Exists Band - Mencari Alasan

Sial. Karena dulu Bapak sering putar lagu ini pagi-pagi, sekarang saya jadi hafal. Dan setelah saya telaah, liriknya oke juga. Maknanya pun jauh lebih bagus dibanding lagu-lagu zaman sekarang, biarpun terdengar sedikit aneh karena perbedaan bahasa Melayu dan Indonesia.

Sila dinikmati. Siapa tahu terhibur. :D


Stasiunku Sudah Ramah untuk Kaum Difabel


Revitalisai stasiun sepertinya sudah memasuki fase rampung pada akhir tahun ini. Sebab beberapa stasiun yang sempat saya sambangi kini sudah menjadi lebih baik. Keadaan tersebut dibuktikan dengan penambahan fasilitas-fasilitas yang sebelumnya tidak ada dan belum merata.

Seperti halnya di stasiun "favorit" yang selalu saya kunjungi, Stasiun Universitas Pancasila, telah tersedia fasilitas charging booth. Untuk penumpang sepertiku yang kerap pulang malam dengan keadaan ponsel habis daya baterai, tentu saja fasilitas ini sangat membantu. Dan saya yakin bukan saya saja yang merasa terbantu, sebab sekarang stop kontak sudah naik pangkat jadi kebutuhan primer bagi sejuta umat.

Yang Sudah Terselesaikan



Sejak pertama mendarat di rumah, sepeda saya sangat berat ketika dikayuh. Kupikir awalnya memang saya saja yang belum terbiasa. Ketika minggu kemarin saya nekat bersepeda ke Sudirman sejauh 37 km, saya setengah kapok karena rasa lelahnya luar biasa. Namun, setelah kemarin sore saya mencoba sepeda bapakku, kupikir alasan lelahnya bukan karena saya terlalu lemah.

Ada sesuatu yang salah dengan sepeda saya. Entah, saya pun tak tahu. Tapi saya yakin banar ada yang salah dengan sepeda saya. Selesai bersepeda sore kemarin bareng adik, saya langsung bilang ke bapak bahwa sepeda saya berat. Bapak memeriksa sepeda saya setelah membetulkan rantainya yang copot akibat ulah adik. Dari situ, masalah ditemukan. Setelan rem sepeda saya ada yang salah sehingga membuat putaran ban belakangnya agak seret.

Pagi ini, saya dan bapak sepakat untuk bersepeda ke UI. Ya, hanya ke UI. Jarak dari rumah ke sana PP hanya setengah dari rute ke Sudirman minggu kemarin. Selama di perjalanan, sungguh saya merasakan lelah. Saya pikir akan beda rasa lelahnya jika saya gunakan sepeda bapak. Sepeda bapak lebih ringan daripada sepeda saya.

Track dari rumah ke UI sebenarnya cukup landai. Hanya ada dua tanjakan. Tanjakan pertama berhasil saya lalui tanpa turun dari sepeda, meski hampir membuat saya tertabrak motor karena menghindari truk yang berbelok. Tapi tanjakan kedua saya gagal. Saya turun dan menuntun sepeda sampai puncak tanjakan, kemudian  saya naiki sepeda lagi ketika bertemu turunan. Saya curang ya?

Sepedaan Lagi!

Hari Minggu di pekan ketiga bulan Desember, pedal sepeda saya jadi saksi betapa keras perjuangan seluruh bagian kaki saya; dari paha hingga ujung jemari. Dan pada hari itu juga, perut saya mendapat bagian sedap sebab dua kali terserang keram yang membuat saya meringis tertahan.

37 km adalah jarak yang berhasil saya tempuh dengan rute Universitas Pancasila-Sudirman PP, tempat berlangsungnya Car Free Day. Saya menebusnya dalam waktu 4 jam; dari matahari masih mengintip di ufuk timur hingga ia hampir tegak lurus di atas ubun-ubun.

Belajar dari Batu

Bagaimanapun, manusia tak pernah diajarkan untuk mendengar dan mengerti bahasa batu, sekeras dan selantang apa pun si batu angkat suara.

Seperti sudah digariskan takdir, batu akan tetap teronggok meski sekali waktu seseorang memungut dan menggunakannya untuk menimpuki pohon berbuah di pekarangan rumah tetangga.

Dan sebagaimana ketidakmampuan manusia dalam mendengar dan memahami bahasa batu, mereka pun tidak ditakdirkan untuk menyadari bahwa di balik nasibnya yang malang, si batu selalu mencatat dan mengingat apa yang dilakukan manusia.

Dan, sungguh, si batu bukan malaikat.

Jakarta, November 2016
ユニタ
Terinspirasi dari Cerita Batu
karya Eka Kurniawan

Alegori Analogi


Di dalam sangkarnya yang tidak luas, Si Burung Kecil telah belajar bagaimana caranya terbang. Namun, satu fase reorientasi menyadarkannya; apa yang selama ini ia pelajari akan sepenuhnya sia-sia jika ia masih meromok di dalam kandang. Sebab sang tuan hanya menghendaki dirinya untuk pandai berkicau.


Jakarta, November 2016
ユニタ