Apa yang Sudah Saya Lakukan Selama Dua Bulan Terakhir?


Percayalah. Kenyataan yang tertuang di dalam quote di atas adalah salah satu ketidakadilan di muka bumi ini. Dan percayalah, bagi kalian yang bukan termasuk golongan orang yang dimaksud quote di atas, pasti merasa iri dengan golongan orang-orang itu, bukan?

Oke. Kalian tidak sendiri karena saya juga pernah merasakannya.

I'm so jealous with those who can lose their weight just because they are under stress. And those who have fast metabolism, so they can eat twice as much as I do but never seem to gain any weight.

Saya adalah orang yang memiliki metabolisme buruk. Tubuh saya sangat lambat dalam memproses makanan yang saya makan menjadi energi, sehingga tidak jarang saya kerap dihantui sembelit. Entah ini disebabkan oleh bawaan gen atau memang pola hidup saya yang tidak sehat. Bahkan tak jarang saya bisa memenuhi panggilan alam di kamar mandi dalam waktu tiga hari sekali. Trust me, it hurts.

Saya juga termasuk tipe orang yang overeater ketika dilanda stres. Ketika orang-orang kehilangan nafsu makan mereka saat stres, saya malah kehilangan mood untuk melakukan apa pun kecuali makan. Jadi wajar sekali ketika saya stres, alih-alih jadi kurus, saya malah melampiaskannya dengan cara makan dan outcome-nya tentu saja berat badan saya naik.

Dengan segala latar belakang yang saya sebutkan di atas, rasanya memang manusiawi jika saya merasa iri dengan teman-teman yang terlihat tak bertambah gemuk walau makan banyak. Tapi setelah dipikirkan kembali, sepertinya saya juga tidak pantas jika terus menerus menjadikan fakta-fakta tentang kondisi saya di atas sebagai pembenaran atas rasa iri saya ini.

Well, let’s fix it!

Sebelum saya lanjutkan, saya ingin mengingatkan bahwa yang saya tulis di sini hanya cerita saya selama dua bulan terakhir yang ingin saya bagi. Barangkali teman-teman sekalian membutuhkan insight untuk hidup lebih sehat atau bahkan ingin menurunkan berat badan.

But, first thing that you have to know about the latest 2 months, I did not do diet. Seriously. 

(kiri: 56 kg, kanan: 50kg)

Saya tidak bisa melakukan diet. Sejujurnya saya pernah melakukan berbagai program diet. Tapi yang ada saya malah sakit dan sembelit saya malah makin menjadi-jadi. Akhirnya saya tidak mau lagi membiarkan diri saya kelaparan dan tersiksa.

Jadi apa yang telah saya lakukan?


Pahami Kondisi Tubuh Sendiri



Sebelum menentukan langkah apa yang sebaiknya dilakukan, saya mencoba memahami kondisi tubuh saya sendiri. Seperti yang saya sebutkan di atas sebelumnya tentang kondisi saya, saya mulai mencari tahu solusi untuk menangani atau setidaknya meminimalisir keluhan saya seperti bagaimana cara membuat metabolisme tubuh saya membaik dan menghindari diri dari stres.


Cari Motivasi Kuat



Sebelum saya mulai, saya mencoba mencari motivasi kuat yang bisa membuat saya keep going melakukan program ini. Yang bisa buat saya susah menyerah walau dikelilingi orang-orang yang tidak sepaham dan memiliki tujuan yang berbeda.

Nah, kalau boleh jujur, motivasi saya selama dua bulan terakhir ini adalah “I want to wear what I want, not what I can.”


Eat Better, Not Less



Saya tipe orang yang selalu lapar dan bahkan bisa makan bagaikan monster ketika dihadapkan dengan makanan favorit. Jadi, saya mencari cara bagaimana saya bisa tidak merasa kelaparan tapi juga tidak membuat berat badan saya mudah naik. Alih-alih makan sedikit, saya akhirnya memilih makanan lebih sehat.

Saya menerapkan MEAL PLAN

Apa itu MEAL PLAN?

MEAL PLAN ini bukan diet, melainkan cara mengatur pola makan dengan gizi seimbang. Saya biasa makan 3 kali dan ngemil 3 kali. Cara ini ternyata menjadi cara efektif for boosting my metabolism. Metabolisme saya membaik dan saya tidak sembelit lagi.

Menu apa yang biasa saya makan?

Saya tidak suka monoton, jadi saya tidak terlalu ketat menetapkan menu makanan saya setiap harinya. Saya suka melakukan eksperimen mengenai makanan yang saya makan, contohnya adalah menu sarapan. Ketika saya harus jogging, rupanya menu sarapan yang cocok untuk saya adalah satu lembar roti gandum dengan selai kacang. Sebab, saya merasa lebih berenergi ketika mengonsumi menu sarapan tersebut.

Darimana saya tahu makanan yang saya konsumsi adalah makanan yang sehat dan tepat?

