Skip to main content

Bersua Penulis Favorit


Akhir tahun 2016 menjadi momen paling tak ingin saya ulang. Banyak hal buruk yang membuat saya hampir putus asa. Akhir tahun membawa saya pada titik jenuh tertinggi saya terhadap pekerjaan. Ia juga berhasil menenggelamkan semangat hidup saya. Namun, puji syukur semua sudah terlewati. Dunia memang berputar. Tak selamanya badai berdiam di suatu samudra. Tak selamanya tupai pandai melompat. Dan tak selamanya orang beruntung selalu dihampiri keberuntungan, begitu pun sebaliknya.

Awal tahun ini cukup baik buat saya. Beberapa kabar baik menghampiri. Beberapa wishlist tercapai. Beberapa rencana berjalan dengan lancar. Sungguh, tahun ini dimulai dengan hal-hal baik. Semoga seterusnya ia akan selalu mengantarkan saya pada hal-hal baik. Aamiin.

Salah satu hal baik yang membuat semangat saya membumbung lagi adalah pertemuan dengan orang yang saya kagumi. Ia adalah seorang novelis, cerpenis, dan sastrawan, Eka Kurniawan. Jujur saja, perkenalan saya dengan karyanya merupakan suatu ketidaksengajaan yang berujung pada suatu kekaguman.

Buku beliau yang saya baca pertama kali adalah Lelaki Harimau. Saat itu faktor yang mendorong saya untuk mengeliminasi Lelaki Harimau dari rak di salah satu toko buku adalah rekomendasi dari seorang jurnalis termahsyur yang saya tonton di sebuah video di Youtube.

Dalam menyelesaikan buku tersebut, saya membutuhkan waktu tujuh hari. Setelah menyelesaikan buku itu saya masih belum sadar jika buku ini adalah salah satu karya terbaiknya Mas Eka, sebab saya sudah lama tidak membaca buku sejak waktu yang saya sendiri tidak ingat. Pokoknya lama sekali saya tidak menyentuh buku, kecuali buku tulis dan buku tabungan. Yang saya tahu, otak saya bereaksi agak lambat dalam menangkap apa yang ditulis Mas Eka. Sampai pada akhirnya saya hanya menganggap itu sebuah buku cerita yang mengisi waktu senggang saya selama di transportasi umum. Tak lebih.

Beberapa waktu kemudian saya membeli buku Mas Eka yang berjudul ‘O’ karena direkomendasikan oleh salah satu akun favorit di Twitter. Dari situ saya langsung jatuh cinta pada karya Mas Eka dan walau tak sekaligus, saya dengan sedikit membabi buta memburu buku-buku karya Mas Eka.

Buku Mas Eka yang saya baca terakhir

Sampai dengan saat ini saya sudah membaca dan mengumpulkan empat novel dan dua kumcer karya Mas Eka. Dan dari karya-karya Mas Eka itu, Cantik Itu Luka adalah favorit saya. Sebagai seorang pembaca baru dan pengamat buku amatir, buat saya Mas Eka adalah seorang penulis yang extraordinary. Beliau selalu bisa membuat saya terpanah dengan gaya bahasanya yang vulgar namun jujur. Yang satire namun memang seperti itulah adanya. Beliau mengemas segala aspek kehidupan seperti sosial, romance, individualisme, politik, sejarah, bahkan surealisme menjadi sesuatu yang ‘gila’, sesuatu yang membuat pembaca terheran-heran mengapa hal-hal itu bisa menjadi kombinasi yang sangat menarik untuk dibaca, disimak dan ditelaah.

Di samping gagasan yang disampaikan dan teknik penyajian cerita yang apik, Mas Eka juga membuat karya-karyanya menarik untuk dibaca lewat penamaan karakter yang tidak biasa. Seperti Mama Kalong, Maman Gendeng, Sang Sodancho, dan Edi Idiot di Cantik Itu Luka. Entang Kosasih, O, Manikmaya, Mimi Jamilah, Betalumur di O. Margio, Kiai Jahro, Ma Soma, Mayor Sadrah di Lelaki Harimau. Ajo Kawir, Agus Klobot, Rona Merah, Iwan Angsa, Iteung, dan Si Tokek di Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas. Menarik, bukan? Ya, setidaknya menurut saya. Hehehehe.


Hari ini saya melihat sosok yang saya kagumi itu dalam acara yang diselenggarakan oleh Gramedia Dot Com. Berjudul Narasi Jamak dengan Eka Kurniawan, acara ini terdiri dari dua sesi: lokakarya yang hanya diikuti oleh limabelas peserta terpilih dan diskusi yang diikuti oleh peserta yang sudah membeli buku karya Mas Eka di gramedia.com. Dan puji syukur saya menjadi salah satu dari limabelas peserta terpilih yang berkesempatan mengikuti sesi pertama yaitu Workshop Membangun Karakter setelah contoh prosa yang saya kirim ke tim redaksi gramedia dinyatakan lolos.

