Wanita Tak Selalu Harus di Dapur

"Ngapain cewek sekolah tinggi-tinggi, ujung-ujungnya juga di dapur."


Pernah mendengar celetukan di atas? Atau kamu pernah menceletukkannya untuk teman wanita kamu yang sangat gigih menuntut ilmu sampai tinggi?

Kalau kamu pernah mendengarnya, apakah kamu setuju dengan pendapat itu?

Kalau saya pribadi sih, tentu
tidak setuju.

Menurut saya, bagaimanapun, sekolah dan belajar adalah kegiatan untuk membentuk pola pikir. Pola pikir itulah yang akan membantu seorang wanita mendidik anaknya kelak.

Ketika dia menjadi seorang ibu, dia sekaligus menjadi guru pertama bagi anaknya. Bagaimana bisa sang ibu mendidik anaknya dengan baik jika ia sendiri pun tak punya pola pikir yang baik?

Jadi, rasanya tak adil dan tak pantas jika kamu menghakimi seorang wanita yang berpendidikan tinggi atau setidaknya berusaha untuk mempunyai kesempatan berpendidikan tinggi dengan kalimat celetukan di atas.

Saya tak bilang bahwa wanita yang berpendidikan tinggi lebih layak menjadi seorang ibu daripada wanita yang tak mendapat kesempatan untuk berpendidikan tinggi. Tidak. Hanya saja saya ingin berpendapat bahwa bersekolah tinggi bagi wanita bukanlah hal yang sia-sia.

Percayalah, Tuhan tidak menciptakan wanita dengan kodrat bahwa ia harus selalu di dapur. Namun, Tuhan menciptakan wanita dengan kodrat bahwa ia adalah seorang ibu. Dan tentu saja, kodrat ibu tak hanya "di dapur".

Lagipula, pendidikan itu hak bagi setiap warga negara Indonesia. Masa kamu lecehkan dengan celetukan itu?

Kamu bilang mau cari istri yang baik, masa wanita yang mau berusaha jadi istri yang baik bagi suami masa depannya kamu rendahkan dengan celetukan itu? :)

So, please be wise and be open minded person. Latihlah diri kamu untuk melihat sesuatu tak hanya dari satu sisi. Sebab jika kamu hanya melihat dan menilai sesuatu dari satu sisi, kamu akan kehilangan kesempatan untuk melihat sisi lainnya yang lebih menakjubkan.

Cheers,
ユニタ

Puisi Tahu Diri

Ini adalah draft usang yang belum sempat diterbitkan. Ditulis pada saat saya sedang sibuk-sibuknya jadi multitasking person. Entah kapan waktu spesifiknya, yang jelas sebelum pertengahan tahun 2016 ini. 

Sila dinikmati puisi pertama saya


Jangan Punya Pacar Dulu


Jangan punya pacar dulu
Aku masih mau keluyuran sendiri
Nanti kalau punya pacar, aku nggak dibolehin lagi berlaga kayak anak ilang di tanah orang

Jangan punya pacar dulu
Karena nanti pacar aku minta ikut keluyuran juga
Sedangkan bapak lebih setuju kalau anaknya keluyuran sendiri daripada berdua dengan laki-laki yang berstatus pacar
Kata bapak, takut terjadi hal-hal yang nggak diinginkan

Jangan punya pacar dulu
Aku lagi sibuk skripsi, kerja, dan ngefreelance
Nanti pacar aku merajuk karena aku nggak punya waktu buat dia

Jangan punya pacar dulu
Aku masih gendut, belum terawat, dan belum pintar
Nanti pacar aku malu kalau bawa aku ke kondangan, apalagi ngenalin ke orang tuanya

Jangan punya pacar dulu
Aku takut terjangkit wabah nikah muda yang bagai lomba lari
Padahal, aku kan belum ada tabungan

Jangan punya pacar dulu
Aku juga sadar, sekarang belum ada calonnya

Jadi,
Jangan punya pacar dulu


Udah segitu aja.

サンキュー,

ユニタ