Yang jadi concern saya selama satu bulan terakhir ini, makanan yang saya makan setiap harinya harus mengandung karbohidrat, lemak, dan protein, sesuai dengan makronutrien yang dibutuhkan tubuh. 

Lalu, apakah saya tetap makan nasi?

Jawabannya, ya. Saya masih orang Indonesia kok, jadi saya tetap makan nasi. Tapi, back to the point, walau tak selalu, saya mengusahakan untuk makan nasi merah. Tidak jarang juga saya makan nasi putih seperti biasa.

Kapan biasanya saya makan nasi?

Saya bisa memasukkan nasi ke dalam menu makan siang saya. Tapi tidak jarang juga masuk ke dalam makan malam saya. Hanya saja, porsinya saya kurangi.


Olahraga Teratur



Selain makan makanan yang lebih baik, saya juga mulai berkomitmen untuk melakukan olahraga rutin.

----"Saya mau olahraga, cuma nggak punya uang, teman dan waktu buat ke gym atau ikut sanggar senam."----

Saya salalu keep in mind bahwa olahraga tidak selalu mahal dan tidak selalu harus di gym. Saya memilih jogging dan melakukan beberapa gerakan workout yang bisa saya lakukan di rumah tanpa membutuhkan alat fitness apa pun.

If you do not know how to start it and what should you do, tidak usah khawatir, kamu tinggal cari di google gerakan workout apa yang kamu mau dan, tada.. kamu sudah bisa melakukannya di rumah atau di tempat yang kamu sukai.


Meningkatkan Activity Level



Cara ini saya lakukan khususnya ketika saya sedang ingin makan makanan favorit saya seperti martabak, kerupuk, bahkan gorengan. Ketika saya biasa berangkat kerja bareng bapak atau naik ojek, saya memilih untuk naik kereta dan transjakarta. Sebab dengan naik kedua moda transportasi tersebut, saya dipaksa untuk berjalan kaki sejauh 2 km. Atau jika sudah di kantor, saya sengaja ikut teman kantor beli makan siang ke luar atau setidaknya jajan-jajan cantik ke minimarket.


Pasang Aplikasi Kesehatan dan Workout di Smartphone



Kadang saya merasa saya butuh trainer untuk workout atau setidaknya nutrisionis yang bisa mendampingi saya dalam mengonsumsi makanan setiap harinya. Tapi karena keterbatasan biaya, akhirnya saya mencari jalan keluar lain yang lebih ekonomis dan saya memutuskan untuk memaksimalkan aplikasi kesehatan yang sudah terpasang otomatis di smartphone saya.

Kebetulan sekali aplikasi yang saya gunakan sangat membatu dan detail. Di dalamnya saya bisa menghitung sejauh mana langkah yang sudah saya lakukan, sebanyak apa kalori yang masuk ke dalam tubuh saya, seseimbang apa nutrisi pada makanan yang saya makan, dan aktivitas level apa yang sudah saya lakukan.


Tentunya ini sangat membantu saya. Terutama dalam memantau nutrisi pada makanan saya dan menentukan makanan apa lagi yang harus saya makan untuk menyeimbangan nutrisi. Seperti ketika sore hari indikator nutrisi menunjukkan bahwa konsumsi karbohidrat saya terlalu tinggi, maka saya memutuskan makan ayam atau telur untuk menu makan malam saya. Dengan begitu, asupan protein harian saya bisa terpenuhi dengan baik.


Untuk aplikasi workout, biasanya saya pasang untuk memandu saya melakukan gerakan workout. Jadi tidak usah lagi googling atau buka youtube. Jadi, bisa hemat kuota. :P


Memilih Minuman Kemasan



Jika saya bisa beberapa kali saya bisa cheating dari poin eat better, not less dan bolos olahraga, untuk poin ini saya sangat ketat. Selama dua bulan terakhir, saya benar-benar membatasi diri saya untuk mengonsumsi minuman kemasan.

Kenapa?

Karena saya menghindari asupan gula berlebih (terutama gula buatan) yang terkandung di dalam minuman kemasan. Minuman kemasan yang saya konsumsi sejauh ini hanya air mineral, yakult, dan susu kotak. Sisanya, no.

Nah, itu adalah langkah-langkah yang saya lakukan selama dua bulan terakhir ini. Selama dua bulan terakhir ini juga, saya kerap merasakan semangat saya pasang surut. Apalaagi ketika saya berada di lingkungan yang skeptis terhadap pola hidup yang sedang saya jalankan. Tapi Alhamdulillah, saya survive walaupun kenyataannya dying (LOL). Btw ini kenyataan, lho.

Maka dari itu, in the next article, saya ingin membagi tips bagaimana tetap konsisten menjalankan poin-poin ini. So, stay tuned ya!

Halfway to Break My Limit


56 KG vs 50 KG

It's quite slow but it's okay. At least I'm halfway there.

Things that you should know about my transformation: