Skip to main content

Pergi ke Luar Negeri Bukan Berarti Tidak Cinta Negeri Sendiri

Ngapain jauh-jauh ke luar negeri? Indonesia juga bagus.


Saya nggak tau untuk apa sebenarnya pertanyaan itu mereka lontarkan. Hanya ada dua kemungkinan yang bisa saya terka:

1. Mereka memang nasionalis.
2. Mereka hanya nyinyir.

Jika kemungkinan saya yang pertama itu benar, saya akan sangat bangga punya teman-teman yang mencintai negeri yang kaya akan kepingan-kepingan surga ini. Saya pun akan sangat bangga punya teman-teman yang giat mempromosikan destinasi-destinasi di Indonesia lewat media sosial mereka. Karena saya percaya bahwa mereka adalah tombak dari pariwisata Indonesia.

Namun, alangkahnya sedihnya jika kemungkinan saya yang kedua itu juga benar. Saya hanya tak habis pikir, memangnya ada yang salah dengan pergi ke luar negeri?

Pengalaman memang guru terbaik. Walau baru mengunjungi beberapa negara di Asia Tenggara, tetapi saya banyak mendapat pelajaran yang tak saya dapatkan di sini, di Indonesia.

Saya belajar dari warga Singapura tentang menghormati hak-hak orang-orang spesial di dalam transportasi umum. Kursi-kursi prioritas di dalam MRT akan tetap kosong kendati kondisi kereta penuh sesak. Kursi-kursi yang letaknya dekat dengan pintu itu tidak akan terisi jika tidak ada orang-orang yang berhak mendudukinya: wanita hamil, ibu membawa anak, manula, dan penyandang disabilitas.

Coba bandingkan dengan perilaku penumpang transportasi umum di ibukota. Memang tak semua, tetapi masih banyak yang abai terhadap himbauan memberikan kursi kepada orang-orang yang membutuhkan. Jangankan tetap dalam kondisi kosong saat kereta disesaki penumpang, saat sepi pun kursi itu tetap terisi meski yang mendudukinya bukan salah satu dari orang-orang yang diprioritaskan.

Saya belajar dari warga Malaysia bagaimana menghargai kenyamanan penumpang lain saat menggunakan transportasi umum. Caranya sangat sederhana, yaitu dengan tidak menciptakan kegaduhan. Jika ingin bersuara, bersuaralah dengan volume yang wajar. Yang paling penting, tidak membuat penumpang lain merasa tidak nyaman.

Saya belajar dari pemerintah Malaysia tentang pengemasan sebuah tempat biasa saja menjadi destinasi yang mampu mengundang banyak wisatawan. Salah satunya adalah Kuala Lumpur Tower atau yang akrab disebut KL Tower. Saya akui, tanpa melihat kebangsaan yang melekat di diri saya, saya akan lebih memilih Monas untuk saya kunjungi. Sebab ketika saya naik ke atas, interior atau pun fasilitas yang ditawarkan tidak lebih lebik daripada Monas.

Saya juga terkagum-kagum dengan kota kecil bernama Hat Yai di Thailand Selatan. Walau hanya berkunjung selama dua hari satu malam, sedetik pun hidung saya tidak disambut asap rokok. Padahal, cuaca, suhu dan polusi udaranya tidak jauh beda dengan Jakarta. Deretan pertokoan, lalu lintas yang cukup padat dengan debu yang berterbangan di jalan raya menjadi pemandangan yang mudah ditemui. Pasar malam yang khas dengan pasar rakyat di Indonesia pun juga mudah dijumpai di pinggir jalan protokol. Banyak hal yang kamu temui di Jakarta bisa kamu temui di Hat Yai, kecuali satu; asap rokok.

Bandingkan dengan Jakarta. Saat sedang berhenti di lampu merah saja hidung kamu berpotensi besar disambut asap rokok yang ternyata berasal dari pengendara motor lain di dekatmu. Di ruangan ber-AC sekarang tak ada batasan untuk orang-orang yang merokok. Bahkan, tak jarang di tempat di mana merokok dilarang pun masih ada yang berani merokok.

Tak usah jauh-jauh bicara soal toleransi antarumat beragama jika toleransi antarmanusia seperti kasus asap rokok di atas saja diabaikan.

Dari pengalaman-pengalaman di atas saya jadi percaya bahwa sistem pemerintahan dan fasilitas yang baik tak akan berjalan dengan lancar jika tidak didukung oleh mental masyarakatnya yang baik, tidak peduli negara tersebut berstatus maju ataupun berkembang.

Justru dengan mengunjungi negara lain dan memperhatikan perilaku masyarakat di sana, kita jadi tahu di mana level perilaku kita sendiri dan juga perilaku masyarakat di negara ini. Dan dari situ jugalah kita bisa tahu mana perilaku kita yang harus diperbaiki dan mana yang harus dipertahankan.

Seperti yang Bung Pram tulis dalam buku kedua seri Tetralogi Buru, Anak Semua Bangsa, bahwa tanpa mengenal bangsa-bangsa lain, kita tak dapat mengenal bangsa sendiri dengan lebih baik.


Cheers,

ユニタ

Comments

Popular posts from this blog

Mall-Mall yg Dapat Dijangkau Dengan Commuter Line

“Murah dan nggak macet.”
Ini adalah prinsip gue dalam memilih sarana transportasi umum di Jakarta. Ke mana pun dan sejauh apapun jaraknya, selama bisa dijangkau dengan Commuter Line, gue akan selalu siap walau dalam kondisi apapun termasuk jika keadaan memaksa gue untuk pergi seorang diri. Ke kantor, ke kampus, ke terminal, ke pasar, atau pun ke rumah temen, gue akan selalu mencari stasiun terdekat dari tempat yang ingin gue tuju.

Kenalan sama ISI 2012 Yuk!

Tak kenal maka tak sayang.
Sebelum gue lanjutkan cerita trip gue ke MY – THAI Day 2, alangkah baiknya kalian baca ini dulu.
Di MY – THAI Trip Day I pasti kalian bertanya-tanya, siapa sih ISI 2012 itu? Siapa sih para penyabun itu? Siapa sih tim cewek-cewek? Siapa sih Sir Gufron? Siapa sih yang ngendarain kereta monorailnya?
Nah di sini gue bakal ngenalin apa dan siapa ISI 2012.

MY – THAI Trip Day 2, Welcome to Hat Yai!

Hai!
Udah penasaran banget sama cerita MY – THAI Trip hari keduanya? Udah penasaran banget gimana tingkah gue naik sleeper train? Udah penasaran banget gimana kesemutannya gue duduk di bangku kereta selama 12 jam? Udah penasaran banget sama orang-orang macam apa yang gue temuin di sleeper train? Udah penasaran banget sama larangan di sleeper train? Udah penasaran banget sama..... /plak Ini ditampar karena kelamaan.