18 Dec 2016

Sepedaan Lagi!

Hari Minggu di pekan ketiga bulan Desember, pedal sepeda saya jadi saksi betapa keras perjuangan seluruh bagian kaki saya; dari paha hingga ujung jemari. Dan pada hari itu juga, perut saya mendapat bagian sedap sebab dua kali terserang keram yang membuat saya meringis tertahan.

37 km adalah jarak yang berhasil saya tempuh dengan rute Universitas Pancasila-Sudirman PP, tempat berlangsungnya Car Free Day. Saya menebusnya dalam waktu 4 jam; dari matahari masih mengintip di ufuk timur hingga ia hampir tegak lurus di atas ubun-ubun.

Gosong. Sinar matahari yang menyembur berhasil menghitamkan wajah saya yang lupa diolesi tabir surya. Kalau boleh jujur, itu semua karena kaos kaki. Ya, barang kecil biang keladinya. Sepintas terlihat tak punya manfaat besar, tapi ia selalu sukses mengambil suasana hati saya setiap pagi. Sungguh, Tuhan memang menganugerahkan bakat bersembunyi, sebab saya selalu menyerah ketika berusaha mencarinya.

Si kaos kaki juga berhasil membuat saya melupakan helm. Alhasil, saya bersepeda melewati jalur protokol tanpa pelindung kepala dan membuat saya was-was.


1532 kalori, energi yang akhirnya melebur bersama keringat dan napas yang tersengal-sengal. Mungkin berasal dari timbunan lemak di paha saya, sebab dari malam sebelumnya perut saya tak terisi apa pun kecuali air putih.

Jika saya boleh mengikrarkan, hari ini akan saya angkat jadi hari paling produktif mengeluh dalam hidup saya. Sebab, tiap jamnya saya selalu mengembuskan napas panjang dan mengakhirinya dengan keluhan yang bahkan membuat telinga sendiri risih mendengarnya. Dibalap pesepeda lain, mengeluh. Ada tanjakan, mengeluh. Keram perut, mengeluh. Keram paha, mengeluh. Lewat jalanan berdebu, mengeluh. Pokoknya hari ini saya jadi ibu-ibu pengajian deh.

Kalian tahu? Sejujurnya, ini lebih kejam daripada jogging 30 menit tanpa berhenti ataupun istirahat minum. Ini tak hanya membakar lemak lebih banyak, tetapi juga nyali saya yang dibuat ciut karena rasa keram di paha yang sangat menyakitkan. Pengalaman sepedaan kali ini juga bukan yang pertama buat saya. Saya pernah sepedaan juga ke Sudirman pada waktu saya masih kelas tiga SMP. Tapi kenapa terasa jauh lebih lelah ya? Mungkin ada beberapa faktor yang memengaruhi kelelahan hari ini. Boleh jadi karena saya otot-otot kaki saya belum terbiasa bersepeda. Boleh jadi kareba setelan sepeda saya salah. Boleh jadi karena memang saya yang payah sih. Ah, harusnya saya sadar. Sekuat apa pun saya berpura-pura, pada kodratnya saya memang lemah. Ya, wanita akan selalu lebih lemah daripada laki-laki, bukan?

Oiya, saya juga mau berterima kasih pada Alfi, yang sudah mau mengawal nenek kecil yang nekad ini. Yang sudah mau repot-repot bunyikan bel sepedanya buat saya kalau ada kendaraan lain yang mendekat. Maaf juga ya, nenek ini terlalu sering minta istirahat untuk minum dan meredamkan rasa kram. Terlebih saat perjalan pulang, Ternyata, selain patah hati, lelah juga bisa mengikis jati diri saya.

Omong-omong kalo ditanya kapok atau enggak sepedaan ke Sudirman, untuk saat ini saya setengah kapok sih. Eh, tapi bukan berarti saya nggak akan sepedaan ke sana lagi ya. Saya mau kok, tapi mungkin nggak dalam waktu dekat ini. Sebab dari pengalaman hari ini saya jadi tahu batasan diri sendiri sampai mana. Saya juga jadi tahu saya masih harus berlatih lagi. Biar apa? biar nanti nggak diserang keram paha dan perut yang menjadi-jadi.

Pokoknya, pertama dan utama, saya mau terima kasih sama paha dan perut saya. Kalian emang dabest! Kalian mau saya traktir apa?



Cheers,
ユニタ

No comments :

Post a Comment