Skip to main content

Yang Sudah Terselesaikan



Sejak pertama mendarat di rumah, sepeda saya sangat berat ketika dikayuh. Kupikir awalnya memang saya saja yang belum terbiasa. Ketika minggu kemarin saya nekat bersepeda ke Sudirman sejauh 37 km, saya setengah kapok karena rasa lelahnya luar biasa. Namun, setelah kemarin sore saya mencoba sepeda bapakku, kupikir alasan lelahnya bukan karena saya terlalu lemah.

Ada sesuatu yang salah dengan sepeda saya. Entah, saya pun tak tahu. Tapi saya yakin banar ada yang salah dengan sepeda saya. Selesai bersepeda sore kemarin bareng adik, saya langsung bilang ke bapak bahwa sepeda saya berat. Bapak memeriksa sepeda saya setelah membetulkan rantainya yang copot akibat ulah adik. Dari situ, masalah ditemukan. Setelan rem sepeda saya ada yang salah sehingga membuat putaran ban belakangnya agak seret.

Pagi ini, saya dan bapak sepakat untuk bersepeda ke UI. Ya, hanya ke UI. Jarak dari rumah ke sana PP hanya setengah dari rute ke Sudirman minggu kemarin. Selama di perjalanan, sungguh saya merasakan lelah. Saya pikir akan beda rasa lelahnya jika saya gunakan sepeda bapak. Sepeda bapak lebih ringan daripada sepeda saya.

Track dari rumah ke UI sebenarnya cukup landai. Hanya ada dua tanjakan. Tanjakan pertama berhasil saya lalui tanpa turun dari sepeda, meski hampir membuat saya tertabrak motor karena menghindari truk yang berbelok. Tapi tanjakan kedua saya gagal. Saya turun dan menuntun sepeda sampai puncak tanjakan, kemudian  saya naiki sepeda lagi ketika bertemu turunan. Saya curang ya?
Sampai di UI, saya sempat meminta bertukar sepeda dengan bapak. Dan bapak pun setuju. Saya sedikit lega sebab kakiku sudah berkurang bebannya. Di sisi lain, kubiarkan bapak merasakan betapa beratnya sepeda saya. Mungkin juga agar beliau tahu kenapa sewaktu perjalanan tadi saya tertinggal cukup jauh. Maaf ya, Pak. Saya tidak maksud menyiksa Bapak. Aku hanya kepingin Bapak percaya kalau sepedaku berat. Anggap saja itu usahaku untuk cari teman agar ada orang lain yang percaya pada masalahku selama dua minggu ini.

Selama berisitirahat di boulevard, aku main skipping. Tidak seintens biasanya yang kolot harus menghasilkan seribu lompatan. Kali ini aku hanya iseng, sambil merenggangkan otot-otot kakiku. Sedangkan bapak sibuk berkutat dengan ponsel pintarnya. Di selah-selah waktu beristirahat, aku juga pergi ke Indomaret untuk membeli minum. Mengayuh sepeda yang berat sangat menguras persediaan cairan tubuh. Percayalah.

Jam delapan kurang dua menit, aku dan bapak bertolak dari UI. Menurut kesepakatan ketika istirahat tadi, beliau mau mengantarkanku ke bengkel sepeda yang berlokasi di dekat Desa Putera. Aku sempat bertanya sejauh apa jaraknya, dan beliau jawab cukup jauh. Kutanya bagaimana track-nya, beliau juga jawab cukup landai, tapi ada satu-dua tanjakan yang tak terlalu curam. Walau otot kakiku masih berat akhirnya aku mengiyakan, sebab jika diulur, aku akan terus tersiksa dengan setelan sepedaku yang seperti ini.

Sejauh hampir 7 km dan menghabiskan waktu 39 menit, akhirnya kami sampai di bengkel sepeda yang bapak maksud. Syukur bengkel itu tidak tutup meski pada hari libur nasional ini. Aku tak terlalu lelah sih meski matahari menyiram teriknya dari selah-selah awan yang bergelombang dan berlapis. Mungkin karena hari ini aku tak khawatir lagi wajahku akan semakin gosong, sebab tadi aku tak lupa mengoleskan tabir surya ke wajahku.

Bapak benar, track-nya cukup landai. Dua tanjakan dan satu di antaranya berhasil membuat aku menuntun sepedaku. Sedangkan bapak menyerah pada kedua tanjakan tersebut, beliau rajin menuntun sepedanya.


Di bengkel, sepeda bapak adalah pasien yang didahulukan dibanding sepedaku. Beliau meminta petugas bengkel membetulkan setelan remnya yang kerap mengeluarkan bunyi saat ditarik maupun tidak. Di sini aku cukup cerewet pada bapak. Kubilang, setelan remnya berat, Pak. Bapak hanya mengangguk. Aku mengulanginya lagi, sepeda dede berat, bilangin ke Masnya. Mungkin bapak agak risih sebab aku terus berkicau. Habis, kupikir beliau tidak mendengar karena kedua telinganya ditutup earphone. Biasanya beliau memang selalu mendengarkan musik dengan volume yang cukup keras sehingga menjadi sulit mendengar suara lain yang bukan berasal dari pori-pori earphone yang digunakannya.

