng (sebutan untuk commuter line dari para rombongan kereta ibukota).


Jam 6 tepat, Batara Kresna meninggalkan Stasiun Purwosari. Setelah 5 menit berlalu, kereta mulai memasuki Jalan Slamet Riyadi dan yang unik dari railbus ini pun terletak di sini. Semua penumpang yang ada di dalam kereta mendadak jadi artis, sebab warga yang sedang menikmati suasana Car Free Day mayoritas mengarahkan kamera ponsel maupun professional mereka ke arah perintis yang sedang lewat.

Setelah melewati Stasiun Solo Kota, panorama yang ditawarkan berubah dari rumah-rumah warga yang berjejalan jadi hamparan sawah dengan sinar matahari yang membuatnya makin menghijau, siap memanjakan mata siapa saja yang melintasinya.



(Katanya) Sungai Bengawan Solo





Bathara Kresna di Stasiun Wonogiri


Jam 8:45 kereta sudah sampai di stasiun tujuan, Stasiun Wonogiri. Dan di pintu masuk stasiun sudah berbaris penumpang yang telah sigap berlari menghampiri sang perintis yang sepenuhnya berhenti dan bertengger di rel stasiun kecil ini.

Seperti sudah ditakdirkan untuk menikmati perjalanan dengan perintis, gue masih diberikan kesempatan dapat tiket balik jam 9 setelah mengambil foto sejenak di depan perintis. Belum selesai sampai situ, keputusan gue untuk berdiri di samping pintu pun mengantarkan gue pada perbincangan alot tentang kereta dengan salah satu polsuska yang tadi gue mintai bantuan untuk ambil foto dan sang kondektur. Yang juga pada akhirnya dua petugas lain turut nimbrung hingga sang perintis tiba di Stasiun Purwosari.

Walau ternyata endingnya tidak berbuah manis karena nyatanya mereka masih tidak tahu siapa nama gue, namun itu pengalaman yang cukup berkesan di atas mampu mengikis rasa pegal yang menyerang kaki akibat berdiri selama 1 jam.

(10:00 – 11:30) Wara Wiri Hore di Sepanjang Jalan Slamet Riyadi 

Jangankan gue, bule aja rela nungguin perintis lewat

Puas melunasi rindu, gue berjalan dari Stasiun Purwosari menuju Jalan Slamet Riyadi yang kebetulan tidak terlalu jauh. Saat itu jam menunjukkan hampir pukul sepuluh dan Car Free Day pun sudah berakhir. Jalanan mulai dipenuhi dengan kendaraan dan orang-orang mulai memadati pedestrian untuk mencari sarapan yang tersisa dari pedangan kaki lima yang sudah bertengger sejak pagi tadi.

Gue berjalan menelusuri pedestrian Jalan Slamet Riyadi yang rindang dengan gontai, hingga gue sadar kalau gue harus bergegas mengambil gambar sang perintis yang sedang melintas di Jalan Slamet Riyadi, di tengah hiruk-pikuk kendaraan yang mengalah. Dan pagi itu gue merasa dewi fortuna masih mengepakkan sayapnya di atas ubun-ubun gue sebab gue tiba tepat waktu di spot di mana sang perintis keluar dari sarangnya. Dan kali ini peran gue bertukar menjadi paparazzi, bukan artis dadakan lagi.
Ada yang membuat perut gue terkocok waktu wara wiri hore di Jalan Slamet Riyadi pagi itu, setelah berhasil mengambil gambar sang perintis saat memecah kehiruk-pikukan jalan di jantung kota, gue terperangah di satu sudut. Kumpulan kendaraan kompak berhenti jauh di belakang zebra cross saat lampu lalu lintas menunjukkan warna merah tanda berhenti. Gue sempat menggeleng-geleng kepala tanda kagum dan sempat bergumam, "Wah... keren banget pengendara di sini ya.".

Tapi kekaguman gue nggak berlangsung lama, bahkan melebur bersamaan setelah pandangan gue melayang ke arah seberang, ternyata di sana ada beberapa polisi lagi berpose di atas motor dinasnya yang segede gaban. Bahkan ada satu pengendara yang udah niat mau nerobos, dia mundur lagi karena ngedapetin ada polisi lagi ngumpet di samping kiri jalan. Pantes! Nggak jadi kagum, gue tarik lagi.
Selesai diphp-in, gue masih menyusuri Jalan Slamet Riyadi buat cari sarapan. Eh ternyata diphp-in lagi karena warung-warung kaki lima udah pada kehabisan stok bahan makanan untuk dijual pagi itu. Yaudah, daripada kesel mending lanjutin perjalanan ke Kantor Dinas Perhubungan Kota Solo dengan jalan kaki.
Buat apa? Buat apa ya? Buat apa hayoooo?
.
.
.
.
.
Please jangan lempar gue pake setrikaan nyala. 
.
.
.
.
.
Jawabannya ada di part 2! Stay tuned! :P

8 comments :

  1. Waaah sama-sama short trip juga, saya juga pernah short trip gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ke mana Mas Dimas? Hehe.

      Delete
    2. Waktu itu ke Keraton, Curug Jumog, Candi Cetho, sama Galabo

      Gabungan Solo-Karanganyar sih hehehe

      Delete
  2. waaah asik nih short trip gitu.. btw gue jg pernah short trip pake railbus batara khresna ini.. sambil nunggu keberangkatan kedua dr stasiun wonogiri bisa juga nanjak gunung gemes tuh tepat dibelakang stasiun :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Serius ada gunung di belakang stasiun? Wah kayaknya daku harus balik lagi ke Solo nih. Huehehe.

      Delete
    2. Ya cuma bukit gitu sih hehe.. tp view dr atas bagus loh.. tp gw saranin jgn sendirian aplg loe cewe, agak serem kalo sendirian :3

      Delete
  3. part 2 nya dong diterusin. masih penasaran nih.

    ReplyDelete