Skip to main content

Totally Solo Travelling: Prolog



“Kak lu mau ke mana?” sebut saja Aulia, anak bungsu dari Bapak dan Ibu gue yang tiba-tiba nyelonong masuk ke kamar kakaknya karena bingung lihat gue yang lagi sibuk membereskan isi tas ransel. Usianya masih 10 tahun, tapi karena wajah dan postur tubuhnya yang bongsor, orang sering dibikin salah kaprah dan beranggapan kalau dia adalah si sulung.

“Ke Solo.” Jawab kakaknya singkat, jutek, seperti biasa.

“Solo? Ngapain?”

“Menang kuis.” sebenarnya jawaban ini nggak sepenuhnya bohong karena kalau dipikir-pikir, masih ada kolerasinya sih.

Begini penjelasannya, beberapa hari sebelum tanggal keberangkatan ke Solo, gue emang dapet rezeki dari salah satu kuis yang gue ikutin. Hadiahnya emang bukan jalan-jalan ke Solo, melainkan smartphone CDMA yang akhirnya terpaksa gue jual. Sementara uang hasil penjualan smartphone gue kantongin buat ke Solo, seperempatnya, sisanya buat kakak nikahan. Intinya, jawaban “Menang Kuis” anggap aja sebagai tameng supaya diizinin pergi. Ketimbang nggak dibolehin berangkat.

“Beneran?” kemudian anak kelas 5 SD ini ngeloyor ke dapur, nyamperin ibunya yang lagi mandi. Nggak kok, dia nggak ikut mandi juga, cuma berhenti di depan pintu kamar mandi sambil mengadu, 

“Bu, masa kakak mau ke Solo.”

Melihat dan mendengar itu, gue jadi yakin kalo adek gue anak SD sepenuhnya, tukang ngadu. Persis temen-temen gue dulu zaman SD, sama gue juga.

Dari kamar, samar-samar gue dengar ibu berkicau tanda kaget. Gue pikir daripada kicauannya jadi satu album dan nggak laku dijual di restoran junkfood, mending gue ambil langkah. Gue beranjak dari kamar setelah semua barang bawaan rampung dikemas dalam ransel cokelat, ransel kebanggaan gue yang ritsletingnya tinggal satu. RItsleting satunya terlepas karena keberatan menahan botol minum yang setengah terisi waktu di Malaysia.

“Bu, de berangkat ya.”

“Mau ke mana? Magrib-magrib juga.” si Ibu masih berkicau dari dalam kamar mandi.

“Biasa….” gue menjawab dengan santai.

“Macem-macem aja kamu..”

Belum selesai ibu menyelesaikan kicauannya, gue ngeloyor ke kamar kakak. Di sana ada bapak, lagi berdoa selepas solat. Mata beliau terpejam, tangannya terangkat posisi memohon. Sambil melongokkan setengah kepala dari balik pintu, gue pun pamit, “Pak de berangkat ya.”. Dan tanpa menunggu balasan si bapak, gue meninggalkan rumah menuju stasiun.

…...dan segala tanda tanya yang masih menggantung di setiap kepala di rumah.


Bersambung.

Comments

Popular posts from this blog

Mall-Mall yg Dapat Dijangkau Dengan Commuter Line

“Murah dan nggak macet.”
Ini adalah prinsip gue dalam memilih sarana transportasi umum di Jakarta. Ke mana pun dan sejauh apapun jaraknya, selama bisa dijangkau dengan Commuter Line, gue akan selalu siap walau dalam kondisi apapun termasuk jika keadaan memaksa gue untuk pergi seorang diri. Ke kantor, ke kampus, ke terminal, ke pasar, atau pun ke rumah temen, gue akan selalu mencari stasiun terdekat dari tempat yang ingin gue tuju.

Kenalan sama ISI 2012 Yuk!

Tak kenal maka tak sayang.
Sebelum gue lanjutkan cerita trip gue ke MY – THAI Day 2, alangkah baiknya kalian baca ini dulu.
Di MY – THAI Trip Day I pasti kalian bertanya-tanya, siapa sih ISI 2012 itu? Siapa sih para penyabun itu? Siapa sih tim cewek-cewek? Siapa sih Sir Gufron? Siapa sih yang ngendarain kereta monorailnya?
Nah di sini gue bakal ngenalin apa dan siapa ISI 2012.

MY – THAI Trip Day 2, Welcome to Hat Yai!

Hai!
Udah penasaran banget sama cerita MY – THAI Trip hari keduanya? Udah penasaran banget gimana tingkah gue naik sleeper train? Udah penasaran banget gimana kesemutannya gue duduk di bangku kereta selama 12 jam? Udah penasaran banget sama orang-orang macam apa yang gue temuin di sleeper train? Udah penasaran banget sama larangan di sleeper train? Udah penasaran banget sama..... /plak Ini ditampar karena kelamaan.