Skip to main content

Lelah yang Tertinggal

Kartini pernah bersabda, "Habis gelap terbitlah terang." tapi sepertinya sabda tersebut tak berlaku untuk saya selama dua hari ini.

Setelah kemarin berhasil mewujudkan salah satu resolusi tahun 2017--bike to work--, saya malah merasa badan saya disergap rasa lelah yang tak kunjung tuntas. Padahal kemarin setelah sampai rumah, saya menyempatkan diri untuk berbaring di atas kasur terapi tulang belakang, merasakan batu-batu giok bersuhu hangat di dalamnya menyusuri tulang belakang saya sehingga menciptakan sensasi pijat yang luar biasa memabukkan. Enak, seperti obat pegal yang tepat setelah mengayuh sepeda sejauh 34 km (pp).
Tapi ternyata lelahnya hanya pergi sebentar, dia seperti tahu jalan dan cara pulang hinggap di badan saya lagi. Lebih-lebih dari itu, ia bawa teman: rasa lapar yang tak kunjung usai. Teman saya bilang, hal itu wajar sebab tubuh yang lelah akan menuntut asupan kalori lebih hingga jumlahnya terpenuhi untuk kebutuhan tubuh mencerna makanan. Jadi wajar sekali kalau orang lelah itu mudah lapar.

Menurut saya rasa lelah ini bahaya. Kenapa? Karena biasanya orang lain lelah dan kemudian merasa lapar, alih-alih makan mereka lebih memilih langsung tidur. Tidak seperti saya yang main hajar aja sama makanan. Kalau sudah begitu, saya jadi merasa kegiatan bike to work saya sia-sia karena asupan kalori yang masuk lagi ke tubuh sama dengan kalori yang dibakar saat bersepeda. Huft.

Hm, mungkin nggak terlalu sia-sia juga sih, ya. Karena kalau dipikir-pikir lagi, walaupun makan banyak tapi otot sudah terlatih. Melatih otot dengan berolahraga sebenarnya bertujuan untuk menghindari tubuh dari kelainan otot yang disebut otot kapas. Otot kapas ini bisa membuat kita jadi mudah kehilangan dan mendapatkan berat badan secara cepat.

Menurut kaliam gimana?

Comments

Popular posts from this blog

Mall-Mall yg Dapat Dijangkau Dengan Commuter Line

“Murah dan nggak macet.”
Ini adalah prinsip gue dalam memilih sarana transportasi umum di Jakarta. Ke mana pun dan sejauh apapun jaraknya, selama bisa dijangkau dengan Commuter Line, gue akan selalu siap walau dalam kondisi apapun termasuk jika keadaan memaksa gue untuk pergi seorang diri. Ke kantor, ke kampus, ke terminal, ke pasar, atau pun ke rumah temen, gue akan selalu mencari stasiun terdekat dari tempat yang ingin gue tuju.

Kenalan sama ISI 2012 Yuk!

Tak kenal maka tak sayang.
Sebelum gue lanjutkan cerita trip gue ke MY – THAI Day 2, alangkah baiknya kalian baca ini dulu.
Di MY – THAI Trip Day I pasti kalian bertanya-tanya, siapa sih ISI 2012 itu? Siapa sih para penyabun itu? Siapa sih tim cewek-cewek? Siapa sih Sir Gufron? Siapa sih yang ngendarain kereta monorailnya?
Nah di sini gue bakal ngenalin apa dan siapa ISI 2012.

MY – THAI Trip Day 2, Welcome to Hat Yai!

Hai!
Udah penasaran banget sama cerita MY – THAI Trip hari keduanya? Udah penasaran banget gimana tingkah gue naik sleeper train? Udah penasaran banget gimana kesemutannya gue duduk di bangku kereta selama 12 jam? Udah penasaran banget sama orang-orang macam apa yang gue temuin di sleeper train? Udah penasaran banget sama larangan di sleeper train? Udah penasaran banget sama..... /plak Ini ditampar karena kelamaan.