28 Jan 2017

Lelah yang Tertinggal

Kartini pernah bersabda, "Habis gelap terbitlah terang." tapi sepertinya sabda tersebut tak berlaku untuk saya selama dua hari ini.

Setelah kemarin berhasil mewujudkan salah satu resolusi tahun 2017--bike to work--, saya malah merasa badan saya disergap rasa lelah yang tak kunjung tuntas. Padahal kemarin setelah sampai rumah, saya menyempatkan diri untuk berbaring di atas kasur terapi tulang belakang, merasakan batu-batu giok bersuhu hangat di dalamnya menyusuri tulang belakang saya sehingga menciptakan sensasi pijat yang luar biasa memabukkan. Enak, seperti obat pegal yang tepat setelah mengayuh sepeda sejauh 34 km (pp).

Tapi ternyata lelahnya hanya pergi sebentar, dia seperti tahu jalan dan cara pulang hinggap di badan saya lagi. Lebih-lebih dari itu, ia bawa teman: rasa lapar yang tak kunjung usai. Teman saya bilang, hal itu wajar sebab tubuh yang lelah akan menuntut asupan kalori lebih hingga jumlahnya terpenuhi untuk kebutuhan tubuh mencerna makanan. Jadi wajar sekali kalau orang lelah itu mudah lapar.

Menurut saya rasa lelah ini bahaya. Kenapa? Karena biasanya orang lain lelah dan kemudian merasa lapar, alih-alih makan mereka lebih memilih langsung tidur. Tidak seperti saya yang main hajar aja sama makanan. Kalau sudah begitu, saya jadi merasa kegiatan bike to work saya sia-sia karena asupan kalori yang masuk lagi ke tubuh sama dengan kalori yang dibakar saat bersepeda. Huft.

Hm, mungkin nggak terlalu sia-sia juga sih, ya. Karena kalau dipikir-pikir lagi, walaupun makan banyak tapi otot sudah terlatih. Melatih otot dengan berolahraga sebenarnya bertujuan untuk menghindari tubuh dari kelainan otot yang disebut otot kapas. Otot kapas ini bisa membuat kita jadi mudah kehilangan dan mendapatkan berat badan secara cepat.

Menurut kaliam gimana?

No comments :

Post a Comment