Skip to main content

Stasiunku Sudah Ramah untuk Kaum Difabel


Revitalisai stasiun sepertinya sudah memasuki fase rampung pada akhir tahun ini. Sebab beberapa stasiun yang sempat saya sambangi kini sudah menjadi lebih baik. Keadaan tersebut dibuktikan dengan penambahan fasilitas-fasilitas yang sebelumnya tidak ada dan belum merata.

Seperti halnya di stasiun "favorit" yang selalu saya kunjungi, Stasiun Universitas Pancasila, telah tersedia fasilitas charging booth. Untuk penumpang sepertiku yang kerap pulang malam dengan keadaan ponsel habis daya baterai, tentu saja fasilitas ini sangat membantu. Dan saya yakin bukan saya saja yang merasa terbantu, sebab sekarang stop kontak sudah naik pangkat jadi kebutuhan primer bagi sejuta umat.


Untuk penumpang –terutama wanita– yang takut jalan sendiri, tak perlu khawatir lagi jika pulang malam dalam keadaan ponsel kehabisan daya baterai, karena sekarang sudah bisa mengabarkan orang rumah untuk minta jemput di stasiun. Pun ketika terjebak hujan, tak perlu lagi menunggu hujan berhenti hanya dengan memandangi titik-titik air yang jatuh ke bumi, ataupun mendengar gemerciknya. Tentu akan lebih asik jika menunggu hujan sambil mendengarkan musik, atau chatting dengan teman-teman, bukan? Dan mendengarkan musik serta chatting dengan teman tak akan bisa dilakukan jika daya baterai ponsel habis.

Selain fasilitas charging booth di Stasiun Universitas Pancasila, terowongan penumpang di Stasiun Manggarai juga sudah beroperasi. Walaupun belum sepenuhnya rampung, menurutku bisa beroperasi saja sudah sangat membantu lalu lintas penumpang yang ingin pindah peron. Karena sebelum adanya terowongan ini, penumpang yang ingin naik KRL di peron berbeda harus menyebrang dan seringkali tertinggal karena harus menunggu KRL lain diberangkatkan.

Saya dengar-dengar juga, Stasiun Tanah Abang akan dibangun eskalator? WOW!

Namun, dari semua fasilitas yang sudah ditambah, yang paling membuat saya takjub adalah pengadaan Tenji Blocks!

Apa itu Tenji Blocks?

Tenji Blocks adalah ubin dengan huruf braille menyembul di atasnya. Fasilitas ini diperuntukkan bagi penderita tunanetra untuk memudahkan mereka ketika menyusuri jalan. Karena berfungsi sebagai ubin peraba, bentuk Tenji Blocks ini hanya berupa karakter titik-titik dan setrip-setrip yang menyembul.




Di stasiun KRL, kamu bisa menjumpai fasilitas ini menghampar dari pintu masuk stasiun hingga ujung peron, sehingga memudahkan kaum difabel untuk menggunakan kereta. Kamu tentu juga akan mudah mengenali fasilitas ini, sebab untuk saat ini ubin peraba ini bercat kuning terang.

Pertama kali saya melihat Tenji Blocks itu di halte Transjakarta. Awalnya saya tidak sadar apa fungsi dari keberadaan lantai bercat dengan titik-titik dan setrip-setrip menyembul ini, sampai temanku pun memberitahu.

“Tau nggak ini buat apa?” tanyanya sambil menunjuk lantai yang kami injak.

Saya menggeleng sambil memusatkan pandanganku ke tenji blocks yang ia tunjuk. Saat itu kami baru saja turun dari Transjakarta dan sedang melangkah menuju pintu keluar halte.

“Ini petunjuk jalan buat orang buta. Kalo yang setrip ini artinya jalan terus, dan kalo yang titik-titik—” ia berhenti sejenak sambil mengedarkan pandangannya ke lantai, mencari ubin bercat kuning dengan karakter titik-titik menyembul.

“Ini artinya hati-hati, atau berhenti ya?” tandasnya setelah berhasil menemukan apa yang ia cari, sekaligus mengakhiri penjelasan dengan pertanyaan untuk dirinya sendiri.

Saya mengacuhkan kalimatnya yang terakhir. Buatku, yang terpenting saya dapat pengetahuan baru. Perkara benar atau tidak penjelasannya, akan saya kroscek lagi lewat Mbah Gugel. Saya jahat nggak?

Memang cukup lama jarak waktu antara pengadaan Tenji Blocks di halte Transjakarta dan stasiun KRL. Kadang kupikir mungkin saya saja yang tidak ‘ngeh’ kalau sudah ada Tenji Blocks di stasiun KRL sejak dulu, tapi sepertinya memang baru diadakan deh. *plin plan*

Sudah diadakan sejak dulu ataupun belum, yang terpenting sekarang saya senang. Pemerintah dan perusahaan jasa transportasi seperti PT KAI maupun Transjakarta sudah merealisasikan bentuk perhatian mereka terhadap kaum difabel. Stasiun dan halte Transjakarta sudah ramah untuk orang-orang berkebutuhan khusus. Kursi-kursi prioritas sudah digalakkan. Sekarang tugas kita untuk memeliharanya. Pun saling mengingatkan sesama penumpang untuk memberikan kursi prioritas untuk mereka yang membutuhkan.

Yuk buat transportasi di Indonesia menjadi nyaman dan ramah! Turut memelihara transportasi umum adalah salah satu bentuk perhatianmu terhadap kemacetan di Jakarta, lho.

Cheers,

ユニタ

Comments

Popular posts from this blog

Mall-Mall yg Dapat Dijangkau Dengan Commuter Line

“Murah dan nggak macet.”
Ini adalah prinsip gue dalam memilih sarana transportasi umum di Jakarta. Ke mana pun dan sejauh apapun jaraknya, selama bisa dijangkau dengan Commuter Line, gue akan selalu siap walau dalam kondisi apapun termasuk jika keadaan memaksa gue untuk pergi seorang diri. Ke kantor, ke kampus, ke terminal, ke pasar, atau pun ke rumah temen, gue akan selalu mencari stasiun terdekat dari tempat yang ingin gue tuju.

Kenalan sama ISI 2012 Yuk!

Tak kenal maka tak sayang.
Sebelum gue lanjutkan cerita trip gue ke MY – THAI Day 2, alangkah baiknya kalian baca ini dulu.
Di MY – THAI Trip Day I pasti kalian bertanya-tanya, siapa sih ISI 2012 itu? Siapa sih para penyabun itu? Siapa sih tim cewek-cewek? Siapa sih Sir Gufron? Siapa sih yang ngendarain kereta monorailnya?
Nah di sini gue bakal ngenalin apa dan siapa ISI 2012.

MY – THAI Trip Day 2, Welcome to Hat Yai!

Hai!
Udah penasaran banget sama cerita MY – THAI Trip hari keduanya? Udah penasaran banget gimana tingkah gue naik sleeper train? Udah penasaran banget gimana kesemutannya gue duduk di bangku kereta selama 12 jam? Udah penasaran banget sama orang-orang macam apa yang gue temuin di sleeper train? Udah penasaran banget sama larangan di sleeper train? Udah penasaran banget sama..... /plak Ini ditampar karena kelamaan.