Setelah urusan dengan sepeda bapakku selesai, Si Mas Berkaos Merah yang menangani sepeda beliau baru menyentuh sepedaku. Di saat yang sama bapak menyampaikan keinginanku dan Si Mas Berkaos Merah memeriksa setelan rem dan gigi di roda bagian belakang sepedaku.

Beberapa kali peralatan bengkel yang bentuknya tak konsisten itu diputar, diganti dan kembali diputar pada baut yang menempel di sudut-sudut dekat roda belakang sepedaku. Tak lama, Si Mas Berkaos Merah akhirnya berhasil membuat kondisi rem belakang sepedaku betul. Sekarang ban belakang sepedaku seperti selayaknya ban sepeda yang diputar bagai wheel fortune; berhentinya tidak seret dan secara perlahan.

Aku juga mengganti kedua ban sepedaku. Karena menurut bapak, ban sepedaku memiliki andil atas beratnya beban sepeda ketika dikayuh. Berhubung aku punya pikiran yang sama, jadi aku sekalian saja mengganti ban, supaya masalahnya selesai dan aku tidak merasa tersiksa lagi. Lagi pula ban sepedaku yang dari pabrik bentuknya sudah ketinggalan zaman kata bapak.

Sekitar pukul sembilan lebih lima belas menit, sepedaku selesai dioperasi. Siap digunakan. Aih, kupikir Si Putih bagai Tabula Rasa sekarang; ia seperti dilahirkan kembali, suci tanpa dosa dan keluhan yang keluar dari mulut kotorku selama satu minggu ini. Aku pun tak sabar untuk menaikinya dan mengayuh pedalnya.

Setelah membayar, aku dan bapak pamit pada Si Mas Berkaos Merah. Kunaiki Si Putih dan kukayuh pedalnya. Cukup tiga kayuh, otakku langsung mengirimkan neutron-neutron semangat ke otot-otot pahaku. Aku teriak dalam hati, “RINGAN!!!!!”.

Kemudian neutron-neutron itu menyebar ke otot pipiku, menarik sudut-sudut bibirku dan merekahkan senyum. Otot-otot pernapasanku juga kena bagian. Aliran udara bisa melenggang masuk ke dalam rongga hidung dengan lancar setelah disaring oleh bulu-bulu halus. Kemudian udara disambut faring, merosot hingga laring, meluncur ke trakea, masuk ke dalam bronkus dan bronkiolus, dan pada akhirnya sampai di paru-paru dengan cantik. Lebih cantik daripada  gaya khas maju-mundur cantik Teh Syahrini maupun Raisa yang baru putus hubungan dengan Keenan Pearce.

Oke, ini berlebihan.

Pokoknya, inti dari pembetulan setelan rem dan penggantian roda hari ini membuat sepedaku jadi ringan! Ya, meskipun dompetku juga ikutan ringan karena isinya mulai terkikis. Selain itu, nyaliku juga mendadak mengembang, meninggalkan ciutnya yang kemarin ditimpa setelan rem yang keliru. Senang!

Sekarang, aku kembali siap diajak bersepeda ke Sudirman lagi. Tanpa mengeluh berat. J

Omong-omong, sepedaan ke UI lumayan juga, lho. Kalori yang terbakar setengah dari kalori yang terbakar saat sepedaan ke Sudirman kemarin. Hehehe. Tambah senang!




Cheers,
ユニタ

Comments

Popular posts from this blog

Mall-Mall yg Dapat Dijangkau Dengan Commuter Line

“Murah dan nggak macet.”
Ini adalah prinsip gue dalam memilih sarana transportasi umum di Jakarta. Ke mana pun dan sejauh apapun jaraknya, selama bisa dijangkau dengan Commuter Line, gue akan selalu siap walau dalam kondisi apapun termasuk jika keadaan memaksa gue untuk pergi seorang diri. Ke kantor, ke kampus, ke terminal, ke pasar, atau pun ke rumah temen, gue akan selalu mencari stasiun terdekat dari tempat yang ingin gue tuju.

Kenalan sama ISI 2012 Yuk!

Tak kenal maka tak sayang.
Sebelum gue lanjutkan cerita trip gue ke MY – THAI Day 2, alangkah baiknya kalian baca ini dulu.
Di MY – THAI Trip Day I pasti kalian bertanya-tanya, siapa sih ISI 2012 itu? Siapa sih para penyabun itu? Siapa sih tim cewek-cewek? Siapa sih Sir Gufron? Siapa sih yang ngendarain kereta monorailnya?
Nah di sini gue bakal ngenalin apa dan siapa ISI 2012.

MY – THAI Trip Day 2, Welcome to Hat Yai!

Hai!
Udah penasaran banget sama cerita MY – THAI Trip hari keduanya? Udah penasaran banget gimana tingkah gue naik sleeper train? Udah penasaran banget gimana kesemutannya gue duduk di bangku kereta selama 12 jam? Udah penasaran banget sama orang-orang macam apa yang gue temuin di sleeper train? Udah penasaran banget sama larangan di sleeper train? Udah penasaran banget sama..... /plak Ini ditampar karena kelamaan.