Skip to main content

1/365



Selamat Tahun Baru 2017!

Bagaimana malam tahun baru kalian? Kalau saya sih, hanya meromok di dalam kamar sambil menyelesaikan reading challenge dari Goodreads. Maklum, belum punya bojo dan teman-teman juga sudah punya acara sendiri dengan keluarga maupun bojo masing-masing. Eh, lagian punya bojo pun nggak menjamin bakal ada agenda sih. Hahaha. Sedih ya? Tapi saya enjoy kok.

Anyway, hari pertama tahun 2017 ini saya punya agenda seru; bersepeda keliling kebun binatang.


Awal mulanya teman saya yang ngajak dan karena saya pikir ini akan jadi seru berhubung akhir-akhir ini saya lagi keranjingan naik sepeda, jadi saya sambut ajakannya. Kami sampai di Kebun Binatang Ragunan jam setengah delapan lewat sedikit, tapi pengunjung sudah bejubel. Kami pikir jumlah pengunjung bejubel di depan loket ini memang biasa terjadi pada liburan awal tahun.

Setelah sekian lama tidak mengunjungi kebun binatang ini saya sampai lupa kapan terakhir kali mengunjunginya. Dan ternyata saya juga ketinggalan banyak hal dari kebun binatang ini. Baru saya tahu sekarang mereka telah menerapkan sistem e-ticketing. Bekerja sama dengan Bank DKI, pengunjung diwajibkan masuk ke kebun binatang menggunakan kartu ini yang saldonya bisa di-top-up di loket. Semacam jika kita ingin naik TransJakarta atau KRL saja sih sebenarnya.


Meski sempat kecewa karena persediaan sepeda gunung di rental sepeda tak tersisa, kami akhirnya terpaksa menggunakan sepeda tandem untuk dua orang. Ini kali pertama buat kami mengendarai sepeda tandem. Setelah dicoba, ternyata saya lebih suka naik sepeda gunung. Sebab mengendarai sepeda ini tak lebih nyaman daripada mengendarai sepeda gunung. Untuk bisa mengendarai sepeda jenis ini dengan mulus, kamu butuh kekompakan dan hubungan batin yang kuat antara kedua pengendaranya. Alah. Ya, pokoknya gitu deh. Ritme mengayuh harus selaras, timing harus tepat: kapan harus berhenti dan kapan harus mengayuh lebih giat. Salah-salah bisa melukai satu sama lain. Kaki terantuk pedal, misalnya. Selain itu, untuk putar-balik juga butuh usaha lebih. Karena jenis sepeda ini lebih panjang dari sepeda biasanya, kamu harus pilih tempat yang cukup luas dan tidak terlalu ramai ketika ingin putar-balik. Ribet ya?

Kami dua kali mengganti sepeda. Sepeda tandem yang kami gunakan pertama bermasalah pada giginya. Mengayuh jadi tidak nyaman dan laju sepedanya juga tidak enak. Jadilah setelah berkeliling menempuh jarak hampir 4 km, Papam, teman saya, memutuskan kembali ke rental untuk menukar sepeda. Tentu saja saya juga ikut bersamanya.

Ternyata masalah belum selesai sampai di situ. Setelah menukar dengan sepeda tandem yang lain, masalah baru pun muncul. Jok depan sangat tidak nyaman sebab teksturnya keras. Duduk pun sakit, aku Papam yang mendapat tugas duduk di jok depan. Kami sempat bertukar tempat; saya di depan, Papam di belakang. Tapi karena Papam kepalang takut saya yang menyetirinya, jadi ia kembali pada posisi semula ketika saya baru saja mengayuh sejauh kurang dari sepuluh meter. Lagi pula menurutku setangnya agak berbeda, tidak seperti sepeda saya. Dan itu cukup membuat saya kagok.

Biarpun jok depan tidak nyaman, kekompakan harus dilatih dan yang terpenting harus pintar-pintar pilih jalan yang tidak terlalu ramai, kami akhirnya tetap berkeliling hingga menyempatkan diri mengunjungi beberapa kandang binatang; kandang harimau, kandang gajah, kandang beruang,

Sedangkan Papam tersiksa dengan joknya, saya yang duduk di jok belakang malah merasa sangat-sangat merdeka. Saya bisa mengayuh sambil melepaskan kedua tanganku dari setang. Karena hal itu saya pun bisa melakukan banyak hal seperti menari-nari, bermain handphone, dan juga dadah-dadah ke binatang yang ada di balik kandang mereka. Dan karena itu pula, saya merasa jadi orang terkampret dan teralay. Ngahahahaha (suara tertawa). Maaf ya, Pam!

Tapi tak apa-apalah, ya. Bukankah jika ingin sesuatu berjalan baik kalian harus mengawalinya dengan baik pula? Andjaaay! Begitu pun tahun ini. Biar saja saya jadi orang teralay dan terkampret untuk hari ini, biar senang dulu. Kalau sudah senang, ke depannya Insya Allah akan senang juga. Aamiin.

"Today is the first blank page of a 365 page book.
Write a good one."
–Brad Paisley

I did something new and wrote a good one for me today, how about you?

Cheers,

ユニタ

Comments

Popular posts from this blog

Mall-Mall yg Dapat Dijangkau Dengan Commuter Line

“Murah dan nggak macet.”
Ini adalah prinsip gue dalam memilih sarana transportasi umum di Jakarta. Ke mana pun dan sejauh apapun jaraknya, selama bisa dijangkau dengan Commuter Line, gue akan selalu siap walau dalam kondisi apapun termasuk jika keadaan memaksa gue untuk pergi seorang diri. Ke kantor, ke kampus, ke terminal, ke pasar, atau pun ke rumah temen, gue akan selalu mencari stasiun terdekat dari tempat yang ingin gue tuju.

Kenalan sama ISI 2012 Yuk!

Tak kenal maka tak sayang.
Sebelum gue lanjutkan cerita trip gue ke MY – THAI Day 2, alangkah baiknya kalian baca ini dulu.
Di MY – THAI Trip Day I pasti kalian bertanya-tanya, siapa sih ISI 2012 itu? Siapa sih para penyabun itu? Siapa sih tim cewek-cewek? Siapa sih Sir Gufron? Siapa sih yang ngendarain kereta monorailnya?
Nah di sini gue bakal ngenalin apa dan siapa ISI 2012.

MY – THAI Trip Day 2, Welcome to Hat Yai!

Hai!
Udah penasaran banget sama cerita MY – THAI Trip hari keduanya? Udah penasaran banget gimana tingkah gue naik sleeper train? Udah penasaran banget gimana kesemutannya gue duduk di bangku kereta selama 12 jam? Udah penasaran banget sama orang-orang macam apa yang gue temuin di sleeper train? Udah penasaran banget sama larangan di sleeper train? Udah penasaran banget sama..... /plak Ini ditampar karena kelamaan.