Sesi satu berjalan dengan situasi yang tidak terlalu formal dan cukup santai, jauh dari apa yang saya pikirkan. Yang cenderung akan menegangkan sebab seminggu sebelum acara, para peserta disarankan untuk membaca buku Old Man and Sea karya Ernest Hemingway. Selama tiga jam, saya dan teman-teman yang lolos berkesempatan menyimak materi dari Mas Eka tentang hal-hal yang berkaitan dengan karakter dalam cerita. Di sana peserta juga dipersilakan untuk bertanya dan Mas Eka dengan ketersediannya akan menjawab.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan makan siang. Mas Eka, para peserta dan staf Gramedia makan siang di satu meja sambil bercengkerama dan berbincang-bincang mengenai buku Mas Eka dan asal para peserta. Di meja yang sama juga ada editor Mas Eka yaitu Mirna Yulistianti yang kehadirannya menambahkan bumbu-bumbu topik pembicaraan saat itu.


Setengah jam sebelum sesi kedua dimulai, para peserta sesi pertama menyempatkan diri untuk meminta tanda tangan di buku Mas Eka yang mereka bawa, beberapa lagi meminta foto bersama. Karena saya tidak membawa buku Mas Eka (karena berat dan perjalanan dari Lenteng Agung ke Palmerah itu lumayan jauh dan lumayan lama kalau berdiri di KRL), jadi saya hanya minta foto bersama. Dan yeay! Akhirnya saya foto bareng penulis favorit saya juga. Senang!


Sesi kedua dimulai jam setengah dua siang. Peserta yang hadir lebih banyak daripada peserta di sesi pertama, tetapi tidak genap berjumlah lima puluh orang. Peserta sesi pertama juga secara langsung mendapat kesempatan mengikuti sesi kedua. Sesi kedua ini berlangsung alot dan lebih santai sebab selain dinaratori oleh Mas Norman yang jenaka, topik yang diangkat juga lebih luas sehingga para peserta antusias bertanya tentang karya-karya Mas Eka. Sebagai apresiasi dari tim Gramedia, lima orang penanya pertama mendapatkan buku dan saya tidak termasuk ke dalam lima peserta itu, sebab dalam dua sesi saya tidak bertanya apa pun. Saya hanya menyimak dan saat itu memang tidak ada pertanyaan yang menggantung di dalam kepala saya. Toh kalau memang nanti saya ada pertanyaan, saya bisa mampir ke blognya Mas Eka. Hehehehehe.

Terima kasih Grameida.com yang sudah menyelenggarakan acara ini dan terima kasih kepada Mas Eka yang mau menyempatkan waktunya untuk berbagi ilmu!

Semoga kita bertemu lagi di lain kesempatan. :)

Cheers,

ユニタ

Comments

Popular posts from this blog

Mall-Mall yg Dapat Dijangkau Dengan Commuter Line

“Murah dan nggak macet.”
Ini adalah prinsip gue dalam memilih sarana transportasi umum di Jakarta. Ke mana pun dan sejauh apapun jaraknya, selama bisa dijangkau dengan Commuter Line, gue akan selalu siap walau dalam kondisi apapun termasuk jika keadaan memaksa gue untuk pergi seorang diri. Ke kantor, ke kampus, ke terminal, ke pasar, atau pun ke rumah temen, gue akan selalu mencari stasiun terdekat dari tempat yang ingin gue tuju.

Kenalan sama ISI 2012 Yuk!

Tak kenal maka tak sayang.
Sebelum gue lanjutkan cerita trip gue ke MY – THAI Day 2, alangkah baiknya kalian baca ini dulu.
Di MY – THAI Trip Day I pasti kalian bertanya-tanya, siapa sih ISI 2012 itu? Siapa sih para penyabun itu? Siapa sih tim cewek-cewek? Siapa sih Sir Gufron? Siapa sih yang ngendarain kereta monorailnya?
Nah di sini gue bakal ngenalin apa dan siapa ISI 2012.

MY – THAI Trip Day 2, Welcome to Hat Yai!

Hai!
Udah penasaran banget sama cerita MY – THAI Trip hari keduanya? Udah penasaran banget gimana tingkah gue naik sleeper train? Udah penasaran banget gimana kesemutannya gue duduk di bangku kereta selama 12 jam? Udah penasaran banget sama orang-orang macam apa yang gue temuin di sleeper train? Udah penasaran banget sama larangan di sleeper train? Udah penasaran banget sama..... /plak Ini ditampar karena kelamaan.